FAMILY & LIFESTYLE

Mom of the Month Spesial Hari Kartini: Samanta Elsener



Perempuan sudah sepatutnya berdaya dan merasa bahagia akan hidupnya, terutama atas berbagai peran yang ia miliki, seperti menjadi seorang ibu. Samanta Elsener (32), psikolog anak dan keluarga, percaya bahwa seorang ibu dapat menjadi agent of change bagi masyarakat.

Impian untuk menjadi seorang psikolog ternyata tak hanya cita-cita kosong bagi Samanta Elsener. Ibu dari Monika Eleanor Erlangga (9) ini benar-benar tahu apa yang menjadi semangatnya dalam memahami dan menangani berbagai masalah psikologi anak dan keluarga.

Ya, menyelamatkan anak di masa kecilnya diharapkan mampu menjadi katalis untuk menyelamatkan lebih banyak orang lainnya bagi Samanta. Di saat yang bersamaan, ia juga percaya bahwa seorang ibu tak perlu ideal. Karena gambaran tentang ibu yang sempurna hanyalah akan mendorong para ibu menjadi sosok yang jauh dari harapan.

Kali ini M&B mengobrol lebih banyak soal anak, ibu, keluarga, dan perempuan, dengan Samanta Elsener yang menjadi Mom of the Month April Spesial Hari Kartini, dalam rangka merayakan semangat emansipasi Kartini selama bulan April 2022. Yuk, simak obrolan eksklusifnya berikut ini, Moms!

Apakah sejak dulu Anda sudah ingin menjadi psikolog?

Itu panjang ceritanya. Hahaha. Awal mulanya yaitu sejak masih kecil, saat aku tinggal di Yogyakarta. Dulu, rumahku dekat dengan lapangan terbang. Jadi setiap kali melihat pesawat, rasanya ingin terbang dan traveling. Makanya, aku sempat ingin jadi pramugari. Tapi sama papaku enggak boleh.

Nah, suatu ketika, sepupuku yang kuliah jurusan psikologi liburan ke Yogyakarta. Lalu ia banyak cerita tentang studinya. Aku jadi penasaran, “Oh, jadi ada ya, ilmu yang mempelajari perilaku manusia.” Kemudian di tahun 1997, kami sekeluarga pindah ke Jakarta. Jadi makin dekat dengan rumah sepupuku.

Pas aku mulai SMP, aku suka main ke rumahnya saat ia mulai menekuni studi spesialis. Akhinya aku semakin tertarik. Aku juga suka baca buku atau majalah yang ada psikologi populernya. Setelah itu, aku mulai merangkai puzzle tentang minatku ini. Sejak saat itu, mulailah aku kuliah jurusan psikologi.

Tapi itu pun sempat ada kegundahan. Saat masa SMP hingga SMA, aku juga ingin menjadi pengacara. Itu karena terpengaruh oleh serial TV Ally McBeal. Hahaha. Di serial itu, ia keren banget saat membela klien-kliennya. Namun aku berpikir lagi, “Duh, jadi pengacara sepertinya bukan my passion, deh.” Aku pun mengambil psikotes 2 kali, dan memang diarahinnya ke situ. Alhasil, aku jadi memantapkan hati untuk belajar tentang psikologi.

Mengapa Anda memilih sebagai psikolog yang berfokus pada anak dan keluarga?

Kalau sekarang, psikologi klinis itu belajar semuanya. Tapi waktu zamanku dulu, ada pilihan mayor anak dan mayor dewasa. Waktu itu aku milih mayor anak, karena berpikir, “Kalau aku bisa bantu anak sejak ia bermasalah di usia paling dini, maka aku akan menyelamatkannya di masa depan.”

Selain itu, ketika membantu anak, aku juga membantu orang tuanya secara enggak langsung. Jadi aku bisa membantu satu sistem, yaitu keluarga. Ternyata saat menjalaninya pun seru banget. Anak-anak, apalagi yang masih kecil, biasanya masih belum bisa bicara jelas. Sedangkan aku harus tahu, mereka itu sedang kenapa, ya?

