- Joseph Pilates

Pilates bukan sekadar menggerakkan tubuh. Pilates memiliki manfaat menyembuhkan dan memulihkan. Hal inilah yang dirasakan celebrity Mom, Shandy Aulia (37), sejak menekuni jenis latihan fisik yang berfokus dalam menciptakan kekuatan fisik melalui keseimbangan otot-otot tubuh dan pola neoromuskular tersebut.
Berawal dari usaha Shandy untuk mengatasi backpain dan skoliosis, aktris yang terkenal melalui film Eiffel I’m in Love ini justru jatuh cinta terhadap pilates. Dan kini Shandy ingin semua orang bisa merasakan betapa besar manfaat pilates melalui Shalia Pilates.
Shalia Pilates dan Shalia: The Contour Club, merupakan dua bisnis terbaru yang tengah dikembangkan oleh Shandy Aulia. Ibu dari Claire Herbowo (5) tersebut berharap kedua wellness center miliknya bisa membuat wanita di Indonesia lebih aware terhadap diri masing-masing sehingga bisa mencapai body goal.
Mau tahu soal bisnis terbaru Shandy dan kesibukannya saat ini? Simak wawancara eksklusif Mother & Beyond bersama Shandy Aulia berikut ini, Moms!

Saat ini, tentu saja fokus membesarkan anak saya, Claire, yang baru berusia 5 tahun. Dia semakin cerewet, semakin pintar juga akalnya sampai Mommy terkadang kehabisan akal. Jadi Claire menjadi prioritas. Saya benar-benar dedicate waktu untuk fokus terhadap tumbuh kembang Claire. Untuk itu, saya mengurangi jadwal syuting.
Di sisi lain, saya juga tengah membangun bisnis baru saya. Sebelumnya, saya sudah memiliki clothing line atau konveksi yang sudah berjalan sejak 2006. Lalu, kami juga bergerak di bidang skincare dan kosmetik, SA Naturel, yang sudah berjalan hampir delapan tahun.
Selain itu, saya memiliki Miss Claire Jewelry yang special untuk kids and baby. Sedangkan setahun terakhir, saya mencoba mengembangkan wellness center, yaitu Shalia Pilates Studio dan Shalia: The Contour Club.
Berawal dari benefit yang saya rasakan untuk contour. Saya ingin memperkenalkan lebih banyak tentang holistic treatment yang basic-nya adalah lymphatic drainage massage. Tapi tidak hanya lymphatic, kami juga memadukan dengan mesin-mesin yang memang menjadi bagian untuk memaksimalkan hasil dari body contour kita.
Sedangkan untuk Shalia Pilates, saya sudah menekuni pilates hampir delapan tahun. Saya ingin memiliki studio pilates yang memang saya dedicate secara pribadi untuk mereka yang mau mengenal pilates atau mereka yang sudah into di dunia pilates.
Of course! Pilates memang merupakan bagian dari self-aware saya. Dengan pilates saya bisa lebih mengenal tubuh saya. Apa yang menjadi kekurangan di tubuh saya, maka setiap hari saya latih dengan kesabaran dan step by step. It’s very helpful.

“Dengan pilates saya bisa lebih mengenal tubuh saya. Apa yang menjadi kekurangan di tubuh saya, maka setiap hari saya latih dengan kesabaran dan step by step. It’s very helpful.”

Hampir delapan tahun. Berawal dari memiliki masalah backpain dan skoliosis, hingga akhirnya pilates menjadi bagian kebutuhan. Dalam seminggu, saya melakukan pilates tidak hanya fokus pada pembentukan tubuh, tapi juga untuk memperbaiki otot-otot dalam saya.
Ya. Sebelumnya saya juga suka nge-gym. Tapi karena saya memiliki masalah pada beberapa bagian tubuh, terutama pundak, saya jadi kurang nyaman melakukan gerakan-gerakan yang biasa dilakukan di gym. Dan ketika saya mulai menekuni pilates, saya pelan-pelan meninggalkan gym, tapi bukan berarti meninggalkan gym sepenuhnya. Saya lebih memilih cardio atau gerakan-gerakan yang lebih spesifik. Perlu diketahui, latihan di gym dan pilates adalah dua hal yang berbeda. Di gym, kita melatih otot besar, sedangkan pilates fokus melatih otot kecil. Jadi memang gerakannya berbeda dan prosesnya juga berbeda.
Yang pasti, saya menjadi lebih aware terhadap bentuk dan postur tubuh saya. Lalu, saya juga lebih aware dalam pernapasan dan memperbaiki peredaran darah. Dan pilates is very good untuk mengontrol emosi kita ketika berada dalam keadaan yang kurang baik. Pilates akan sangat membantu, membuat saya lebih lepas. Namun hal terpenting yang saya rasakan adalah, secara tubuh dan pikiran sangat terbantu berkat pilates, membuat saya lebih aware terhadap tubuh saya sendiri.


