Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Bagi sebagian Moms, kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, baik untuk menemani pagi sebelum bekerja maupun saat bersantai di sela kesibukan. Namun, ketika mengetahui sedang hamil, kebiasaan ini mungkin membuat Moms bertanya-tanya, apakah ibu hamil boleh minum kopi?
Kabar baiknya, ibu hamil tidak selalu harus menghindari kopi sepenuhnya. Konsumsi kafein masih diperbolehkan dalam jumlah terbatas. Namun, Moms perlu memerhatikan total kafein dari berbagai sumber makanan dan minuman, bukan hanya kopi. Yuk, simak batas konsumsi yang dianjurkan dan beberapa hal yang perlu diperhatikan selama kehamilan.
Ibu hamil boleh minum kopi, asalkan tidak berlebihan
Kafein dapat melewati plasenta dan masuk ke aliran darah janin. Karena tubuh janin belum mampu memetabolisme kafein seefektif orang dewasa, zat ini bisa bertahan lebih lama di dalam tubuhnya. Inilah salah satu alasan mengapa ibu hamil disarankan membatasi konsumsi kafein.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG), dan European Food Safety Authority (EFSA) merekomendasikan batas konsumsi kafein maksimal 200 mg per hari selama kehamilan.
Meski demikian, penelitian mengenai kafein dan kehamilan masih menunjukkan hasil yang beragam. Tinjauan yang diterbitkan dalam BMJ Evidence-Based Medicine pada 2020 menyebutkan bahwa belum ada tingkat konsumsi kafein yang dapat dipastikan sepenuhnya bebas risiko.
Karena itu, Moms sebaiknya menjadikan 200 mg sebagai batas maksimum, bukan jumlah yang harus dikonsumsi setiap hari. Jika memungkinkan, mengurangi asupan kafein secara bertahap bisa menjadi pilihan.
Berapa banyak kafein dalam kopi dan minuman lain?
Kafein tidak hanya ditemukan dalam kopi, tetapi juga teh, cokelat, minuman bersoda, dan beberapa jenis obat. Bahkan, kopi yang dijual di kedai bisa memiliki kandungan kafein berbeda, bergantung pada ukuran gelas, jumlah espresso, dan cara penyeduhannya.
Berikut perkiraan kandungan kafein dalam beberapa minuman dan makanan sehari-hari.
Angka tersebut merupakan perkiraan dan dapat berbeda sesuai produk serta metode pengolahan. Sebagai contoh, satu gelas kopi susu dengan dua shot espresso dan segelas teh hijau bisa mengandung sekitar 154 mg kafein. Jika Moms masih mengonsumsi cokelat atau minuman berkafein lainnya, jumlah totalnya tentu akan bertambah.
Moms juga perlu memerhatikan ukuran sajian dan tanyakan jumlah shot kepada barista jika diperlukan. Jika membeli kopi kemasan, periksa label untuk mengetahui kandungan kafeinnya.
Apa risiko jika ibu hamil mengonsumsi kafein berlebihan?
Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara konsumsi kafein dalam jumlah tinggi dan beberapa risiko selama kehamilan. Meski hasilnya belum selalu seragam, Moms tetap perlu memerhatikan asupan harian.
- Berat badan lahir bayi lebih rendah: Beberapa penelitian mengaitkan konsumsi kafein selama kehamilan dengan berat badan lahir bayi yang lebih rendah.
- Risiko keguguran: Asupan kafein yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko keguguran dalam sejumlah penelitian. Namun, hubungan tersebut tidak selalu membuktikan bahwa kafein menjadi penyebab langsung.
- Jantung berdebar dan gangguan tidur: Kafein dapat meningkatkan kewaspadaan, tetapi juga memicu jantung berdebar atau membuat Moms lebih sulit tidur.
- Asupan gula berlebihan: Kopi susu kekinian sering mengandung tambahan gula dan sirup. Moms bisa meminta takaran gula dikurangi untuk membantu mengontrol asupan harian.
Moms yang memiliki tekanan darah tinggi, riwayat preeklampsia, atau kondisi kehamilan tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mengenai konsumsi kopi yang sesuai.
Lebih baik memilih kopi biasa atau decaf?
Jika masih ingin menikmati kopi dengan asupan kafein lebih rendah, kopi decaf bisa menjadi alternatif. Kopi ini telah melalui proses pengurangan kafein dan umumnya hanya mengandung sekitar 2–5 mg kafein per cangkir. Meski jumlahnya jauh lebih rendah daripada kopi biasa, decaf tetap tidak sepenuhnya bebas kafein. Jadi, Moms tetap perlu memerhatikan jumlah yang dikonsumsi.
Alternatif lainnya adalah memilih kopi berukuran kecil, meminta satu shot espresso saja, atau mencoba half-caf, yaitu campuran kopi biasa dan decaf. Dengan begitu, Moms masih bisa menikmati rasa kopi tanpa mengonsumsi terlalu banyak kafein.
Tips mengurangi kebiasaan minum kopi selama kehamilan
Bagi Moms yang terbiasa minum kopi setiap hari, mengurangi konsumsinya mungkin terasa sulit. Supaya lebih nyaman, coba lakukan secara bertahap melalui beberapa cara berikut.
- Kurangi porsi perlahan: Jika biasanya minum dua cangkir sehari, coba kurangi jumlahnya secara bertahap untuk membantu mengurangi sakit kepala akibat penghentian kafein mendadak.
- Pilih ukuran kecil atau decaf: Moms tetap bisa menikmati kopi sambil mengurangi jumlah kafein yang masuk ke tubuh.
- Cari minuman alternatif: Susu hangat atau air putih bisa menjadi pilihan. Jika ingin mencoba teh herbal, pastikan jenisnya aman untuk kehamilan dengan berkonsultasi kepada dokter.
- Cukupi kebutuhan cairan dan istirahat: Minum air putih dan tidur yang cukup dapat membantu Moms merasa lebih nyaman saat mengurangi konsumsi kafein.
- Kurangi tambahan gula: Jika memesan kopi susu, Moms bisa meminta takaran gula lebih sedikit agar asupan gula harian tetap terkontrol.
Itulah informasi terkait keamanan ibu hamil minum kopi. Saat hamil bukan berarti Moms harus langsung merasa bersalah karena masih ingin minum kopi. Hal terpenting adalah memahami batas konsumsi hariannya.
Jika tidak sengaja mengonsumsi kafein melebihi batas yang dianjurkan, jangan langsung panik. Satu kali konsumsi berlebih tidak otomatis berarti Si Kecil akan mengalami masalah. Moms bisa kembali membatasi asupan berikutnya dan berkonsultasi dengan dokter jika merasa khawatir.(MB/RA/RF/Foto: Magnific)