FAMILY & LIFESTYLE

Tak Hanya Corona, DBD Renggut Nyawa Lebih Banyak



Saat ini, Indonesia dan seluruh negara di dunia sedang menghadapi situasi darurat, yaitu penyebaran virus Corona atau COVID-19 yang begitu cepat. Begitu banyak orang yang dicurigai, atau bahkan positif menderita penyakit ini, bahkan telah terenggut nyawanya.

Hal ini pun membuat pemerintah memutuskan untuk merumahkan seluruh masyarakat. Baik pelajar maupun pekerja diminta untuk menetap di rumah dan meminimalisir kegiatan di luar ruangan demi memutus mata rantai penyebaran virus berbahaya ini.

Namun ternyata, tidak hanya penyakit dari virus Corona yang mengkhawatirkan. Di Indonesia sendiri, penyakit Demam Berdarah Dengue menjadi 'pelaku' lain yang kasus korban meninggalnya bahkan cenderung lebih banyak, dan tentunya juga perlu mendapatkan perhatian lebih besar.


Bahaya Demam Berdarah Dengue (DBD)


Penyakit DBD memang tergolong sebagai penyakit musiman, yang muncul terutama saat musim hujan tiba. Terkait penyakit ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pun menyatakan bahwa DBD lebih sering terjadi dan bisa lebih berbahaya jika dialami oleh anak.

Hal tersebut disebabkan oleh respons imun anak terhadap infeksi virus dengue masih belum sempurna. Akibatnya, Si Kecil menjadi lebih mudah terserang infeksi, sehingga menimbulkan terjadinya kerusakan pada dinding pembuluh darah dan perembesan plasma darah.

Untuk menangani kondisi penderita DBD, IDAI menyarankan agar pasien harus dipantau dan diobservasi secara terus-menerus, terutama pada fase kritis (hari bebas demam). Umumnya, pasien DBD harus dirawat di rumah sakit guna menjamin observasi dan menjaga volume cairan pembuluh darah tetap memadai.


Kasus DBD Terbaru di Indonesia

Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) selama periode Januari hingga Maret 2020, sudah lebih dari 16 ribu kasus DBD yang terjadi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, kurang lebih 100 jiwa dinyatakan meninggal dunia, dan termasuk anak-anak di antaranya.

Angka ini nyatanya terus bertambah, khususnya di beberapa daerah seperti Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, serta Jawa Timur, yang bahkan sudah ditandai sebagai zona merah DBD. Situasi ini dibagi dalam lima klasifikasi umur, yaitu pasien usia di bawah satu tahun sebanyak 2,13 persen, usia 1-4 tahun 9,23 persen, usia 5-14 tahun 41,72 persen, usia 15-44 tahun 37,25 persen dan pasien terjangkit di atas 44 tahun sebanyak 9,67 persen, dilansir dari kabar24.bisnis.com.


Upaya Pencegahan DBD


Sebagai langkah untuk mencegah penambahan kasus DBD, masyarakat pun dianjurkan untuk melakukan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Lebih jelas lagi, hal ini disebut juga sebagai 3M, Menguras wadah penampungan air, Menutup wadah penampungan air, dan Mengubur benda-benda yang bisa menjadi wadah atau tempat penampungan air.

Selain itu, Anda sebagai orang tua juga perlu menjaga lingkungan sekitar rumah agar selalu bersih. Hal ini akan semakin maksimal dilakukan, terutama di fase seperti saat ini agar bisa #selamatdirumah. Semoga Moms, Dads, dan Si Kecil tetap selalu sehat dan terhindar dari DBD maupun COVID-19, ya. (Vonia Lucky/SW/Dok. Freepik)