KID

Susu untuk Anak Stunting, Kenali Kriteria dan Jenisnya yang Tepat


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Istilah stunting mungkin sudah sering Anda dengar ya, Moms. Kondisi ini bukan sekadar tubuh anak yang terlihat lebih pendek, melainkan sebuah indikasi adanya gangguan pertumbuhan akibat kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Banyak orang tua yang mencari susu untuk anak stunting karena dipercaya dapat mengatasi masalah gizi pada anak.

Data terbaru Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 membawa kabar baik: Prevalensi stunting nasional turun dari 21,5% pada 2023 menjadi 19,8% pada 2024, berhasil mencegah sekitar 337.000 balita dari risiko gagal tumbuh. Meski begitu, perjalanan masih panjang. Pemerintah menargetkan angka ini turun menjadi 14,2% pada 2029.

Salah satu cara terbaik mendukung tumbuh kembang anak yang berisiko stunting adalah dengan pemberian susu yang disarankan oleh dokter anak. Namun, pertanyaannya, susu seperti apa yang benar-benar efektif membantu proses kejar tumbuh? Apakah susu formula biasa di minimarket sudah cukup, atau anak butuh sesuatu yang lebih khusus? Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

Baca juga: Memahami Stunting: Ciri, Penyebab, dan Cara Tepat Mencegahnya

Kenapa susu bisa membantu pemulihan anak berisiko stunting?

Stunting terjadi akibat kekurangan gizi kronis, dan sering kali penyebabnya sudah dimulai sejak masa kehamilan. Artinya, memenuhi kebutuhan gizi anak, termasuk melalui susu, adalah bagian penting dari upaya mengejar ketertinggalan pertumbuhan.

Susu berperan penting dalam pemulihan anak berisiko stunting karena beberapa alasan berikut:

  1. Sumber protein hewani berkualitas. Protein hewani seperti yang terkandung dalam susu membantu membangun jaringan otot dan mendukung pertumbuhan linear anak. Protein hewani, baik dari telur, ikan, daging, maupun susu harus tersedia setiap hari dalam menu anak yang mengalami weight faltering atau stunting.
  2. Kalsium untuk pertumbuhan tulang. Anak yang mengalami stunting butuh dukungan ekstra untuk pertumbuhan tulang dan tinggi badan, dan kalsium dari susu bisa menjadi salah satu komponen kuncinya.
  3. Energi padat dalam volume kecil. Anak dengan gizi kurang sering kali punya nafsu makan yang rendah. Susu menawarkan solusi praktis karena mampu memberikan kalori tinggi dalam volume yang tidak terlalu banyak, sehingga lebih mudah dihabiskan dibandingkan makanan padat dalam porsi besar.
  4. Mikronutrien pendukung tumbuh kembang. Zinc dan zat besi—dua mineral yang sering kurang pada anak stunting—juga banyak terkandung dalam susu, mendukung fungsi imun dan perkembangan kognitif anak.

Baca juga: 7 Manfaat Zat Besi untuk Bayi, Bisa Bantu Mencegah Stunting

Kriteria susu yang tepat untuk membantu kejar tumbuh anak

Tidak semua susu diciptakan setara untuk kebutuhan kejar tumbuh. Berikut ini kriteria yang perlu Moms perhatikan saat memilih susu untuk anak yang berisiko stunting atau mengalami gizi kurang.