Misalnya, keluhannya anak terlalu agresif. Lalu ketika kutangani Si Kecil mencakar dan memukul, aku bisa langsung memberikan tindakan di depan orang tuanya sehingga mereka juga melihat proses itu. Rasanya lega sekali ketika prosesnya selesai. Karena yang diselamatkan enggak hanya 1 orang.

“Kalau aku bisa bantu anak sejak ia bermasalah di usia paling dini, maka aku akan menyelamatkannya di masa depan.”

Kalau dideskripsikan, bagaimana gaya parenting Anda? Apakah peran sebagai psikolog anak dan keluarga berpengaruh besar terhadap cara mengasuh anak?

Berpengaruh besar enggak, ya? Hahaha. Berpengaruh, sih. Monika sampai bilang, “Sepertinya Monika masih kecil tapi sudah jadi psikolog.” Tapi kalau dari gaya pengasuhan, sebenarnya aku dan suami sepakat demokrasi. Jadi kami bisa benar-benar mengaplikasikan aturan dan batasan di rumah sekaligus mendorong anak untuk bekembang juga.

Seperti sekarang, selama pandemi. Yang awalnya Monika sudah tidur sendiri, sekarang tidur bareng kami lagi. Meskipun begitu, Monika tetap ada ritual atau rutinitasnya sendiri. Terasa banget, sih. Sebelum pandemi, aku termasuk ibu yang strict. Bangun pagi jam berapa, lalu sekolah, setelah sekolah harus mengerjakan tugas dulu sebelum main. Aku tegas di penjadwalan.

Tapi selama pandemi, anak enggak bisa seperti itu. Aku harus beradaptasi, yang penting anak enggak stres. Jadi, yang tadinya enggak boleh pegang gadget di rumah, sekarang Monika boleh pegang gadget untuk berkomunikasi dan main sama teman-temannya. Meski begitu, kita tetap buat batasan. Jadi, stok sabar di pandemi ini memang banyak banget.

Menurut Anda, apa yang terpenting saat merawat dan membesarkan anak?

Menurutku adalah kemauan untuk belajar. Soalnya, kalau kita mau belajar, kita akan mencari informasi, kita akan tahu apa masalah yang dihadapi anak dan cara yang perlu kita lakukan untuk menghadapinya. Semakin cepat kita mencari solusinya, maka masalahnya enggak semakin besar.

Menurut Anda, apa kesalahan yang sering dilakukan orang tua kepada anaknya?

Menasihati anak di saat yang kurang tepat. Nasihatnya benar, tapi waktunya enggak tepat. Misalnya, anak akan ujian. Idealnya, orang tua harus tenang, jangan bikin anak nervous, jangan bikin anak stres. Sementara nasihatnya, ”Ayo belajar!” Contohnya lagi, anak sedang ada banyak tugas, lalu berbuat salah. Orang tuanya langsung memberikan ceramah panjang. Jadi waktunya habis, anak enggak bisa mengerjakan tugasnya.

Kita sebagai orang dewasa memang punya banyak tanggung jawab dan peran. Nah, kalau orang tuanya cepat lupa, pasti merasa harus dinasihati saat itu juga. Padahal, itu justru mengakibatkan hubungan anak dan orang tua malah merenggang, karena anaknya malah bikin tembok.

Sekarang banyak informasi mudah diakses. Kita sudah enggak bisa tahu lagi, mana informasi untuk anak umur 15 tahun dan mana yang untuk orang tua dari anak 15 tahun. Jadi kalau anak umur 15 tahun membaca tentang bagaimana orang tua harus bersikap kepada anak, lalu enggak mendapatkan itu dari orang tuanya, maka ia akan semakin antipati dengan orang tuanya.

Di bulan ini, M&B merayakan semangat emansipasi Kartini. Menurut Anda, apakah memahami diri sendiri dan anak juga bisa menjadi wujud penguatan karya dan peran seorang wanita?

