BABY

Fase Oral Bayi, Saat Si Kecil Senang Memasukkan Benda ke Mulut


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Pernah nggak sih Moms lagi santai pegang mainan, tiba-tiba Si Kecil langsung meraih dan memasukkannya ke mulut? Atau lagi asik main tapi sering kali sambil mengemut jarinya. Kalau Moms baru pertama kali punya bayi, momen seperti ini mungkin bikin panik sendiri. Fase oral bayi ini memang sering mengkhawatirkan banyak ibu baru.

Tapi tenang, Moms, fase oral merupakan tahapan tumbuh kembang yang wajar dialami bayi. Ini bukan hal aneh, justru jadi bagian penting dari tumbuh kembang Si Kecil. Di balik fase yang terlihat sepele ini, ada beberapa hal yang perlu Moms pahami agar bisa mendampingi dengan tepat, sekaligus tahu kapan harus waspada.

Apa itu fase oral bayi dan kapan biasanya terjadi?

Fase oral adalah tahap perkembangan di mana mulut jadi alat utama Si Kecil untuk mengenal dunia sekitarnya. Mulut menjadi indra yang paling sensitif bagi mereka, jauh lebih peka dibandingkan tangan. Tidak heran jika hampir semua benda yang berhasil digenggam akan berakhir di mulut terlebih dahulu.

Kebiasaan ini bukan sekadar iseng, Moms. Melalui mulut, Si Kecil sebenarnya sedang mempelajari banyak hal, mulai dari mengenali tekstur, suhu, hingga bentuk benda yang dipegangnya. Jadi, ketika Moms melihat Si Kecil terlihat serius mengunyah mainan atau jarinya sendiri, itu tandanya ia sedang fokus belajar bukan sekadar melakukan hal iseng. Bagi bayi, mulut ibarat alat pemindai pribadi yang jauh lebih peka dibandingkan dengan tangannya pada usia tersebut.

Fase ini biasanya mulai terlihat sejak usia 2-3 bulan, dan puncaknya di usia 4-7 bulan, terutama jika bertepatan dengan momen tumbuh gigi pertama. Namun, kebiasaan ini juga bisa berlanjut hingga usia 1-2 tahun, tergantung masing-masing anak. Sebagian bayi cukup cepat melewati fase ini, sementara sebagian lainnya masih terus melakukannya hingga usia lebih dari satu tahun. Jika Si Kecil termasuk yang membutuhkan waktu lebih lama, Moms tidak perlu khawatir, karena hal tersebut masih tergolong wajar.

Mengapa bayi memasukan tangan dan benda ke mulut?

Hal ini mungkin sering menjadi pertanyaan dalam benak Anda. Salah satu alasannya adalah sebagai bentuk eksplorasi. Mulut bayi memiliki banyak ujung saraf sensorik, sehingga melalui mulut mereka dapat mengenali tekstur, suhu, hingga bentuk suatu benda jauh lebih detail dibandingkan dengan hanya diraba dengan tangan.

Kebiasaan ini juga merupakan bagian dari perkembangan motorik, karena gerakan mengarahkan tangan ke mulut melatih koordinasi mata dan tangan, sekaligus melatih otot rahang yang nantinya berguna untuk kemampuan makan dan berbicara Si Kecil di kemudian hari.

Kebiasaan memasukan sesuatu ke mulut ini juga kadang menjadi cara Si Kecil menenangkan diri sendiri, terutama saat rewel, mengantuk, atau lelah, karena gerakan mengisap memang memiliki efek menenangkan yang alami bagi bayi. Jadi, jika Si Kecil terlihat tenang setelah jarinya masuk ke mulut, hal tersebut wajar terjadi karena ia sedang mencari kenyamanan bagi dirinya sendiri.

Perbedaan eksplorasi normal, tanda lapar, tumbuh gigi, dan kebiasaan menenangkan diri

Bagian ini mungkin sering membuat Moms bingung, karena sekilas tanda-tandanya terlihat mirip satu sama lain. Padahal, jika diperhatikan lebih saksama, sebenarnya terdapat perbedaan yang cukup jelas, hanya saja Moms perlu lebih jeli mengamati gerak-gerik Si Kecil.

Saat Si Kecil sedang melakukan eksplorasi normal, biasanya ia terlihat santai, matanya penasaran, dan bisa mudah dialihkan ke benda lain. Berbeda saat ketika ia sedang lapar, biasanya akan disertai rooting reflex, yaitu reflek menoleh dan membuka mulut ke arah pipi yang disentuh, mulai rewel, atau tangan mengepal, dan gerakan mengisapnya pun lebih terburu-buru dibandingkan saat ia sedang bereksplorasi.

Namun, jika Si Kecil sedang tumbuh gigi, biasanya gigitannya menjadi lebih kuat dan lebih sering, gusinya terlihat sedikit bengkak atau kemerahan, dan air liurnya lebih banyak daripada biasanya hingga bajunya kerap basah.

