Education
to The Next Level

Memilih sekolah yang tepat untuk Si Kecil tak melulu soal mempertimbangkan usia, biaya, atau pun reputasi sekolah. Banyak hal yang perlu Moms persiapkan agar Si Kecil (juga Moms dan Dads!) nyaman dan merasa aman dengan sekolah yang dipilih. Ribet? Enggak juga, kok. M&B telah menyusun sejumlah hal yang kerap menjadi pertanyaan para orang tua seputar menyekolahkan anak, dan tentu, jawabannya!

Oleh: Tiffany Warrantyasri & Wieta Rachmatia/ND

Memastikan masa depan Si Kecil cerah dan gemilang, tentu menjadi fokus utama para orang tua. Salah satu bekal yang bisa diberikan adalah melalui pendidikan terbaik sejak dini. Mulai dari PAUD atau pendidikan anak usia dini, sampai kelak anak meraih pendidikan di perguruan tinggi. Pendidikan terbaik tak hanya mencerdaskan anak, tetapi juga membentuk karakter dan pola pikir anak agar siap mengarungi kehidupannya saat dewasa kelak.

  Sayangnya, memilih pendidikan terbaik untuk Si Kecil memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Orang tua perlu mengenal tanda anak siap sekolah, mempersiapkan dana pendidikan, hingga memilih sekolah yang paling cocok dengan anak. Mengerti akan kesulitan tersebut, M&B menghadirkan artikel ini yang sarat akan info-info penting seputar pendidikan anak. M&B juga telah bertanyaan pada Najeela Shihab, tokoh pendidikan Indonesia dan Founder Sekolah Cikal. Jangan lupa baca juga tips mempersiapkan dana pendidikan anak dari Prita Hapsari Ghozie (CEO & Principal Consultant ZAP Finance). Bagi Moms yang sedang mencari sekolah swasta di area Jabodetabek, simak school directory di akhir artikel, ya.

“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.”
(Nelson Mandela)


Si Kecil Sudah Siap Bersekolah atau Belum, Ya?

Banyak orang tua yang begitu bersemangat memasukkan anaknya ke sekolah. Namun pertanyaan yang tak kalah penting, apakah sang buah hati sudah siap untuk bersekolah?

  Tidak sedikit orang tua hanya berfokus pada kesiapan ‘akademis’ saat memutuskan untuk menyekolahkannya. Dengan kata lain, orang tua hanya memikirkan apakah anak sudah bisa memegang pensil dengan benar, menggambar, membaca, dan menulis.

  Padahal yang dimaksud dengan kesiapan Si Kecil untuk sekolah bukan melulu soal skill dalam belajar, melainkan juga siap secara mental. Menurut situs Guardian Childcare & Education, secara umum ada beberapa hal yang perlu dikuasai anak sebelum ia mulai bersekolah.

  1. Kemampuan untuk berpisah dari orang tua atau orang terdekat yang mengasuhnya sehari-hari.
  2. Memperlihatkan kepercayaan diri secara fisik dan rasa bangga atas diri sendiri.
  3. Bisa berkomunikasi secara jelas dan menjalin pertemanan.
  4. Memiliki rasa tanggung jawab atas diri sendiri, orang lain, serta barang-barang milik pribadi.
  5. Mampu beradaptasi dan menerima adanya perubahan.
  6. Memperlihatkan sikap resiliensi atau kemampuan untuk menghadapi berbagai masalah yang mungkin dihadapi.

Kesiapan dua arah

Sementara itu, menurut Najeela Shihab selaku salah satu tokoh pendidikan di Indonesia, sesungguhnya anak sudah bisa menerima pendidikan sejak usia sangat dini. Namun menyinggung soal kesiapan, bukan hanya bergantung pada anak itu sendiri.