Tidak. Tapi pilates harus dilakukan dengan coach yang tepat. Saat kita sedang mengandung, ya, pastikan coach yang melatih kita memang kompeten untuk melatih ibu hamil, jangan asal-asalan. Ini sangat penting. Harus dicek terlebih dahulu, apakah coach tersebut benar-benar certified? Lalu pengalamannya sudah berapa lama? Kliennya bagaimana? Kita harus sangat detail soal ini.
Ehm… tiga hal. Pertama mungkin, relax. Kedua adalah konsentrasi. Saya belajar menyeimbangkan segala hal. Konsentrasi dalam keseimbangan. Ketiga, pilates makes me feel beautiful. Aku merasa jadi cantik dan look hot pada saat melakukan pilates.
Sebenarnya, motivasinya adalah karena kecintaan. Pilates sudah menjadi bagian dari kebutuhan saya yang sudah setiap hari dilakukan, termasuk saat saya hamil dan setelah melahirkan. Saya tahu betul manfaat pilates dan benar-benar merasakan benefit yang luar biasa. Selain itu kenapa saya akhirnya memutuskan untuk memiliki studio pilates sendiri adalah karena bagian dari idealisme pribadi.
Ketika saya sudah banyak mengenal banyak studio pilates di luar, jadi muncul keinginan dalam diri dan membayangkan kalau saya punya studio pilates, maka saya ingin yang seperti ini.
Saya ingin memberikan tempat yang nyaman. Shalia Pilates menjadi second home untuk setiap orang, newbie atau mereka yang menyukai pilates. Karena saya meyakini, saat studionya nyaman dan semuanya terfasilitasi dengan baik, maka mood juga akan terbentuk.
Tentu saja karena saya memberikan ambiance, menyediakan deretan pelatih bersertifikasi, dan sudah memiliki banyak pengalaman di bidang pilates. Mereka benar-benar coach yang bisa dipertanggungjawabkan. Itu yang terpenting.
Yang kedua, peralatan yang disediakan sudah berstandar internasional. Kami hanya menggunakan brand dari Amerika. Pilihan kami bukan peralatan yang ringkih, melainkan alat-alat yang standarnya sudah internasional dan brand yang memang sudah dikenal. Kita tidak bisa menutup mata bahwa saat ini cukup banyak brand atau perlengkapan pilates yang sesungguhnya kurang aman untuk digunakan.
Last but not least, Shalia Pilates berada di lokasi yang cukup strategis. Di area Kuningan yang terdapat banyak perkantoran dan tempat tinggal. Dan saya rasa, orang-orang yang memiliki kesibukan bisa menyempatkan diri atau mampir di daerah Kuningan.
“Saya tahu betul manfaat pilates dan benar-benar merasakan benefit yang luar biasa. Selain itu kenapa saya akhirnya memutuskan untuk memiliki studio pilates sendiri adalah karena bagian dari idealisme pribadi.”
Untuk body contour yang terpenting adalah saya ingin mengedukasi setiap perempuan untuk bisa mengenal dulu dirinya. Misalnya, kenapa mereka bisa mengalami perut buncit? Kenapa sering kembung? Atau mungkin merasa kulit mereka kurang ideal? Kenapa ada stretch marks?
Kita harus mengedukasi dulu, what’s going on? Lalu kita mengajarkan mereka untuk melakukan rangkaian treatment. Dari rangkaian treament tersebut, yang kita ingin bantu adalah untuk mendapatkan contour tubuh versi terbaik mereka.

