TODDLER

Jangan Asal Pakai Nebulizer, Perhatikan Hal-hal Penting Ini!



Moms, saat balita Anda terkena batuk pilek, pasti Anda sedih dan khawatir, ya. Bagaimana tidak, Si Kecil pun tak jarang jadi kesulitan bernapas yang tentunya bisa mengganggu aktivitas, termasuk tidur pulasnya. Apalagi, jika Si Kecil masih sulit untuk membuang ingus sendiri dan menolak untuk minum obat.

Saat hal ini terjadi, banyak orang tua yang memutuskan agar anak menjalani terapi inhalasi atau penguapan dengan nebulizer. Bahkan, saat ini, nebulizer sudah banyak sekali tersedia di pasaran sehingga Moms bisa membelinya dan melakukan terapi inhalasi sendiri di rumah.

Ya, memiliki mesin nebulizer sendiri memang akan membantu menangani masalah pernapasan, tapi tak semua masalah pernapasan bisa diatasi dengan nebulizer lho, Moms. Saat ini banyak ditemukan kasus penggunaan yang tidak tepat guna. Karena itu, Moms harus memahami hal-hal penting seputar nebulizer untuk anak, seperti berikut ini:

Apa Kelebihan Terapi Inhalasi?

Terapi inhalasi atau penguapan memiliki beberapa kelebihan, yaitu kecilnya dosis yang digunakan (Satu kali semprot obat inhalasi, dosisnya 40 kali lebih kecil dari obat oral, dengan efektivitas yang sama untuk melebarkan jalan napas), cara kerja yang cepat dan langsung pada saluran napas, serta minim efek samping.

Apa Sih, Nebulizer?

Nebulizer adalah alat yang digunakan untuk membantu proses inhalasi atau penguapan. Nebulizer ini berfungsi untuk mengubah cairan obat menjadi uap agar dapat dihirup dengan mudah dan nyaman.

Jika obat sudah menjadi uap, tentunya akan lebih mudah masuk dan terserap lewat saluran pernapasan dan paru-paru. Nebulizer untuk anak terbukti lebih efektif dibandingkan inhaler karena partikel yang dihasilkan lebih kecil sehingga lebih mudah masuk ke saluran pernapasan.

Apa Masalah Pernapasan yang Dapat Diatasi oleh Nebulizer?

Nebulizer digunakan untuk meredakan gejala alergi, sinusitis, penyakit paru obstruksi kronis, cystic fibrosis, mengobati pembengkakan saluran pernapasan, sesak napas dan batuk yang disebabkan oleh penyakit-penyakit tertentu seperti asma, enfisema, bronkitis, dan pneumonia.

Obat yang Bisa Digunakan pada Nebulizer untuk Anak

Beberapa jenis obat yang bisa digunakan pada nebulizer saat melakukan terapi inhalasi adalah:

• Bronkodilator untuk melonggarkan jalan napas (merilekskan otot bronkus)

• Antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri

• Kortikosteroid untuk mengobati radang pada asma

• Pengencer dahak, biasa digunakan untuk penderita cystic fibrosis.

Jika Anak Batuk Pilek, Perlukah Menggunakan Nebulizer?

Sebenarnya, batuk pilek yang biasa diderita anak merupakan selesma (jika disertai demam dan lemas bisa dikategorikan influenza), dan bisa sembuh dengan sendirinya. Karena itu sebenarnya tidak diperlukan terapi nebulizer.

Dalam setahun, anak-anak bisa mengalami 12 kali selesma atau influenza dan itu sangat wajar mengingat banyaknya virus yang ada di sekitar kita. Pengobatan terbaik adalah memperbanyak istirahat, minum air putih, dan minum parasetamol jika anak sudah terlihat tidak nyaman.

Nebulizer Tidak Efektif untuk Anak yang Batuk Pilek

Sejauh ini nebulizer terbukti tidak memberikan efek yang signifikan untuk pengobatan batuk pilek karena:

• Nebulizer digunakan untuk melegakan saluran pernapasan di dalam bronkus yang berada di dalam paru-paru atau saluran pernapasan bawah. Sedangkan anak yang pilek mengalami gangguan pada saluran pernapasan atas.

• Obat yang digunakan untuk nebulizer adalah obat asma, sehingga kurang tepat jika digunakan untuk mengatasi gejala hidung tersumbat atau batuk pilek biasa.

Karena itu, jika Si kecil mengalami batuk pilek biasa dan dokter menyarankan untuk terapi nebulizer, sebaiknya Moms menanyakan diagnosisnya juga ya, mengapa disarankan seperti itu.

Bolehkah Nebulizer Digunakan saat Batuk Tak Kunjung Sembuh?

Satu hal yang harus Moms ingat, batuk bukanlah penyakit, namun gejala dari sebuah penyakit akibat reaksi dari adanya gangguan pada tenggorokan maupun paru-paru. Karena itu, jika Si Kecil mengalami batuk yang tak kunjung sembuh, carilah terlebih dahulu penyebabnya.

Jika dokter menemukan bahwa batuk Si Kecil disebabkan oleh alergi, bronkiolitis, pneumonia, sinusitis, terpaan asap, krup (batuk "menggonggong"), iritasi paru, naiknya asam lambung, penyakit paru obstruktif kronis ataupun penyakit jantung, maka penggunaan nebulizer diperbolehkan untuk membantu melonggarkan saluran napas, meredakan peradangan, serta mengencerkan dahak.

Namun perlu Moms ingat, nebulizer bukanlah satu-satunya cara untuk mengobati keluhan Si Kecil. Kombinasi dengan obat lain mungkin diperlukan, khususnya jika batuk Si Kecil sudah sampai pada taraf akut.

Penggunaan Nebulizer untuk Anak di Rumah

Moms, jika Si Kecil memiliki riwayat asma, tentunya memiliki nebulizer sendiri di rumah akan memudahkan proses penguapan. Tak hanya bebas mengantre di rumah sakit, suasana rumah yang familiar tentunya akan membuat anak lebih nyaman dan terapi bisa dilakukan lebih mudah. Namun, ada hal-hal yang harus Moms perhatikan saat menggunakan mesin nebulizer pribadi:

1. Cuci bersih tangan terlebih dahulu sebelum menyentuh nebulizer dan obat-obatan. Pastikan juga nebulizer, selang yang terhubung dengan kompresor dan masker dalam keadaan bersih.

2. Nebulizer harus diletakkan di atas permukaan yang rata. Jika Si Kecil takut dengan suara mesin nebulizer, Moms bisa menaruhnya di atas handuk tipis untuk meredam suaranya.

3. Tidak semua anak bersikap kooperatif saat menggunakan nebulizer. Jika bujukan ataupun penjelasan apa pun tak mempan, Moms bisa mengalihkan perhatiannya dengan mainan, membaca buku, atau menonton video favoritnya di gadget. Moms juga bisa membuat proses inhalasi lebih menyenangkan dengan role play, seolah-olah Si Kecil adalah astronot atau superhero yang sedang beraksi saat menggunakan masker nebulizer. Selain itu, Moms juga bisa mengajak Si Kecil menghias nebulizer dengan sticker dan memberinya nama. Yang pasti, ingat bahwa anak sedang dalam kondisi tak nyaman saat terapi inhalasi, karena itu dibutuhkan kesabaran dan jangan memaksa Si Kecil hingga membuatnya trauma ya, Moms. (Nanda Djohan/SW/Dok. Freepik)