  “Kalau berbicara soal siap atau tidak, sebenarnya anak berusia enam bulan pun sudah siap menerima pendidikan, misalnya di daycare atau mengikuti kelas-kelas tertentu. Namun yang harus diingat, kesiapan itu harus berjalan dua arah. Banyak orang tua yang bertanya ‘Anak saya empat tahun sudah siap TK apa enggak, ya?’ atau ‘Dia enam tahun sudah siap masuk SD atau harus menunggu hingga 7 tahun?’. Nah, balik lagi ke sekolahnya, seperti apa? Karena kesiapan itu bukan hanya dari anak,” kata Najeela.

  “Tadi soal 6 tahun apakah sudah bisa masuk SD? SD-nya seperti apa? Apakah SD-nya mewajibkan anak untuk duduk secara terus-menerus dan drilling membaca? Ya, mungkin anaknya tidak akan siap jika sudah harus bersekolah mulai usia 6 tahun. Tapi yang salah ya bukan anaknya, melainkan sistem sekolahnya,” lanjutnya.

Perhatikan tahap perkembangan anak

Wanita yang akrab disapa ibu Ela ini juga mengingatkan bahwa kesiapan anak sekolah, khususnya preschool atau SD, kembali kepada tahap perkembangan anak itu sendiri. “Jadi, memang ada milestone-milestone di tahap perkembangan anak yang menunjukkan bahwa sebenarnya anak itu sudah siap berinteraksi dalam konteks yang lebih luas, dalam setting yang klasikal, dan dalam situasi yang terdapat banyak anak. Misalnya, kalau anak mau masuk SD, apakah dia sudah bisa ke toilet sendiri atau tidak? Apakah dia sudah cukup mandiri, seperti makan atau membersihkan diri sendiri? Hal seperti ini penting karena untuk bersekolah di SD dengan banyak temannya, rasanya akan sulit jika anak masih membutuhkan bantuan semacam itu. Hal-hal lain seperti apakah anak bisa memperkenalkan diri, bisa masuk ke kelompok teman baru, mengekspresikan emosi dengan baik juga perlu dilihat karena di setting yang baru mungkin ada potensi konflik,” jelas Najeela.

  Dan faktor yang tak kalah penting adalah rentang konsentrasi anak, apakah cukup atau tidak karena durasi sekolah di SD cukup lama. Bagi anak yang akan bersekolah di Sekolah Dasar, setidaknya harus bisa berkonsentrasi penuh selama 10 menit. Misalnya, anak bisa mengerjakan tugas selama 10 menit lalu ada transition games.

  “Memang kita lebih banyak melihat aspek kesiapan dari perkembangan dan kemampuan komunikasinya secara bahasa, lalu kemampuan kognitifnya, serta physical endurance-nya. Jadi sesungguhnya bisa baca dan bisa tulis tuh, tidak ada dalam daftar check list kesiapan sekolah untuk anak yang mau masuk kelas 1 SD,” kata Najeela.

Kapan anak sebaiknya mulai bersekolah?

Moms mungkin pernah melihat sejumlah selebritas menyekolahkan buah hatinya sejak masih bayi. Atau mungkin ada teman dan saudara yang justru memilih hanya menyekolahkan anak satu tahun di Taman Kanak-kanak sebelum masuk ke Sekolah Dasar. Lantas pertanyaannya, kapan sih waktu yang tepat untuk menyekolahkan anak? Apakah sedini mungkin atau justru nanti-nanti saja?

  Pada dasarnya, keputusan anak untuk bersekolah akan berbeda bagi setiap orang tua. Pasalnya, masing-masing Moms dan Dads tentu menyadari bahwa kebutuhan Si Kecil akan ‘pendidikan’ akan berbeda antara satu anak dengan yang lain.

  “Kalau berbicara soal kapan anak seharusnya mendapat pendidikan, ya jawabannya sejak dia belum lahir dengan cara kita mengajaknya berbicara dan interaksi positif lainnya. Kalau kapan disekolahkan? Saya pribadi selalu beranggapan bahwa sekolah adalah sebuah pilihan,” ungkap Najeela Shihab.

