FAMILY & LIFESTYLE

Kenali Tanda dan Dampak Micro-Cheating, Selingkuh Kekinian



Rasa saling percaya adalah salah satu pondasi penting dalam semua hubungan, terutama di dalam pernikahan. Karena itu, perselingkuhan menjadi salah satu hal yang tabu dan terlarang untuk dilakukan. Moms pasti setuju, kan?

Meskipun setiap pasangan dapat memiliki batasan dan definisi sendiri tentang perselingkuhan, namun biasanya selingkuh akan melibatkan aksi fisik, seperti bercinta, berpelukan, atau berkencan.

Namun, kini dikenal juga istilah micro-cheating. Berbeda dengan selingkuh biasa, seperti namanya, micro-cheating dapat terjadi secara halus dan minim provokasi. Lalu, bagaimana tanda-tandanya? Simak penjelasannya berikut ini ya, Moms.

Selingkuh Model Baru

Pada tahun 2008, Urban Dictionary menambahkan istilah micro-cheating ke dalam daftarnya dengan makna, "Ketika seseorang selingkuh dari pasangannya, tapi hanya sedikit saja."

Mengutip Huffpost, Melanie Schilling, seorang psikolog dan pakar kencan, menyatakan, "Micro-cheating adalah rangkaian perilaku yang tampak sepele yang menandakan seseorang fokus dengan orang lain di luar hubungannya, baik secara fisik maupun emosi."

Meski terdengar asing, micro-cheating sendiri sebenarnya bukanlah hal yang baru. Mengutip Elle, menurut Dr. Rowan Burckhardt, psikolog dan pengagas The Sydney Couples Counselling Centre, micro-cheating adalah kata baru untuk perilaku kuno.

Dulu, mungkin micro-cheating bisa berarti bermain mata di sebuah kafe saat pasangan sedang di luar kota. Namun kini, Anda bisa melakukannya semudah mengirimkan emoji peluk atau cium kepada orang lain sembari duduk bersampingan pasangan.

Tanda-tanda Micro-cheating

Dengan kecanggihan teknologi dan pola pikir yang semakin bebas dan fleksibel, setiap orang dapat mengartikan micro-cheating dengan makna yang berbeda. Cara melakukannya pun semakin mudah. Meski begitu, ada beberapa hal yang umum dilakukan saat micro-cheating, seperti:

• Berdandan ekstra untuk orang selain pasangan.

• Stalking mantan pacar di media sosial.

• Berbohong soal hubungan Anda kepada orang lain.

• Mengirimkan konten menggoda di media sosial.

• Mengirimkan foto yang menggoda ke orang selain pasangan.

• Menyembunyikan relasi tertentu dari pasangan.

• Membuat alasan untuk bisa bertemu dengan orang selain pasangan.

• Menjalin keintiman yang romantis dengan orang selain pasangan.

• Sexting, termasuk bahasa vulgar dan mengirimkan foto telanjang.

• Kehidupan seks Anda dan pasangan tidak bergairah.

• Menyimpan kontak seseorang dengan nama yang lain, bukan nama sebenarnya.

• Merahasiakan password ponsel Anda.

Intinya adalah niat dan adanya unsur "kerahasiaan" di dalam perilaku Anda, layaknya perselingkuhan pada umumnya. Jika Anda chatting dengan seseorang tengah malam agar tidak diketahui oleh pasangan, maka bisa jadi Anda sedang melakukan micro-cheating.

Berbahayakah Micro-cheating?

Perilaku micro-cheating dapat tampak seperti grey area, tidak salah tapi juga tidak bisa dibenarkan. Mungkin bagi pelakunya, ia hanya sedang bersikap ramah dan friendly, namun micro-cheating dapat lebih berbahaya daripada selingkuh biasa.

Meski tampak tidak bermasalah, micro-cheating bisa terjadi berkelanjutan, mendorong perselingkuhan yang lebih besar, dan menyebabkan konflik superkacau. Melansir The Healthy, Anisha Patel-Dunn, psikiatri dan penggagas Pacific Coast Psychiatric Associates di Walnut Creek California, menyatakan, "Memaafkan pasangan atas cinta satu malam dapat lebih mudah dilakukan daripada kebohongan dan penipuan berbulan-bulan."

Jika Moms mendapati diri sendiri atau pasangan melakukan micro-cheating, maka diskusi secara jujur, terbuka, dan tanpa provokasi adalah langkah pertama yang perlu dilakukan. Dr. Anisha mengatakan bahwa hal ini dapat menjadi sarana untuk introspeksi, perbaikan diri masing-masing, dan memperkuat ikatan pernikahan Anda berdua. (Gabriela Agmassini/SW/Dok. Freepik)