BABY

Faltering Growth, Waspadai Penyebab Bayi Gagal Tumbuh



Melihat tumbuh kembang Si Kecil yang optimal tentu menjadi prioritas para orang tua ya, Moms. Untuk itu Anda harus memastikan segala aspek penunjangnya, terutama di 1000 hari pertama kehidupan anak. Berikan "bahan bakar" yang tepat untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, seperti nutrisi yang seimbang, stimulasi tepat, dan vaksinasi lengkap.

Tanpa "bahan bakar" yang tepat, risiko faltering growth atau telat tumbuh bisa terjadi lho, Moms! Apa itu faltering growth? Bagaimana mencegahnya dan bagaimana mengatasinya jika sudah terlanjur terjadi? Untuk mengupas tuntas masalah faltering growth, yuk simak penjelasan di bawah ini.

Apa itu faltering growth?

Dalam British Journal of Nursing disebutkan bahwa faltering growth adalah ketika seorang anak gagal tumbuh sesuai rentang usianya dalam suatu periode waktu. Artinya, faltering growth adalah keterlambatan pertumbuhan berat badan anak, sehingga tidak sesuai dengan kurva pertumbuhan.

Kondisi ini umumnya terjadi pada bayi usia 3-4 bulan. Ya, penurunan berat badan pada awal kehidupan memang sering dinilai normal. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan berat badan bayi mengandung banyak cairan tubuh yang akan hilang dalam beberapa hari setelah ia lahir. “Sebagian besar bayi kehilangan 1/10 dari berat badannya selama 5 hari pertama dan berat badan akan naik kembali dalam 5 hari berikutnya. Pada hari ke-10, berat badan biasanya akan kembali ke berat lahir,” tulis Prof. DR. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K) dalam artikel IDAI.

Ketika berat badan bayi terus menurun atau tidak bertambah selama beberapa waktu hingga bayi terus-menerus tidak mengikuti kurva WHO, maka saat itu bisa disebut Si Kecil mengalami faltering growth. Mengutip Alomedika, “Anak yang dapat dikatakan faltering growth (gagal tumbuh) apabila kenaikan berat badan di bawah persentil 5 (tetap di bawah kurva pertumbuhan standar) atau tren berat badan tetap/stagnan selama 3 bulan, atau menurun selama 3 bulan.”

Baca juga: Growth Spurt, Lonjakan Pertumbuhan pada Bayi, Ini Tanda-tandanya

Penyebab

British Journal of Nursing menuliskan faltering growth diindikasikan lewat defisit berat dan tinggi badan dalam suatu periode waktu, biasanya bulan, atau mungkin minggu pada anak bayi. Faltering growth merupakan hasil langsung dari rendahnya konsumsi atau penyerapan kalori dari kalori yang dikeluarkan.

“Penyebab weight faltering intinya ada 2, yaitu inputnya yang kurang atau outputnya yang meningkat. Input yang kurang tentu diasumsikan dengan asupan, misalkan bayi yang masih ASI eksklusif maka kita harus memastikan ASI atau kualitas ASI-nya yang kurang. Output yang meningkat biasanya pada anak-anak dengan infeksi tertentu atau dengan kelainan bawaan,” jelas dr. Novitria Dwinanda, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak, pada artikel RSAB Harapan Kita.

Dampak

Faltering growth yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan stunting lho, Moms. Seperti yang dituliskan dalam Bima Nursing Journal, “Stunting merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan (growth faltering) akibat akumulasi ketidakcukupan nutrisi yang berlangsung lama mulai dari kehamilan sampai usia 24 bulan.”

Dokter Novitria juga menyebutkan kalau weight faltering atau faltering growth ini adalah pintu masuk dari semua kelainan pertumbuhan. Jika pertumbuhan anak terus di bawah kurva dan tidak segera dilakukan interfensi dengan tepat, maka status gizi anak ikut terancam dan terjadilah malnutrisi atau gizi buruk.

Bahkan faltering growth juga bisa menyebabkan mikrosefali lho, Moms. Ini adalah kondisi pertumbuhan otak anak tidak normal karena kurangnya nutrisi. Wah, ini tentu berbahaya jika tidak segera ditangani, karena lebih dari usia 2 tahun maka otak anak sudah tidak bisa dikoreksi.

Intervensi faltering growth

Nutrisi merupakan faktor risiko yang paling berpengaruh dalam terjadinya faltering growth. Maka, untuk mengatasinya, diperlukan intervensi tepat, segera, dan terpantau dokter. Dokter spesialis anak Anda mungkin akan memberikan anjuran seperti pemberian makanan padat nutrisi dan kalori yang sesuai perkembangan anak. Pemberian gizi tentunya mempertimbangkan ada tidaknya gangguan saluran cerna dan fungsi oromotor.

Dokter juga akan menganjurkan untuk melanjutkan pemberian ASI dan mungkin menyarankan pemberian sufor padat nutrisi dan tinggi kalori dalam jangka pendek. Tidak ada intervensi yang instan dan tidak ada satu saran yang pasti cocok untuk semua anak. Maka dokter akan terus memantau dan mengevaluasi pertambahan berat badan anak agar hasilnya optimal. (M&B/Tiffany Warrantyasri/SW/Foto: Rawpixel/Freepik)