  Menurutnya, anak memang harus belajar dan harus mendapat lingkungan yang mendukung. Anak perlu mendapatkan stimulasi yang tepat seiring dengan tahap perkembangannya. Tapi semua tergantung kepada orang tua.

  “Kalau memang kita merasa, anak kita berusia 6 bulan dan membutuhkan stimulasi lebih, membutuhkan lingkungan yang lebih kaya daripada lingkungan rumah maka ada banyak pilihan, misalnya sering mengadakan playdate, mau memasukkan ke preschool, atau mau membeli banyak resource untuk belajar dan lain sebagainya. Sebagian orang tua yang lain bisa saja merasa cukup karena ada banyak orang dewasa di rumah atau bisa bermain dengan tetangga sehingga tak perlu memasukkan anaknya ke preschool,” ujar Najeela.

  “Namun di kota-kota besar seperti Jakarta di mana orang tua punya peran lain, seperti ibunya berkarier, maka diperlukan bantuan profesional dalam menstimulasi,” imbuhnya.

  Jadi Moms, sebelum memutuskan untuk menyekolahkan Si Kecil, sebaiknya diperhatikan terlebih dulu apakah dia perlu stimulasi ekstra atau tidak. Apa pun keputusan Moms, tak perlu membandingkannya dengan Moms lain karena kebutuhan masing-masing anak tentunya berbeda.

Pertimbangkan ini saat menyekolahkan Si Kecil!

Menurut Najeela Shihab, pilihan sekolah juga perlu sejalan dengan tujuan dari pola asuh orang tua terhadap anak. Jangan memilih sekolah berdasarkan “kata orang”, melainkan perlu melihat sendiri.

  “Pertama, orang tua harus mempertimbangkan tujuan dari pengasuhannya. Pendidikan bukan hanya soal sekolah, tapi sebenarnya bagaimana anak-anak kita tumbuh dan punya kompetensi-kompetensi yang mempersiapkan dia untuk masa depannya. Namun kompetensi-kompetensi tersebut tidak hanya tumbuh di setting sekolah dengan struktur kurikulum yang formal, melainkan lebih banyak dari interaksi bersama orang tuanya. Jadi yang harus tercapai adalah tujuan pengasuhan orang tuanya karena ini adalah sekolah yang pertama dan utama,” kata Najeela.

  “Ketika orang tua sudah jelas tentang apa yang diinginkan dan bagaimana lingkungan sekolah yang diinginkan untuk anaknya, maka orang tua bisa mencari sekolah yang memiliki visi dan misi yang sejalan dengan pengasuhan mereka. Sekolah yang terbaik adalah sekolah yang memang cocok dengan anak,” imbuhnya.

Mengenal Lebih Dalam Sistem Pendidikan Anak

Saat memilih sekolah untuk Si Kecil, penerapan jenis kurikulum dan akreditasi tentu menjadi salah satu pertimbangan para orang tua. Saat ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) meluncurkan Kurikulum Merdeka yang mulai diterapkan pada Tahun Ajaran 2022/2023. Karakteristik Kurikulum Merdeka adalah pengembangan soft skills dan karakter, fokus pada materi esensial, dan pembelajaran yang fleksibel.

  Nah, bicara soal kurikulum, Moms dan Dads mungkin sering bingung dibuatnya, karena begitu banyak istilah pendidikan nasional dan internasional yang sulit dibedakan. Ada kurikulum, akreditasi, ujian. Contoh kurikulum dan akreditasi internasional yang sering kita dengar adalah IB, Montessori, Cambridge, Waldorf, Reggio Emilia, dan masih banyak lagi kurikulum atau pendekatan belajar lainnya. Apa sih, bedanya dengan Kurikulum Merdeka?

