TODDLER

Cara Membantu Anak Menghadapi Kekecewaan agar Tegar dan Kuat



Moms pasti setuju bahwa hidup tak melulu soal kebahagiaan dan kesenangan, tapi juga terdapat banyak kekecewaan. Sebagai orang dewasa, meskipun masih terasa sulit, Anda mungkin sudah tahu bagaimana mengatasi kekecewaan dalam hidup. Namun, bagaimana dengan Si Kecil?

Walau terasa negatif, kekecewaan dapat bermanfaat bagi perkembangan Si Kecil lho, Moms. "Ketika anak-anak belajar sejak dini untuk mengatasi situasi yang mengecewakan, mereka akan mampu untuk bertahan di sepanjang masa kanak-kanaknya, bahkan hingga dewasa," tutur Robert Brooks, Ph.D., penulis buku Raising Resilient Children.

Tetapi, ini bukan berarti Moms tak merasa harus membantu anak saat ia kecewa. Dilansir dari Parents, berikut ini beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk membantu Si Kecil melewati situasi yang mengecewakan:

1. Ajarkan Si Kecil tentang hal-hal yang bisa diubah dan yang tidak bisa. Ia mungkin belum paham bahwa masalahnya tak bisa ia kontrol, atau ia juga tak tahu bahwa tantrum tak akan membuatnya mendapatkan apa yang ia inginkan. Untuk itu, Moms bisa validasi kekesalannya dengan mengatakan, "Mama tahu kamu kesal," lalu diskusikan bersama solusinya.

2. Paparkan Si Kecil pada berbagai jenis aktivitas hingga ia menemukan sesuatu yang ia senangi. Jika ia bisa melakukan hal-hal yang ia ketahui dan kuasai saat ia kesal, maka hal ini bisa mendorong rasa percaya dirinya. "Ini dapat mengubah pola pikirnya dari, 'Kok aku enggak pernah berhasil, ya,' menjadi, 'Enggak apa-apa, lain kali aku pasti bisa,'" tutur Robert.

3. Sebisa mungkin, tahan reaksi Anda saat mengetahui Si Kecil sedang kecewa, terlebih lagi jika ia mudah menangis. Hal ini dapat terasa sebagai hukuman tambahan bagi Si Kecil.

4. Berikan pilihan ketika hal-hal yang tak terduga terjadi. Dengan begini Si Kecil punya kesempatan untuk memilih. Hal ini bisa mendorong rasa percaya diri serta menguatkan hatinya. Misalnya, Moms bisa tanyakan, "Kita enggak bisa ke toko mainan sekarang, tapi kamu mau main mainan apa, sih?", atau, "Toko mainannya sedang tutup, kamu mau datang lagi besok atau nanti sore?".

5. Cari cara agar Si Kecil bisa membantu orang lain. Aksi tanpa pamrih ini akan memberikan kesempatan Si Kecil untuk mengesampingkan masalahnya sejenak dan membantunya merasa lega karena sudah membuat perubahan yang positif. Kedua hal ini adalah sikap penting yang terkait dengan karakter tegar dan tahan banting.

6. Daripada buru-buru mengatasi masalah Si Kecil, Moms bisa membantunya untuk memperbaikinya sendiri. Walau hal ini mungkin butuh banyak waktu, Si Kecil tetap akan belajar bahwa ia dapat memperbaiki masalahnya sendiri.

7. Berempati dengan perasaan Si Kecil. Sebagai contoh, jika playdate Si Kecil batal, Moms bisa katakan perasaan kesal Anda bila seseorang membatalkan janji temu dengan Anda. Hal ini bisa mengajarkan Si Kecil bahwa terkadang tidak apa-apa untuk merasa kecewa.

8. Diskusikan dengannya. Bicarakan hal-hal yang menyenangkan bagi Si Kecil, dan tanyakan apa yang ia pikirkan jika hal tersebut tak terjadi sesuai harapannya. Timothy L. Verduin, Ph.D., profesor di Department of Child and Adolescent Psychiatry di NYU Langone Health, mengatakan, "Mungkin tampak berbahaya untuk bersandar pada rasa sakit, tapi selama Anda mendukungnya, memberikan cukup ruang untuk suasana hati yang buruk akan membuat hal tersebut hilang sendiri."

9. Buat jaringan support system pada hidup Si Kecil. Tak hanya Moms dan Dads, Moms bisa bentuk sebuah support system beranggotakan orang lain sebagai tempat cerita dan berlindung Si Kecil.

10. Gunakan kekecewaan sebagai kesempatan mengajarkan sesuatu. "Ingatkan Si Kecil bahwa Moms pernah menghadapi berbagai ketidakpastian dalam hidup, berikan contoh, dan katakan bahwa Si Kecil pasti akan menemukan jalan, tak hanya untuk melewati masalah, tapi juga untuk memiliki momen penuh kebahagiaan dan pertumbuhan," kata Timothy.

11. Jangan katakan, "Kamu kayak anak bayi, deh". Daripada begitu, Moms bisa beri tahu bahwa wajar untuk merasa kecewa.

12. Jangan katakan, "Yuk, kita lakukan ini sebagai gantinya,". Respons yang lebih baik adalah, "Kamu punya ide enggak, apa yang harus kita lakukan?". Dengan begini, ia bisa merasa lebih baik dan percaya diri bahwa ia bisa mengatasi masalahnya sendiri.

13. Jangan katakan, "Itu bukan masalah besar". Penilaian Anda dan Si Kecil berbeda. Hal yang tak menyakitkan bagi Anda tak berarti tidak meninggalkan luka pada Si Kecil. Daripada begitu, Moms bisa ucapkan, "Mama tahu kalau ini terasa berat buatmu." (Gabriela Agmassini/SW/Dok. Freepik)