  1. Kepadatan kalori tinggi. Susu yang ideal untuk kejar tumbuh mengandung energi sekitar 1 hingga 1,5 kkal per cc. Ini jauh lebih padat dibandingkan susu biasa, sehingga anak bisa mendapatkan kalori yang cukup meski minum dalam jumlah terbatas.
  2. Rasio protein energi (PER) yang memadai. Susu yang baik untuk kejar tumbuh idealnya memiliki PER (Protein Energy Ratio) minimal 10%, sesuai standar yang direkomendasikan WHO. Semakin tinggi rasio ini, semakin optimal dukungannya terhadap pembentukan massa otot anak.
  3. Kandungan mikronutrien lengkap. Pastikan susu mengandung zinc, zat besi, kalsium, dan vitamin A dalam jumlah yang sesuai kebutuhan anak. Kombinasi ini penting untuk mendukung imunitas sekaligus pertumbuhan fisik.
  4. Mudah dicerna dan diserap tubuh. Anak dengan gizi buruk sering kali mengalami gangguan metabolisme atau pencernaan yang belum optimal. Susu dalam bentuk cair atau bubuk yang mudah dilarutkan akan lebih mudah dikonsumsi dan diserap dibandingkan makanan padat.
  5. Sesuai dengan usia dan kondisi klinis anak. Kebutuhan susu anak di bawah 12 bulan berbeda dengan anak di atas 12 bulan, begitu juga kebutuhan anak yang murni stunting dibandingkan anak yang stunting sekaligus mengalami gizi kurang atau gizi buruk.

Susu formula biasa vs susu medis khusus (PKMK) untuk stunting, apa bedanya?

Ini bagian yang sering membingungkan orang tua. Di rak minimarket, kita akan menemukan banyak "susu pertumbuhan" biasa. Namun, untuk anak dengan kondisi gizi kurang atau gizi buruk yang menyertai stunting, dokter biasanya merekomendasikan Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus, atau yang dikenal sebagai PKMK.

Apa itu PKMK?

PKMK adalah kategori pangan yang diatur secara resmi melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 29 Tahun 2019 tentang Penanggulangan Masalah Gizi bagi Anak Akibat Penyakit. Berbeda dengan susu formula pertumbuhan biasa, PKMK dirancang khusus dengan kandungan nutrisi yang disesuaikan secara ketat dengan angka kecukupan gizi anak yang mengalami masalah tumbuh kembang.

Perbedaan utama PKMK dan susu formula biasa

  1. Kepadatan kalori: PKMK umumnya mengandung 1 hingga 1,5 kkal per cc, jauh lebih tinggi dibandingkan susu formula pertumbuhan standar.
  2. Tujuan penggunaan: Susu formula pertumbuhan biasa ditujukan untuk anak dengan status gizi normal sebagai pelengkap nutrisi harian. PKMK dirancang khusus sebagai bagian dari terapi medis untuk anak dengan gizi kurang, gizi buruk, atau stunting yang membutuhkan intervensi lebih agresif.
  3. Basis pemberian: PKMK idealnya diberikan berdasarkan rekomendasi tenaga medis, lengkap dengan dosis dan pemantauan berkala. Susu formula biasa umumnya dikonsumsi tanpa pengawasan medis khusus.
  4. Kandungan nutrisi: Pangan lokal atau susu formula sehari-hari sering kali tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan anak. PKMK diformulasikan khusus untuk mengisi celah tersebut.

Kapan anak membutuhkan PKMK, bukan susu formula biasa?

Berdasarkan panduan tata laksana gizi, pemberian PKMK disesuaikan dengan kondisi spesifik anak, misalnya:

  • Anak di bawah 12 bulan dengan stunting dan gizi buruk membutuhkan PKMK 1 kkal/cc sebanyak 8 x 100 ml per hari.
  • Anak di atas 12 bulan dengan kondisi serupa membutuhkan PKMK dengan kepadatan kalori 1,5 kkal/cc, juga sebanyak 8 x 100 ml per hari.

Anak yang stunting tetapi status gizi (WHZ dan WAZ) masih dalam batas tertentu bisa cukup dengan susu formula follow-up dengan PER minimal 10%, sebanyak 500 ml per hari.

Pilih PKMK jika anak Anda didiagnosis mengalami stunting yang disertai gizi kurang atau gizi buruk. Namun, jika status gizi anak masih relatif baik meski tinggi badannya di bawah standar, susu formula follow-up biasa dengan kandungan protein yang memadai bisa menjadi pilihan yang lebih sesuai. Keputusan ini sebaiknya tetap melalui pemeriksaan tenaga medis.

