KID

6 Tips Berkomunikasi Efektif dengan Anak Praremaja



Anak usia praremaja (8-13 tahun) bisa dibilang anak hampir gede! Di usia ini anak sudah kritis, bisa berpikir mandiri, dan tentunya sudah jago adu pendapat juga ya, Moms. Sayangnya, lonjakan kecerdasan ini sering membuat orang tua kewalahan untuk berkomunikasi dengan anaknya sendiri.

Orang tua kerap merasa anaknya sering membangkang, padahal anaknya hanya semakin cerdas berpendapat dan sudah semakin mandiri dalam menentukan yang tepat bagi dirinya.

Kalau komunikasi tak lancar ini dibiarkan begitu saja, tentu kedekatan dan keharmonisan orang tua dan anak akan semakin luntur. Agar komunikasi dengan anak praremaja tetap lancar dan hubungan tetap dekat, ikuti beberapa tips berkomunikasi efektif dengan anak praremaja berikut ini, Moms.

1. Respons dalam keadaan tenang

Setiap hari mungkin ada saja pendapat anak yang mengejutkan (atau bahkan membuat marah) orang tua. Sebenarnya anak tidak bermaksud untuk mengejutkan Anda, ia hanya sedang menyampaikan pemikirannya sendiri, yang kemudian sering disalahartikan sebagai sikap membangkang.

Daripada merespons pemikiran unik anak dengan bentakan yang berujung adu argumen, lebih baik biasakan untuk menenangkan diri dulu sebelum merespons. Tarik napas panjang, tenangkan diri, dan hanya merespons dalam keadaan tenang agar komunikasi dengan anak lebih efektif.

2. Dengarkan pendapat anak

“Ah, anak kecil jangan sok tahu!” Mungkin kalimat itu sering terlontar dari mulut orang tua ketika anaknya sedang menyampaikan buah pemikirannya. Terkadang orang tua gengsi untuk mendengarkan pendapat anak, padahal anak praremaja butuh merasa didengar. Sangat bijak jika orang tua mau mendengarkan apa yang dipikirkan dan dirasakan anak, karena respons Anda bisa menjadi pedoman anak untuk bersikap di kemudian hari.

3. Jangan menyerang

Kemampuan untuk berani berpendapat dan mengembangkan ide adalah kemampuan yang harus diapresiasi lho, Moms! Tidak semua anak punya rasa percaya diri untuk berpendapat. Maka ketika anak sedang menyampaikan pendapat atau idenya pada orang tua, jangan patahkan kepercayaan dirinya dengan menyerang dan menyalahkan anak.

Jangan beri respons yang mengerdilkan kebebasannya dalam berekspresi dan menelurkan ide-ide unik. Jika menurut Anda ada yang kurang sesuai atau harus diperbaiki, sampaikan saja saran Anda dengan baik dan penuh dukungan, bukan dengan menyerang atau bahkan menyalahkannya.

4. Jangan menghakimi

Semakin bertambah usia anak, ia akan semakin menikmati masa berteman dan melakukan hal-hal yang menurutnya seru. Selama itu positif, Moms tidak perlu menghakimi pilihannya atau bahkan mengomentari kualitas karakter teman-temannya.

Mengomentari hal yang dianggap penting bagi anak bisa merusak komunikasi dengan anak. Anda tentu tidak mau anak merahasiakan kehidupannya dari Anda, kan? Jika ada yang membuat Anda gusar, tekankan saja kalau keselamatan anak adalah prioritas bagi semua orang tua. Dari situ anak akan paham kalau orang tua hanya ingin anaknya selamat tanpa bermaksud membatasi ruang geraknya.

5. Tidak perlu memberi solusi

Ketika anak menceritakan suatu hal pada Anda, tujuannya tidak selalu untuk mencari solusi, karena terkadang ia hanya ingin didengarkan. Yang perlu Anda lakukan bukan menceramahi anak dengan sederet hal yang harus ia lakukan dalam menghadapi masalah, tetapi lebih mencontohkan bagaimana sikap yang baik dalam menghadapi masalah. Moms boleh saja bantu memberikan solusi, tapi hanya solusi sederhana, kecuali anak memang meminta pendapat dan solusi spesifik dari Anda. Jangan lupa juga untuk menunjukkan empati.

6. Jangan menyerah

Ketika Anda mengira anak sering membangkang dan tidak mau mendengarkan nasihat Anda, jangan menyerah! Bagaimanapun, anak tetap membutuhkan arahan Anda, tapi tentu dengan cara penyampaian yang tidak otoriter. Jangan pernah mengira anak sudah tidak butuh Anda lagi, karena kehadiran, dukungan, dan arahan dari orang tua akan selalu dibutuhkan sebagai bekal masa depan anak, Moms. (M&B/Tiffany Warrantyasri/SW/Foto: Freepik)