  “Kalau sistem pendidikan di Indonesia menurut Undang-Undang hanya ada satu sistem nasional. Jadi kurikulumnya sekarang Kurikulum Merdeka, ini sudah diluncurkan tapi memang masih dalam periode transisi. Masih ada sekolah yang pakai kurikulum 2013 dan ada yang sudah pakai Kurikulum Merdeka. Penerapannya masih bertahap sesuai kesediaan sekolah, tapi 2024 nanti akan diresmikan,” jelas Najeela Shihab, tokoh pendidikan Indonesia sekaligus pendiri Sekolah Cikal dan Kampus Guru Cikal.

  Untuk mengenal lebih baik jenis-jenis kurikulum dan akreditasi yang sering diterapkan di sekolah Si Kecil, M&B telah bertanya pada Najeela. Yuk, mengerti lebih dalam mengenai jenis-jenis kurikulum yang sering diterapkan di sekolah-sekolah swasta.

IB (International Baccalaureate)

Berdasarkan penjelasan Najeela Shihab, IB adalah akreditasi pendidikan. Akreditasi itu enggak ada konten kurikulumnya. Kalau IB itu punya sistem yang berbeda untuk masing-masing jenjang, jadi kalau PYP (Primary Years Programme) dan MYP (Middle Years Programme) itu sifatnya akreditasi saja. Ada proses-proses yang dilakukan oleh IB untuk kemudian melihat apakah sekolah-sekolah yang mendaftar akreditasi IB itu memenuhi kriterianya.

  IB itu punya kurikulum yang ada asesmennya, tapi itu hanya ada sampai level DP (Diploma Programme) jadi hanya sampai kelas 11 dan 12. Kalau di IB, yang mungkin paling mirip dengan definisi kurikulum itu sebenarnya DP karena ada yang wajib diajarkan (ada konten kurikulum), lalu kemudian ada ujian akhirnya di kelas 12 untuk anak-anak bisa lulus dari program DP di IB. Kalau program PYP dan MYP ibaratnya hanya diberi kerangkanya, sedangkan isi kurikulumnya berbeda-beda antar sekolah karena sifatnya akreditasi internasional.

Cambridge

Najeela Shihab menjelaskan, ini berbeda dengan IB yang merupakan akreditasi, Cambridge hanya sebuah asesmen. Jadi enggak perlu sekolah di sekolah Cambridge untuk ikut ujian Cambridge. Jadi ini mungkin lebih mirip dengan TOEFL, di mana semua orang bisa ikut ujian itu. Cambridge adalah ujian internasional. Jadi ada kurikulum internasional, akreditasi internasional, dan ujian internasional (salah satunya Cambridge), dan semua itu hal yang berbeda.

  Sekolah yang menggunakan ujian Cambridge umumnya mengajak anak untuk memiliki pandangan internasional, fasih berbahasa Inggris, metode pendidikannya modern, dan anak menjadi lebih berpeluang untuk melanjutkan pendidikan di universitas terbaik dunia.

Montessori

Ini adalah sebuah pendekatan pendidikan, bukan kurikulum atau ujian internasional. “Jadi bisa saja sekolahnya IB, pakai PYP, kurikulum sendiri, murid bisa ikut ujian Cambridge, pendekatannya Montessori,” ujar Najeela. Montessori hanya diterapkan di jenjang pendidikan prasekolah dan sekolah dasar karena objektivitasnya adalah pengembangan karakter, sikap, dan kemampuan penyesuaian diri. Nilai yang tinggi bukan hal yang ditekankan pada metode Montessori, melainkan lebih mengajak anak untuk mampu berpikir kritis. Montessori lebih menyenangkan bagi kebanyakan anak, karena tidak semua pelajaran dipelajari, mereka bisa bebas memilih pelajaran yang disukai.

SPC (Singaporean Primary School Curriculum)

Diadaptasi dari Singapura, ini adalah silabus yang fokus pada 3 aspek: Subject-based learning, pengembangan karakter, dan knowledge skills. Murid akan fokus belajar di sekolah dasar: Bahasa Inggris, matematika, sains, seni, musik, edukasi fisik, studi sosial, mother tongue language (MTL), dan pendidikan karakter. Tingkat pendidikan SPC mulai dari pendidikan usia dini, tingkat pendidikan dasar, dan tingkat pendidikan menengah. Kurikulum ini mengoptimalkan potensi yang ada pada tiap anak, sehingga bisa berkembang dengan baik sesuai bakat dan minatnya, juga mampu bersaing secara internasional.