Cara memberikan susu sebagai bagian dari penanganan stunting yang tepat

Susu memang penting, tetapi ia hanya satu bagian dari keseluruhan strategi penanganan stunting. Berikut ini cara memberikannya dengan tepat:

  1. Ikuti dosis dan jadwal yang direkomendasikan. Jangan asal memberikan susu sesuka anak. Dosis PKMK, misalnya, dihitung berdasarkan berat badan, usia, dan status gizi anak, lalu dipantau secara berkala—biasanya setiap dua minggu—untuk melihat perkembangan.
  2. Jangan jadikan susu pengganti makanan utama. Susu berfungsi melengkapi, bukan menggantikan menu makanan padat bergizi. Pastikan anak tetap mendapatkan protein hewani harian dari sumber lain, seperti telur, ikan, ayam, hati, atau daging.
  3. Terapkan jadwal makan yang konsisten (food rules). Anak sebaiknya makan secara teratur, misalnya setiap empat jam, dan tidak diberi camilan atau susu berlebihan di luar jadwal tersebut agar nafsu makan untuk makanan utama tidak terganggu.
  4. Berikan ASI di malam hari. Bagi anak yang masih menyusu, ASI di malam hari tetap penting sebagai sumber nutrisi tambahan yang mendukung proses tumbuh kejar.

Penanganan stunting selain susu, apa saja yang perlu dilakukan?

Susu bukan satu-satunya jawaban. Penanganan stunting yang komprehensif juga melibatkan:

  • ASI eksklusif sejak lahir hingga usia 6 bulan sebagai fondasi gizi awal anak.
  • Pemberian makanan tambahan (PMT) yang kaya protein hewani dan energi.
  • Suplementasi mikronutrien, termasuk vitamin A dan tablet tambah darah bagi remaja putri dan ibu hamil sebagai langkah pencegahan sejak dini.
  • Imunisasi lengkap untuk menjaga anak dari infeksi berulang yang dapat memperburuk status gizi.
  • Pemantauan pertumbuhan rutin di Posyandu, termasuk pengukuran berat dan tinggi badan secara berkala.
  • Perbaikan sanitasi dan akses air bersih, karena infeksi akibat sanitasi buruk turut menyumbang risiko stunting.

Kombinasi susu yang tepat dengan intervensi-intervensi ini akan memberikan hasil yang jauh lebih optimal dibandingkan hanya mengandalkan satu aspek saja.

Pentingnya konsultasi dokter sebelum memilih susu untuk anak stunting

Memilih susu untuk anak stunting bukan keputusan yang sebaiknya Moms ambil sendiri berdasarkan ulasan online atau rekomendasi tetangga. Setiap anak punya kondisi klinis yang berbeda, dan kesalahan dalam pemilihan jenis atau dosis susu bisa membuat proses pemulihan menjadi kurang efektif, atau bahkan menimbulkan masalah baru.

Dokter anak atau ahli gizi akan melakukan penilaian menyeluruh terhadap status gizi anak—melalui indikator seperti berat badan menurut tinggi badan (WHZ) dan berat badan menurut usia (WAZ)—sebelum menentukan apakah anak membutuhkan PKMK atau cukup dengan susu formula follow-up biasa.

Pemantauan berkala, biasanya setiap dua minggu, juga penting dilakukan untuk memastikan anak menunjukkan kenaikan berat badan yang sesuai target, sekitar 50 gram per kilogram berat badan per minggu selama masa pemulihan aktif. Tenaga medis juga siap membantu menyusun rencana pemulihan yang paling sesuai dengan kebutuhan Si Kecil.

Itulah penjelasan mengenai susu untuk anak stunting. Jika Moms merasa khawatir tentang tumbuh kembang Si Kecil, jangan tunda untuk membawanya ke dokter anak atau ahli gizi terdekat. Semakin cepat kondisi ini ditangani, semakin besar peluang anak untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhannya. (MB/SW/RF/Foto: Magnific)