BABY

Bayi Berdahak Tetapi Tidak Batuk, Apakah Berbahaya?


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Mendengar suara napas Si Kecil yang berbunyi "grok-grok" tentu membuat hati kita merasa cemas ya, Moms. Sebagai orang tua, insting pertama kita adalah memastikan bahwa bayi kita selalu dalam keadaan sehat dan nyaman. Ketika ada suara lendir yang tertahan di saluran pernapasan anak, wajar jika Anda langsung bertanya-tanya, bayi berdahak tetapi tidak batuk apakah berbahaya?

Pengalaman merawat bayi memang selalu penuh dengan hal-hal baru yang mengejutkan sekaligus menjadi ajang belajar. Banyak ibu baru menemukan fakta bahwa suara dahak pada bayi yang masih sangat kecil sering kali merupakan bagian alami dari proses perkembangannya. Untuk lebih jelasnya, simak artikel berikut ini, Moms!

Kenapa bayi berdahak padahal tidak batuk?

Sistem pernapasan bayi baru lahir masih berada dalam tahap adaptasi dan perkembangan. Saluran udara Si Kecil jauh lebih sempit dibandingkan orang dewasa atau anak yang lebih besar. Akibatnya, sedikit saja lendir yang menumpuk di saluran napas bisa menciptakan suara getaran yang cukup keras saat udara keluar masuk, atau yang sering kita kenal dengan istilah napas "grok-grok".

Berbeda dengan kita yang bisa dengan mudah berdeham atau batuk untuk membuang lendir, bayi belum memiliki refleks batuk yang cukup kuat untuk mengeluarkan dahaknya sendiri. Lendir ini sebenarnya memiliki fungsi perlindungan yang sangat baik. Tubuh Si Kecil memproduksinya untuk melembapkan saluran napas serta menjebak debu, kuman, atau partikel asing lainnya yang ikut masuk saat bernapas.

Selain faktor anatomi, produksi dahak pada bayi juga bisa dipicu oleh cuaca yang terlalu dingin, udara ruangan yang kering, atau sisa susu yang terkumpul di area belakang tenggorokan. Semua faktor ini bersinggungan langsung dengan rutinitas keseharian Si Kecil. Memahami penyebab munculnya lendir ini bisa mengurangi rasa cemas Anda, Moms.

Baca juga: Tidak Perlu Panik, Begini Cara Mengeluarkan Dahak pada Bayi

Bayi berdahak tetapi tidak batuk apakah berbahaya?

Secara umum, jika bayi berdahak tetapi tetap aktif, bisa menyusu dengan baik, dan tidak menunjukkan tanda-tanda sesak napas, kondisi ini sangat wajar dan tidak berbahaya, Moms. Bunyi napas tersebut biasanya akan berkurang dan menghilang seiring dengan bertambahnya usia serta melebarnya saluran pernapasan Si Kecil.

Namun, Anda tetap perlu waspada terhadap beberapa sinyal tubuh lainnya. Perhatikan ritme napas Si Kecil. Jika napasnya terlihat sangat cepat, cuping hidungnya kembang kempis secara berlebihan, atau terdapat tarikan otot yang dalam pada area dada dan perutnya, ini adalah indikasi bahwa ia membutuhkan bantuan.

Tanda bahaya lain yang perlu segera dievaluasi oleh tenaga medis meliputi bibir atau ujung jari yang tampak kebiruan, demam tinggi, kesulitan menyusu hingga menolak makan sama sekali, serta tubuh yang terlihat sangat lemas. Selama Si Kecil tidak menunjukkan gejala-gejala tersebut dan masih bisa tersenyum riang, Anda bisa menarik napas lega.

Apakah dahak bayi bisa hilang sendiri?

Kabar baiknya, tubuh bayi memiliki mekanisme penyelesaian masalah yang mengagumkan. Dahak tersebut sering kali akan hilang dengan sendirinya tanpa memerlukan intervensi medis yang rumit. Karena bayi belum bisa membuang ludah atau dahak, ia biasanya akan menelan lendir tersebut secara alami.

Setelah tertelan, dahak akan masuk ke saluran pencernaan dan pada akhirnya dikeluarkan bersama kotoran (feses). Pada beberapa kasus, bayi juga bisa memuntahkan lendir tersebut bersama dengan sedikit susu setelah ia menyusu. Ini adalah cara tubuh untuk membersihkan jalan napasnya.

Seiring berjalannya waktu, refleks batuk Si Kecil akan makin matang. Sistem kekebalan tubuhnya juga perlahan menjadi lebih tangguh dalam menghadapi debu atau iritan ringan di udara. Dukungan terbaik yang bisa Anda berikan adalah menciptakan lingkungan yang bersih dan memantau perkembangannya.

Cara mengatasi bayi berdahak tetapi tidak batuk

Meskipun kondisi ini sering kali bisa sembuh sendiri, melihat buah hati merasa kurang nyaman tentu membuat kita ingin melakukan sesuatu untuk meringankan kondisinya ya, Moms. Berikut ini beberapa cara yang bisa Anda coba terapkan di rumah.

1. Terus berikan ASI

Menjaga tubuh bayi tetap terhidrasi adalah kunci utama untuk mengencerkan dahak. Cairan yang cukup akan membuat lendir di tenggorokan menjadi lebih encer dan mudah ditelan. Teruslah berikan Si Kecil ASI. Jika Anda menyusui, pelukan dan kehangatan kulit Anda saat memberikan ASI juga memberikan efek menenangkan yang luar biasa bagi Si Kecil.

2. Manfaatkan kelembapan udara

Udara yang kering dapat membuat dahak menjadi kental dan sulit bergerak. Anda bisa menggunakan mesin pelembap udara (humidifier) di kamar tidur bayi untuk menjaga kualitas sirkulasi. Alternatif lainnya, cobalah bawa Si Kecil ke dalam kamar mandi yang telah dipenuhi uap air hangat dari pancuran selama beberapa menit. Uap hangat ini berfungsi alami untuk melegakan jalur napasnya.

3. Lakukan pijatan lembut dan tepukan di punggung

Posisikan Si Kecil tengkurap di pangkuan Anda atau sandarkan dadanya di bahu Anda. Lakukan tepukan sangat ringan menggunakan telapak tangan yang sedikit ditekuk (seperti mangkuk) pada area punggungnya. Getaran lembut dari tepukan ini bisa membantu melonggarkan lendir yang menempel di saluran napas.

4. Pastikan posisi tidur bayi nyaman

Saat Si Kecil tidur, cobalah sedikit meninggikan posisi kepalanya. Anda bisa meletakkan lipatan handuk di bawah kasur (bukan langsung di bawah kepala bayi) agar posisinya sedikit lebih tinggi. Gravitasi akan membantu mencegah lendir menumpuk di area hidung dan tenggorokan belakang.

Baca juga: Ini Posisi Tidur Bayi yang Tepat saat Batuk Pilek

Menghadapi fase bayi berdahak tanpa batuk memang menuntut kesabaran serta observasi yang teliti. Dengan memahami anatomi tubuh bayi yang masih berkembang dan mengenali tanda-tanda bahaya, Anda dapat merawatnya dengan percaya diri. Namun, jika kondisi ini berlangsung lebih dari 3 hari atau makin berat, Moms perlu bawa Si Kecil ke dokter untuk evaluasi lebih lanjut. (MB/SW/RF/Foto: Drazen Zigic/Freepik)