IPC (International Primary Curriculum)

Kurikulum ini fokus mempersiapkan anak untuk bersaing di era globalisasi, sangat student-centered, dan fokus pada pembentukan pribadi dan karakter. IPC ini dibagi menjadi 3 rentang usia yang disebut Mileposts, terdiri dari:
Milepost one: 5-7 tahun
Milepost two: 8-9 tahun
Milepost three: 10-12 tahun


Pada prinsipnya, itu tidak melanggar aturan bahwa memang ada sistem pendidikan nasional, jadi kurikulum 2013 pun ada perubahan-perubahan yang harus dilakukan untuk mengikuti Kurikulum Merdeka. Kurikulum itu bukan cuma text book-nya atau sekadar nama kurikulum, bahkan sistem asesmen pun merupakan bagian dari kurikulum. Jadi kita punya satu sistem asesmen nasional yang menggantikan satu sistem ujian nasional. Kalau ada sekolah yang pakai sistem kurikulum dari luar negeri, atau pakai akreditasi dari luar negeri, itu pun wajib pakai kurikulum dari Indonesia. Sebagian besar kurikulum atau akreditasi itu sifatnya hanya melengkapi kurikulum nasional, karena kurikulum nasional (seperti Kurikulum Merdeka) itu sebenarnya hanya kurikulum minimum, maka di asesmen nasional pun namanya Asesmen Kompetensi Minimum, karena tugas negara adalah memastikan hal-hal yang minimum itu terpenuhi.

“ Sekolah terbaik adalah sekolah yang paling cocok dengan anak Anda.”


7 Tips untuk Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak

Sebagai orang tua, mempersiapkan segala yang terbaik bagi Si Kecil tentu menjadi hal utama. Tidak cuma memberikan nutrisi, stimulasi, dan kasih sayang terbaik, Moms dan Dads juga tentu berusaha memberikan pendidikan terbaik untuk buah hati tercinta. Kebutuhan akan pendidikan terbaik ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas diri anak, sehingga masa depan dan kesejahteraan hidupnya kelak pun lebih terjamin.

  Untuk mendapatkan pendidikan terbaik, Moms pasti ingin Si Kecil mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Pendidikan yang dimaksud pun tak hanya pendidikan formal di sekolah saja, tetapi juga di berbagai tempat kursus yang bisa mengoptimalkan minat dan bakatnya.

  Niat besar itu, tentunya harus diiringi dengan persiapan dana yang besar juga. Terlebih, Prita Hapsari Ghozie (CEO & Principal Consultant ZAP Finance) menyebutkan, “Kenaikan biaya pendidikan bisa jadi lebih tinggi dari inflasi bahan kebutuhan pokok.” Nah, menyadari akan pentingnya persiapan dana pendidikan, yuk simak beberapa tips ampuh mempersiapkan dana pendidikan menurut Prita Ghozie.

1. Pilih sekolah sesuai kemampuan

Sekolah swasta memang kerap menawarkan fasilitas dan program pendidikan yang menarik. Sayangnya, iuran bulanan atau SPP sekolah swasta memang cukup mencekik leher. Haruskah orang tua memaksakan diri untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah swasta yang mahal? Jawabannya: Tentu tidak.

  Prita Ghozie menyarankan uang sekolah maksimal 10% dari pendapatan per bulan. Ini berlaku untuk biaya semua anak digabung lho, Moms. Entah anak Anda hanya 1 atau lebih, sebaiknya uang sekolah anak hanya 10% dari pendapatan.

