TODDLER

Bukan Mainan Biasa, Ini Manfaat dari Pop It! Fidget Toy buat Anak



Moms mungkin sudah tak asing lagi dengan Pop It!, yakni mainan berbahan silikon dengan banyak gelembung berbentuk setengah yang bisa diletupkan bolak-balik. Ya, sejak viral di TikTok beberapa waktu lalu, kini mainan ini marak dimiliki oleh anak-anak. Apakah Moms dan Si Kecil juga memilikinya di rumah?

Usut punya usut, ternyata mainan ini tak hanya sekadar tren mainan biasa, karena memiliki manfaat penting bagi Si Kecil. Apa saja manfaat tersebut? Yuk, simak penjelasannya Berikut ini, Moms!

Mainan sensori dan fidget

Pop it! termasuk sebagai permainan sensori, artinya mainan ini bisa membantu melatih kemampuan sensorik Si Kecil. Selain itu, beberapa ahli juga menyebut Pop It! sebagai mainan fidget (fidget toy), yang berarti mainan ini bisa memberikan efek terapeutik bagi pemainnya.

Dr. Will Shield, psikolog anak dari University of Exeter, menyatakan bahwa permainan sensori seperti Pop It! telah ada sejak lama. “Permainan sensori telah digunakan bertahun-tahun, bahkan sejak tahun 1970-an,” tuturnya kepada Newsround.

“Permainan sensori mengaktifkan satu atau lebih indra kita, contohnya penglihatan, pendengaran, atau sentuhan. Jadi Ketika kita mengalami emosi yang besar, seperti ketakutan atau cemas, memainkan sesuatu yang tampak, terasa, atau terdengar berbeda dapat membantu kita mengalihkan perhatian dari emosi tersebut,” kata Dr. Will.

Sedangkan menurut Sandra Mortimer, pengajar senior tentang terapi okupasional di Flinders University, fidget toy bisa membantu anak mengatur input sensorik mereka. Faktanya, bermain fidget tak hanya seputar mainan seperti Pop It! atau Fidget Spinner (ya, mainan kecil berputar yang pernah booming di tahun 2017), karena fidget toy juga dapat berupa pulpen yang Anda mainkan ketika ingin fokus memperhatikan presentasi atau saat brainstorming.

Membantu fokus

Suara letupan “pop” saat gelembung dipencet memberikan efek menenangkan bagi banyak orang. Katherine Isbister, profesor bidang media komputasi di University of California, menyebut Pop It! sebagai bubble wrap versi daur ulang dan tahan lama. Ya, meletupkan bubble wrap juga termasuk “fidgeting”, Moms.

Ia menjelaskan, bahwa manusia sering mencoba menyesuaikan pengalaman dan lingkungan agar bisa mendapatkan stimulasi yang tepat baginya. Setiap orang bisa bekerja dalam situasi yang berbeda-beda. Ada orang yang bisa bekerja di suasana ramai dan sibuk, namun ada pula yang memerlukan keheningan total untuk membantunya fokus. Bagi orang yang tak bisa segera mencari ketenangan untuk fokus, biasanya bermain fidget toy bisa sangat membantunya untuk rileks, tenang, dan fokus. Tak terkecuali anak-anak.

Membantu meregulasi emosi

Menurut studi yang Katherine lakukan secara online pada tahun 2018, anak-anak juga setuju bahwa fidget toy bisa membantu mereka untuk mengatur emosi. Sebagai contoh, Si Kecil mungkin menikmati memencet stress ball saat merasa marah atau mengelus mainan yang halus saat sedang cemas.

Sandra mengatakan, “Sebuah mainan fidget bisa dapat membantu anak menikmati indra sentuhannya, dan penggunaan mainan ini bisa membantunya mengatur dirinya sendiri. Memberikan input taktil ekstra pada tangan mereka dapat membantu menenangkan sistem sensorik mereka secara keseluruhan.”

Menurutnya, hal ini dapat membantu anak mencapai kondisi tenang dan sadar, sehingga tubuh dan pikiran dapat berfungsi dengan baik serta mampu belajar dan mencerna informasi dengan maksimal.

Membantu anak dengan ADHD

Mengutip PACER Center, pada realitanya mainan fidget memegang peranan penting pada anak dengan ADHD. Mainan fidget seperti Pop It! telah lama direkomendasikan untuk membantu anak fokus, tenang, dan rileks. Bahkan pada anak usia sekolah, mainan fidget dapat membantu dalam perencanaan kerja, multitasking, dan mengingat informasi.

Tak hanya itu, ternyata fidget toy juga dapat sangat bermanfaat bagi anak-anak dengan autisme atau memiliki masalah sensorik. Bridget Gillormini, pimpinan Simon Technology Center di PACER Center, menyebutkan bahwa fidget toy juga bisa bermanfaat bagi orang dewasa yang tak memiliki autisme, masalah sensorik, ataupun ADHD. (M&B/Gabriela Agmassini/SW/Foto: pvproduction/Freepik)