FAMILY & LIFESTYLE

Cerita Cisca Becker: Jakarta Untuk Anak-Anakku



Saat saya menulis artikel ini, Jakarta baru saja mengakhiri masa Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah). Semua orang membahas hasil quick count yang menyatakan dengan jelas siapa pemenangnya yang notabene adalah calon pemimpin kita beberapa bulan mendatang. Bagi yang berteman dengan saya di Facebook dan Twitter, tentu sudah mengetahui siapa pilihan saya yang artinya bisa menebak bagaimana perasaan saya saat ini.

Saya sadar, ini adalah bagian dari proses demokrasi. Seyogyanya saya dan semua warga Jakarta harus bisa “move on” dan menerima hasil pilkada ini, siapapun pilihan kita. Tapi, setelah sekian lama menyaksikan drama dan pertarungan politik yang saban hari diperlihatkan para elit, saya merasa butuh waktu sejenak untuk memproses segala sesuatunya. Untuk bisa “move on” saya perlu mengeluarkan isi hati saya. Saya perlu melampiaskan semua pergulatan emosi yang saya rasakan. Dan, cara terbaik yang saya tahu adalah dengan menulis. So here it goes!

Saya adalah ibu dari dua anak perempuan. Seperti halnya semua ibu lain, anak-anak saya adalah pusat semesta saya. Apapun dalam hidup saya, pasti saya hubungkan kepada mereka, tidak terkecuali momen Pilkada DKI Jakarta. Anak-anak sayalah yang menjadi sumber pemikiran mengenai siapa yang saya pilih menjadi Gubernur DKI Jakarta 5 tahun ke depan. Siapa yang saya anggap bisa menjadi role model yang baik dan yang bisa menciptakan lingkungan hidup yang sehat serta aman untuk anak-anak saya.

Saat hasil quick count keluar, yang pertama terpikir kembali adalah anak-anak saya. Bagaimana dengan masa depan mereka? Apa yang harus saya jelaskan kepada mereka mengenai kondisi Jakarta? Apakah kepentingan mereka akan dilindungi?Lalu langsung saya sadari, siapapun Gubernurnya, beliau memiliki tanggung jawab sama untuk memastikan bahwa semua kebutuhan dasar warga Jakarta terjamin. Saya sebagai warga dengan KTP Jakarta memiliki hak untuk untuk menuntut Gubernur dan Wakil Gubernur saya untuk melaksanakan tugas mereka sebaik-baiknya, bagi SEMUA warga Jakarta, bukan hanya yang memilih mereka.

Karena itu, sebagai seorang ibu, saya ingin menuntut agar pemimpin Jakarta berikutnya bisa meneruskan semua pekerjaan besar yang telah dimulai, dengan memikirkan kepentingan rakyat di atas segalanya. Terlebih, memikirkan masa depan anak-anak kita.

Jadi bagi Bapak-bapak calon pejabat, inilah Jakarta yang saya inginkan untuk anak-anak saya.

Jakarta yang Aman.

Aman dari rasa takut. Walaupun mereka perempuan, saya mau mereka aman dari rasa was-was saat berjalan sendirian. Saya mau mereka aman dari semua bentuk intimidasi dan tekanan. Aman dari semua sikap dan aksi intoleransi. Aman dari segala sikap merendahkan. Saya mau merasa merasa aman karena tahu hak mereka dijaga dan ditegakkan oleh semua pihak berkepentingan.

Jakarta yang Bersih.

Saya menginginkan Jakarta yang bersih dari sampah dan kotoran yang menutup sungai-sungai. Saya tidak ingin anak-anak terbiasa melihat kondisi sungai yang biasa saya lihat di zaman kecil saya, serta menganggapnya sebagai hal biasa, seperti yang terjadi pada generasi saya. Kenapa? Karena mereka berhak memiliki kota yang bersih, hijau dan manusiawi.

Saya juga ingin mereka hidup di Jakarta yang bersih dari kebencian. Saya tidak mau mereka hidup dalam suasana penuh kebencian yang dipelihara dan bahkan dibanggakan. Saya mau anak-anak menganggap keberagaman di sekitar mereka sebagai kekuatan bersama, bukan kelemahan.

Sayapun ingin mereka tumbuh sebagai manusia yang memiliki pandangan bahwa yang terpenting dari manusia lain bukanlah warna kulit atau atribut yang dipakai atau bahkan cara beribadah. Akan tetapi, bagaimana mereka bersikap dan memperlakukan manusia lain. Saya ingin anak-anak saya mendapatkan pelajaran ini dari lingkungan mereka.

Jakarta yang Bahagia.

Saya ingin mereka menjalani hari-hari dengan bahagia, sembari menikmati fasilitas umum yang layak. Saya ingin mereka tahu hak dasar seperti akses pendidikan dan akses kesehatan berkualitas bisa dinikmati oleh semua warga Jakarta. Dengan begitu mereka hidup di tengah masyarakat yang bahagia dan bangga akan kotanya.

Warga yang bahagia dan bangga akan dengan senang hati menjaga dan merawat kota mereka. Saya juga ingin mereka bahagia, agar mereka bisa bermimpi sebesar-besarnya dan memiliki cita-cita setinggi-tingginya. Saya ingin anak-anak saya bisa memiliki kesempatan yang sama dengan siapapun juga warga Jakarta lainnya, untuk mewujudkan mimpi mereka. Apapun gender mereka, apapun latar belakang mereka, darimanapun asal kakek nenek buyut mereka, semua bisa menjadi apapun yang mereka mau, asal memiliki niat kuat, hati bersih, dan kemauan untuk kerja keras. Saya bayangkan, dengan dasar hati yang bahagia ini, semua warga akan saling menghormati, saling menghargai, saling membantu, dan saling melengkapi.

Demikian Bapak-bapak yang terhormat, curahan hati seorang emak-emak Jakarta. Saya yakin saya tidak sendirian karena saya tahu banyak emak-emak lain yang memiliki pemikiran yang sama. Sebagai catatan terakhir, mungkin saja kami akan kelimpungan dengan segala tugas emak-emak sehari-harinya. Tapi jangan berpikir kami tidak akan menyadari dan mengawasi kinerja Bapak-bapak sekalian.

Kami adalah generasi baru Emak-Emak Jakarta. Kami adalah emak-emak yang sudah melek politik. Kami bukan lagi golongan yang pasif dan antipati akan semua proses politik. Kami sudah merasakan perubahan positif semua pembangunan di kota kami dan sudah melihat contoh nyata cara kerja pro-rakyat, jadi kami tidak akan tinggal diam jika melihat hal sebaliknya. Kami sudah mengerti apa saja hak dan kewajiban kami sebagai warga kota Jakarta dan tidak akan segan menyuarakan agar keadilan dan kemanusiaan selalu ditegakkan dan diutamakan.

Kami tahu semua perkembangan yang telah dijalani masih jauh dari sempurna dan masih banyak pekerjaan besar yang harus dilalui. Jadi dengan senang hati kami akan bekerja sama dengan semua pihak dan memberikan kontribusi kami masing-masing, untuk menciptakan Jakarta yang lebih baik. Untuk kita, dan terutama untuk anak-anak kita. (Cisca Becker/Dok. Pinterest.com)