  Ciri lain dari memilih sekolah sesuai kemampuan finansial orang tua adalah Anda mampu untuk bayar SPP untuk setahun ke depan, dan dana uang pangkal sudah siap sejak 6 bulan sebelum penerimaan.

2. Usahakan 10% penghasilan

Mempersiapkan dana pendidikan memang harus dilakukan sedini mungkin, bahkan sejak anak masih di dalam kandungan. Berapa persen dari penghasilan yang harus disisihkan untuk persiapan dana pendidikan anak? Menurut Prita, bagi orang tua yang anaknya belum sekolah (maka belum ada iuran bulanan), maka sebaiknya coba sisihkan 10% dari penghasilan per bulan. Jika tidak memungkinkan, sisihkan 5% juga sudah baik, atau setidaknya sisihkan sebisanya.

3. Siapkan sejak Agustus

Menurut Prita, kebanyakan sekolah swasta sudah rampung penerimaan di bulan Maret (atau bahkan ada yang di bulan Desember). “Itu sebabnya lebih aman dana untuk uang pangkal dan 3 bulan pertama SPP sudah siap sejak bulan Agustus,” jelas Prita. Sedangkan untuk anak yang hendak kuliah, akan lebih ideal jika dana pendidikan untuk seluruh jenjang kuliah sudah terkumpul sejak 6 bulan sebelum lulus SMA. Prinsipnya, semakin cepat dana terkumpul, maka strategi pilihan sekolah juga jadi lebih terarah.

4. Fokus pada uang pangkal

Mungkin Moms dan Dads masih bingung: Mempersiapkan dana pendidikan itu hanya sampai uang pangkal saja atau termasuk biaya daftar ulang per tahun, ya? Menurut Prita, jika orang tua berprofesi sebagai karyawan dengan gaji tetap per bulan, maka sebaiknya fokus saja pada uang pangkal (biaya sekolah bulanan dapat dialokasikan dari penghasilan bulanan). Sedangkan jika profesi orang tua tidak bergaji tetap, maka usahakan untuk mempersiapkan uang pangkal dan biaya sekolah bulanan juga.

5. Buat prioritas perencanaan dana pendidikan anak

Mempersiapkan sebaik mungkin, bukan berarti mempersiapkan sebanyak mungkin. Ingat, pemasukan bulanan Anda juga harus dibagi dengan pos keuangan lainnya. Nah, untuk pos persiapan dana pendidikan, Prita menyarankan Moms dan Dads untuk fokus memenuhi kebutuhan biaya pendaftaran, biaya tes, dan uang pangkal. Sedangkan iuran bulanan sekolah atau SPP bisa dibayarkan dari penghasilan bulanan. Jangan lupa, usahakan biaya iuran ini tidak lebih dari 10% penghasilan bulanan, ya.

6. Perhatikan jangka waktu

Menurut Prita, pemilih jenis investasi untuk perencanaan dana pendidikan anak seringkali salah karena tidak memikirkan jangka waktu. Padahal, setiap investasi memiliki imbal hasil yang berbeda-beda sesuai jangka waktu. “Kesalahan yang sering terjadi adalah instrumen investasi yang seharusnya diperuntukkan bagi investasi jangka pendek ternyata ditujukan untuk kebutuhan jangka panjang. Sebaliknya, karena merasa kepepet untuk tujuan jangka pendek, orang tua memilih investasi yang sangat agresif,” jelas Prita. Kalau sudah begini kejadiannya, imbal hasil bisa jadi tidak maksimal atau tidak mendekati target lho, Moms.

  Sebagai contoh, untuk investasi persiapan dana pendidikan jangka pendek (seperti playgroup dan TK) pilihlah investasi yang minim risiko, walau imbal hasilnya mungkin lebih rendah. Sedangkan untuk persiapan dana pendidikan jangka panjang, coba pilih investasi yang mungkin lebih berisiko tetapi imbal hasilnya lebih besar. Ingat, semakin dini persiapan dana pendidikan anak, maka semakin kecil pula dana investasi yang dibutuhkan.