Sedangkan jika Si Kecil bertujuan untuk menenangkan dirinya sendiri, biasanya muncul pada situasi tertentu, misalnya menjelang tidur, saat lelah, atau berada di tempat baru yang membuatnya sedikit cemas. Memang dibutuhkan pengalaman untuk memahami hal ini dengan mudah, Moms. Namun, semakin sering diperhatikan, Anda akan semakin peka terhadap pola yang ditunjukkan Si Kecil.

Cara mendukung eksplorasi oral yang aman

1. Pilih mainan yang memang dirancang khusus untuk digigit

Pilih mainan berbahan silikon food grade atau karet bebas BPA, karena bahan ini aman apabila tergigit atau terkulum lama di mulut Si Kecil. Pastikan pula ukurannya cukup besar dan tidak mudah patah atau pecah menjadi bagian kecil, agar tidak berisiko tertelan utuh atau tersangkut di tenggorokan.

2. Bersihkan mainan dan benda yang sering dipegang Si Kecil secara rutin

Karena hampir semua benda di sekitarnya akan berakhir di mulut, kebersihan menjadi hal yang wajib diperhatikan. Cuci mainan secara berkala dengan air hangat dan sabun yang aman untuk bayi, serta sediakan beberapa mainan cadangan yang dapat digunakan saat mainan lain sedang dicuci.

3. Simpan benda-benda berbahaya jauh dari jangkauan

Baterai kancing, koin, obat-obatan, kancing baju, atau mainan dengan bagian kecil yang mudah lepas harus benar-benar dijauhkan dari area bermain Si Kecil, karena benda-benda tersebut sangat berisiko apabila tertelan. Moms juga perlu rutin memeriksa lantai dan area bermain, untuk memastikan tidak ada benda kecil yang tertinggal tanpa disadari.

4. Sediakan teether saat gusinya terasa tidak nyaman

Apabila Si Kecil terlihat lebih rewel karena tumbuh gigi, Moms dapat mendinginkan teether di kulkas terlebih dahulu sebelum diberikan. Sensasi dingin ini umumnya cukup efektif meredakan rasa tidak nyaman pada gusi Si Kecil.

5. Selalu awasi Si Kecil saat sedang melakukan eksplorasi

Meskipun mainan yang diberikan sudah aman, pengawasan tetap menjadi kunci utama, terutama pada usia-usia awal seperti ini. Hindari meninggalkan Si Kecil sendirian dalam waktu lama saat sedang bermain, karena hal-hal yang tidak diinginkan bisa saja terjadi dalam hitungan detik.

Kapan perlu waspada dan berkonsultasi ke dokter

1. Tanda-tanda tersedak yang membutuhkan penanganan segera

Apabila Si Kecil tiba-tiba batuk sangat keras, terlihat sulit bernapas, wajahnya mulai membiru, atau justru tidak dapat mengeluarkan suara sama sekali setelah memasukkan sesuatu ke mulut, ini merupakan tanda darurat yang harus segera ditangani. Moms perlu segera melakukan pertolongan pertama tersedak pada bayi atau membawa Si Kecil ke fasilitas kesehatan terdekat.

2. Gejala yang mengarah pada keracunan

Perlu diwaspadai apabila Si Kecil tiba-tiba terlihat sangat lemas, muntah berulang kali, air liur keluar berlebihan disertai iritasi kemerahan di sekitar mulut, atau terdapat bau tidak biasa dari mulutnya setelah memegang benda tertentu. Kondisi ini dapat menjadi indikasi keracunan, misalnya akibat baterai kancing yang tertelan atau paparan zat kimia rumah tangga, sehingga membutuhkan penanganan medis secepatnya.

3. Pola eksplorasi oral yang terlalu dominan atau justru tidak muncul sama sekali

Apabila hingga usia 12-18 bulan Si Kecil masih sangat dominan memasukkan berbagai benda ke mulut hingga mengganggu aktivitas lain seperti makan atau bermain, hal ini perlu didiskusikan lebih lanjut dengan dokter anak. Sebaliknya, apabila Si Kecil sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada eksplorasi oral padahal usianya sudah memasuki rentang fase tersebut, Moms juga disarankan berkonsultasi untuk memastikan tumbuh kembangnya berjalan sesuai tahapan yang seharusnya.

Moms tidak perlu terlalu cemas menghadapi fase oral bayi ini, karena hal ini justru menjadi pertanda Si Kecil sedang aktif belajar mengenal dunianya. Yang terpenting, Moms tetap memastikan lingkungan sekitarnya aman dan selalu dalam pengawasan. Apabila muncul tanda-tanda yang mengkhawatirkan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anak agar Moms mendapatkan penanganan yang tepat.(MB/RA/RF/Foto: Freepik)