TODDLER

Extended Breastfeeding: Ini Manfaatnya untuk Anak dan Ibu



Buat sebagian ibu, praktik extended breastfeeding memang bisa membuat alis meninggi dan memunculkan rasa heran. Ya, extended breastfeeding atau kondisi di mana seorang ibu masih menyusui anaknya yang sudah berusia di atas dua tahun bukanlah hal yang dapat diterima oleh semua orang.

Meskipun begitu, tidak ada aturan yang melarang Moms menghentikan proses menyusui saat anak berusia 2 tahun. Proses menyusui memang dianjurkan untuk dilakukan sampai usia Si Kecil 2 tahun. Namun tak sedikit ibu yang memperpanjang masa menyusui atau istilahnya extended breastfeeding, hingga anak memasuki usia balita.

Baca juga: Extended Breastfeeding: Saat Balita Masih Tetap Menyusu

Bahkan, ada sejumlah alasan mengapa Anda tak perlu benar-benar menghentikan proses menyusui Si Kecil pada usia tertentu. M&B telah merangkum beberapa manfaat terbaik dari extended breastfeeding, yakni:

1. Memenuhi Nutrisi

Mungkin tak sedikit orang yang mengira bahwa gizi ASI akan hilang seiring dengan berjalannya waktu. Padahal, anggapan tersebut tak sepenuhnya benar. Sebuah penelitian yang dimuat pada jurnal Maternal & Child Nutrition di tahun 2017 menemukan bahwa kandungan nutrisi pada ASI hampir seluruhnya sama selama tahun kedua.

Walau kandungan zinc dan potasium menurun, protein meningkat di tahun kedua. Penelitian lainnya yang dimuat pada jurnal Pediatrics di tahun 2005 menemukan bahwa setelah setahun pertama ASI mengandung lebih banyak energi dan lemak baik, sehingga dapat berguna untuk kecukupan gizi Si Kecil.

2. Mendorong Imunitas

ASI terbukti mampu mendukung sistem pertahanan tubuh Si Kecil karena mengandung antibodi. Menurut laporan UNICEF yang berjudul Preventing Disease and Saving Resources di tahun 2012, semakin lama ibu menyusui anaknya, maka semakin banyak pula manfaat kesehatan bagi ibu dan anak.

Dinyatakan bahwa seorang anak butuh dua hingga enam tahun agar sistem imunnya dapat matang secara sempurna. Maka, Moms bisa tetap mendorong daya tahan tubuh Si Kecil optimal dengan menyusuinya.

3. Membuatnya Lebih Mandiri dan Percaya Diri

Bagi Si Kecil, menyusu dapat menyediakan kenyamanan dan keamanan. Layaknya peribahasa "Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui", selama proses menyusu terjadi momen bonding antara ibu dan anak. Hal ini memupuk rasa aman dan nyaman, baik bagi ibu dan anak.

Maka dari itu, menyusu dapat membantunya menenangkan diri dan mengatasi rasa takut serta stres. Seiring dengan bertumbuhnya Si Kecil, rasa percaya diri dan mandiri dapat dipupuk dengan menyediakan rasa aman dan nyaman dengan tetap menyusuinya.

4. Menyokong Perkembangan Otak

Tak diragukan lagi berbagai zat yang terkandung dalam ASI dapat sangat membantu proses perkembangan otaknya. Beberapa studi membuktikan bahwa menyusui membantu mendorong perkembangan otak Si Kecil. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di Brown University menemukan bahwa menyusui mampu mengoptimalkan perkembangan otak bayi sebanyak 20-30 persen.

5. Mendukung Kesehatan Ibu

Tak melulu untuk Si Kecil, extended breastfeeding juga sangat bermanfaat bagi ibu, baik dari segi kesehatan fisik maupun mental. Menurut sebuah penelitian yang dimuat di Journal of Women's Health di tahun 2018, menyusui setidaknya selama enam bulan berkaitan dengan ukuran pinggang dan pinggul yang lebih kecil, bahkan hingga 15 tahun setelah bersalin.

Academy of Breastfeeding Medicine (ABM) juga menyatakan bahwa durasi menyusui yang lebih lama berkaitan dengan berkurangnya risiko kanker payudara, kanker rahim, diabetes, hipertensi, obesitas, dan penyakit jantung. Selain itu, menyusui juga memberikan rasa nyaman, aman, dan bahagia bagi ibu, sehingga dapat membantu menjaga kesehatan mental ibu.

Extended Breastfeeding saat Hamil, Bisakah?

Sebenarnya menyusui balita saat hamil tetap bisa dilakukan, tapi dapat menjadi sangat melelahkan bagi Anda. Maka, berkonsultasi dengan dokter Anda dapat menjadi langkah pertama bila Anda berencana melakukan extended breastfeeding selama hamil. Selain itu, jumlah dan rasa ASI juga dapat berubah saat Anda hamil, sehingga besar kesempatan untuk Si Kecil mulai menyapih dengan mandiri. (Gabriela Agmassini/TW/SW/Dok. Freepik)