7. Pilih investasi yang tepat

Dalam mempersiapkan dana pendidikan, Prita menyebutkan kalau setiap jenjang pendidikan membutuhkan instrumen investasi yang berbeda. Untuk persiapan dana pendidikan yang jangka waktunya pendek (seperti playgroup dan TK), maka pilihlah investasi dengan risiko rendah seperti tabungan pendidikan atau reksa dana pasar uang.

  Untuk uang pangkal masuk SD, Moms bisa coba investasi logam mulia atau reksa dana campuran bagi orang tua yang mengerti pasar modal. Sedangkan untuk mempersiapkan dana pendidikan SMP hingga kuliah, Moms bisa coba berinvestasi di reksa dana agresif atau saham. Walau investasi ini tergolong risiko tinggi, tetapi berpotensi imbal hasil setidaknya 10% per tahun.


“Ingat, semakin dini persiapan dana pendidikan anak, maka semakin kecil pula dana investasi yang dibutuhkan.”



Si Kecil Siap Sekolah. Yuk, Siapkan Amunisinya!

Wah, Si Kecil sudah siap bersekolah, nih. Bukan hanya memberikan semangat, tapi Moms juga perlu mempersiapkan ‘amunisi’ agar Si Kecil bisa kuat menjalani berbagai aktivitas seru di sekolah.

Wajib sarapan!

Moms mungkin pernah mendengar istilah “breakfast is the most important meal of the day”. Ya, sarapan dianggap sebagai makanan paling penting dalam sehari dan hal itu bukan tanpa alasan.

  Saat tidur pada malam hari, tubuh tidak mendapat asupan nutrisi selama 10 hingga 12 jam. Nah sarapan akan mengisi kembali tubuh dengan nutrisi dan energi, serta mengembalikan kadar glikogen guna menjaga metabolisme sepanjang hari.

  Tahukah, Moms? Sebuah penelitian menemukan fakta bahwa seseorang yang terbiasa sarapan pada pagi hari akan lebih aktif secara fisik sepanjang hari. Jadi jangan lupa siapkan sarapan bergizi untuk Si Kecil agar ia memiliki energi untuk menjalankan berbagai aktivitas di sekolah.

Jangan lupa bekal

Membawa bekal dari rumah tentunya adalah opsi terbaik untuk Si Kecil. Dengan begitu, Moms bisa memastikan makanan yang dikonsumsi anak sudah memenuhi kebutuhan gizinya dan tentu lebih higienis.

  Agar Si Kecil semakin bersemangat menyantap bekalnya, Moms bisa membuat makanan ala bento dengan bentuk yang menarik dan lucu. Pilih juga tempat makan dengan desain lucu, berwarna-warni, dan pastinya antibocor, dong. Sekarang sudah banyak lho, produk tempat makan dengan desain menarik seperti, Smiggle, LocknLock, Tupperware, hingga Yumbox.

Dukung dengan suplemen

Butuh asupan nutrisi ekstra untuk Si Kecil? Moms bisa memilih berbagai jenis suplemen sesuai dengan kebutuhan anak. Namun sebelum memberikan suplemen kepada Si Kecil, jangan lupa untuk memeriksa kandungan dan dosisnya, dan pastinya berkonsultasi dengan dokter. Berikut adalah beberapa suplemen yang bisa Moms pilih.


Rekomendasi: Satu Sekolah, Berbagai Jenjang Pendidikan!

Moms sudah memutuskan hendak mendaftarkan Si Kecil ke sekolah mana? Atau masih bingung? Ya, mencari sekolah yang tepat untuk Si Kecil–mulai dari preschool hingga SMA, bahkan kuliah–memang bukan perkara mudah. Tapi, jika Moms mencari satu sekolah (dengan kurikulum dan fasilitas yang tak perlu diragukan!) yang memiliki berbagai jenjang pendidikan sekaligus, M&B punya rekomendasinya!





© 2023 Motherandbeyond