Kalau soal pengaturan waktu untuk anak, ya kita lihat prioritasnya saja. Saat ini Claire juga sudah bersekolah. Saat dia bersekolah, saya bisa melakukan banyak aktivitas lain.
Selain itu, saya dan Daddy-nya Claire juga telah sepakat untuk mengantarkan Claire ke sekolah setiap hari secara bergantian. Well, yang terpenting adalah menentukan prioritas dan pengaturan waktu.
Bonding moment favorit bersama Claire yaitu saat sebelum tidur. Saya membiasakan diri untuk bercerita atau sekadar ngobrol dengan Claire. Banyak sekali celotehan Claire yang terkadang out of the box. Kini, Claire lagi di fase memiliki banyak pemikiran yang kritis. Dia juga cukup dewasa untuk usianya.
Kalau ditanya, sepertinya bukan Claire yang banyak belajar dari orang tuanya. Melainkan orang tua yang harus banyak belajar dari anak-anaknya. Bagaimana kita harus belajar bersabar menanggapi ocehan-ocehan mereka, pertanyaan-pertanyaan yang berulang kali dilontarkan, atau ide-ide serta fantasi mereka. Sebagai orang tua, kita harus bisa relate. Bisa belajar.
Well, it’s a process. Dan masa-masa ini tidak akan berlangsung selamanya, jadi saya nikmati saja. Apalagi Claire adalah anak satu-satunya.
Sudah. Saya sudah sering mengajak Claire ke tempat pilates sejak dia bayi. Saya memang tidak mengarahkan atau memaksa, melainkan sekadar memperkenalkan pilates kepada Claire sejak kecil.
Saya tuh memang sering mengajak Claire ke semua kegiatan yang memungkinkan untuk membawa anak, termasuk dalam pekerjaan. Dulu juga saya ajak Claire ke konveksi, jadi dia mengerti bagaimana proses menjahit. Dia tahu lho, kalau ada bagian pakaian yang perlu dikecilkan.
Saya juga mengajaknya pilates dan melihat treatment body contour. Makanya Claire sering bilang kalau dia mau jadi terapisnya Mommy. Pokoknya saya melibatkan Claire semaksimal mungkin dalam kegiatan saya.
“Bonding moment favorit bersama Claire yaitu saat sebelum tidur. Saya membiasakan diri untuk bercerita atau sekadar ngobrol dengan Claire. Banyak sekali celotehan Claire yang terkadang out of the box.”

Bisa, tapi disarankan untuk usia 12 tahun ke atas. Hanya saja bagi anak yang memiliki masalah yang sudah diperiksa oleh dokter, seperti skoliosis yang berlebihan, maka pilates sudah bisa dilakukan sejak kecil selama dia sudah bisa mengenal keseimbangan dan koordinasi. Pasalnya, gerakan pilates tidak boleh asal dilakukan.
Sesungguhnya yang terpenting bukan body goals. Setiap orang memiliki pattern tubuh atau pola yang berbeda. Seperti saat membuat pakaian, tentu polanya tidak akan sama antara yang satu dengan yang lain.
Ada orang yang terlihat bagus dengan pinggang yang kecil, tapi ada juga yang kurang pantas. Jadi yang paling penting adalah kita harus sehat terlebih dahulu. Ketika kita sehat, kita jadi aware kalau kita tidak boleh overweight. Saat kita sudah sadar bahwa overweight tidak baik, berarti kita harus mulai mengubah pola makan.
Pada akhirnya, tubuh ideal dengan berat badan yang ideal terbentuk dari cara hidup kita. Ini yang paling penting dan saya terapkan dalam kehidupan saya pribadi.
Meski tubuh saya seperti ini, saya terkadang juga masih makan secara berlebihan, lho. Terkadang saya masih suka asal makan atau makan banyak gorengan. Namun, setidaknya ketika berat badan mulai terasa agak naik, saya sudah aware. I need to stop.
Hal inilah yang sebenarnya dibutuhkan setiap wanita. Sebenarnya bukan tidak boleh makan enak, tapi kita harus aware apa yang kita makan. Masalah berat badan spesifik yang diharapkan itu tergantung pada mindset, keinginan kuat, serta apa tujuan mereka dalam memiliki bentuk tubuh ideal.
Saya pribadi, very simple. I am happy ketika saya memiliki badan yang fit, saat saya looks good mengenakan pakaian apa saja. Jadi, bukan hanya untuk pasangan atau biar orang melihat. Saya happy saat mengenakan beragam pakaian, saya happy, nyaman, dan cocok.
Dan pada dasarnya, setiap orang bisa kok, mendapatkan body goals, tinggal kita mau atau tidak dan sebesar apa effort-nya. M&B