BABY

BAB Berdarah pada Bayi, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya



Meski Si Kecil belum bisa berkata-kata, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memahami kondisinya selama masih bayi, terutama melalui identifikasi kotoran atau fesesnya. Ya, Moms mungkin juga sudah tahu bahwa rupa kotoran bayi dapat berbeda-beda dan hal tersebut bisa menandakan kondisi kesehatan tertentu pada Si Kecil.

Sebagai contoh, feses bayi yang berwarna hitam sangatlah normal jika dimiliki selama seminggu pertama kehidupan, sedangkan feses bayi yang berwarna kekuningan normal pada bayi yang sedang ASI eksklusif. Namun, bagaimana jika Si Kecil buang air besar (BAB) yang berwarna merah?

Meski tak selalu menandakan bahaya, BAB bayi yang kemerahan bisa disebabkan oleh adanya darah. Kalau sudah begini, tentu ada masalah tertentu. Untuk itu, simak penjelasan berikut tentang BAB berdarah pada bayi.

Penyebab Umum

1. Konstipasi

Jika Si Kecil mengalami konstipasi, pada kotorannya bisa saja muncul sedikit noda darah yang disebabkan oleh robeknya jaringan kecil di anus. Kondisi ini juga bisa disebut sebagai anal fisura. Anal fisura biasanya sembuh dengan sendirinya, namun juga bisa menyebabkan infeksi jika tidak dirawat dengan baik.

2. Darah pada ASI

Terkadang ASI dapat mengandung sedikit darah. Hal ini sering terjadi akibat adanya luka pada puting Moms. Jika Si Kecil mengonsumsi ASI yang mengandung darah, maka pada kotorannya dapat timbul bercak darah atau bahkan seluruh kotorannya berwarna kemerahan. Hal ini umumnya tidak membahayakan bayi, asalkan Moms tidak positif HIV atau mengidap penyakit menular lainnya.

3. Infeksi

Salah satu infeksi berbahaya yang bisa ditandai oleh BAB berdarah adalah necrotizing enterocolitis. Penyakit ini lebih sering terjadi pada bayi prematur maupun bayi yang punya masalah kesehatan. Gejala lainnya adalah perut bayi yang tampak bengkak dan hilangnya nafsu makan.

4. Wasir

Wasir adalah adanya pembengkakan pembuluh darah pada anus. Jadi, jika Si Kecil memiliki wasir dan buang air besar, maka wasirnya dapat pecah dan berdarah sehingga menyebabkan kotoran Si Kecil berwarna merah. Wasir biasanya sembuh dengan sendirinya dan menandakan konstipasi.

5. Diare

BAB yang berdarah juga bisa menandakan diare yang disebabkan infeksi bakteri, seperti salmonella atau E. coli. Biasanya, kondisi ini bisa sembuh dengan sendirinya, tapi dapat menyebabkan Si Kecil mengalami dehidrasi.

6. Alergi

Alergi atau sensitif terhadap makanan tertentu dapat menyebabkan kotoran Si Kecil berdarah selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan.

7. Perdarahan pada Saluran Cerna

Darah yang berwarna gelap pada kotoran bayi dapat menandakan bahwa saluran cerna atas, seperti esofagus, tenggorokan, atau hidung, mengalami perdarahan. Terkadang, hal ini terjadi setelah kecelakaan traumatik, seperti tersedak. Pada kasus lainnya, hal ini bisa disebabkan oleh infeksi parah atau penyakit.

Cara Mengatasi BAB Berdarah pada Bayi

Tak semua kasus BAB berdarah pada bayi perlu diberikan perawatan khusus. Wasir yang tidak besar dan anal fisura biasanya sembuh dengan sendirinya. Namun, karena Si Kecil masih rentan terhadap infeksi tertentu, maka konsultasi ke dokter menjadilangkah bijak yang bisa Moms ambil. Melansir Medical News Today, beberapa tindakan penanganan yang umum dilakukan untuk mengatasi BAB berdarah pada bayi adalah sebagai berikut:

• Manajemen rasa sakit untuk wasir dan anal fisura, seperti krim atau rekomendasi mandi garam.

• Bedah, jika wasir dan anal fisura cukup parah dan tak bisa sembuh sendiri.

• Pemberian antibiotik untuk mengatasi atau mencegah infeksi.

• Infus untuk bayi yang sedang mengalami diare.

• Perubahan pola makan, baik menambah serat pada MPASI untuk mengatasi konstipasi atau mengubah pola makan ibu yang sedang menyusui agar ASI menjadi jernih.

Kapan Harus ke Dokter

Sebagian besar kasus BAB berdarah pada bayi tidaklah mematikan. Namun ada beberapa tanda Moms perlu segera konsultasi ke dokter, yakni:

• Diare berdarah.

• BAB berdarah diiringi demam atau gejala penyakit lain.

• Si Kecil lahir prematur dengan kotoran berdarah.

• BAB berdarah diringi perut bengkak.

• Si Kecil kehilangan nafsu makan.

• Si Kecil tampak linglung atau teramat lemas. (Gabriela Agmassini/SW/Dok. Freepik)