Sangat, ya. Di psikologi, aku belajar bahwa perempuan dijadikan sebagai agent of change. Jadi, ketika wanita itu benar-benar bisa menjalankan multiperannya dengan optimal, ia akan bisa bersinar. Kenapa? Karena ia merasa hidupnya bermanfaat dan berharga.

Lalu kita sebagai seorang ibu, saat kita bisa menjalankan multiperan, kita akan merasa lebih bermanfaat lagi. Karena kita bermanfaat untuk pasangan, anak, orang tua, saudara, atau rekan kerja kita. Hal ini akan memberikan inspirasi yang bisa didapatkan oleh masyarakat luas. Bahkan enggak cuma wanita saja, tapi siapa pun yang mau menggali dan mendapatkan apa yang mereka sedang butuhkan selama ini.

Menurut Anda, apa sih 3 tantangan yang paling sering dialami oleh seorang ibu?

Sabar, bagi waktu, dan self-care. Ibu-ibu tuh susah banget untuk self-care lho, terutama ibu-ibu yang baru punya anak. Hidupnya jadi hanya demi anak. Padahal mestinya demi semuanya. Kalau cuma demi anak, kita akan mengabaikan diri kita. Tapi kalau demi diri kita dan anak, ada prioritas masing-masing yang bisa kita atur.

“Ketika wanita benar-benar bisa menjalankan multiperannya sebagai optimal, ia akan bisa bersinar. Kenapa? Karena ia merasa hidupnya bermanfaat dan berharga. “

Menurut Anda, apakah Anda sudah termasuk sebagai ibu yang sempurna?

Enggak, belum sih. Karena belajar psikologi, aku merasa enggak ada yang ideal di dunia ini. Yang ada, kita perlu selalu belajar. Setiap hari, kita makin baik dari hari yang kemarin. Sebenarnya, enggak ada juga patokan tentang ibu yang ideal, karena kebutuhan setiap anak berbeda.

Kalau kita mengacu pada sesuatu yang ideal, berarti kita mengacu pada perfeksionisme, kita mengejar sesuatu yang enggak bisa kita capai. Yang penting, pola asuh sebaiknya adalah demokrasi. Soalnya demokrasi bisa memberikan anak kebebasan berpendapat tapi tetap dengan aturan yang kita buat di rumah.

Adakah hal-hal yang Anda sesali saat merawat Monika dan keluarga?

Ada 1 hal yang aku sesali. Tapi, ya, que sera sera, ya. Kun faya kun. Hanya saja, dari situ aku belajar bahwa sebagai orang tua, aku harus punya kendali. Tapi balik lagi, kalau kita terperangkap dengan idealisme dan perfeksionisme, malah jadinya melakukan kesalahan. Itulah yang aku sesali. Momen ini juga membuatku yakin untuk enggak perlu menjadi ideal. Kita jalani saja yang apa di depan mata.

“Pola asuh sebaiknya adalah demokrasi. Soalnya demokrasi bisa memberikan anak kebebasan berpendapat tapi tetap dengan aturan yang kita buat di rumah.”

Adakah pesan untuk para orang tua, terutama ibu, yang sedang struggle merawat anak dan keluarganya?

Pertanyaan ini mengingatkanku pada salah satu sesiku dengan klien. Waktu itu ia bertanya, “Saya salah gak sih, jadi ibu? Saya takut banget kalau saya melakukan kesalahan lalu membuat anak-anak membenci saya.” Lalu aku bilang, bahwa ada yang namanya tabungan emosi.

Dengan tabungan emosi ini, dari berbagai tindakan baik kita kepada anak, terkadang kita perlu ambil debitnya agar balance, seperti neraca. Dari 5 hal baik yang sudah kita lakukan kepada anak, enggak apa-apa kita lakukan 1 hal yang agak keras. Selama itu bukan abusive. Selama itu berupa nasihat dan petuah, yang mungkin waktunya juga enggak diberikan secara tepat. Soalnya, kalau kita memberi tahu anak dengan selalu manis dan baik, anak jadi enggak punya daya lenting, malah jadi terlalu manja. (M&B/Gabriela Agmassini/SW/Foto & Digital Imaging: Insan Obi)