FAMILY & LIFESTYLE

Mom of the Month: Melanie Putria



Menahan ego bukanlah hal yang mudah dilakukan saat pasangan memutuskan untuk berpisah. Namun menahan ego diperlukan demi keutuhan emosional seorang anak yang terdampak dari perpisahan orang tuanya. Hal inilah yang menjadi alasan utama Melanie Putria (40) untuk menjalankan co-parenting bersama sang mantan suami, Angga Puradiredja (42).

Setiap orang tua pastinya ingin memberikan yang terbaik bagi buah hatinya, tak terkecuali Melanie Putria. Demi keutuhan sang putra, Sheemar Rahman Puradiredja (11), ia menghempaskan ego dan memilih bekerja sama dengan mantan pasangannya.

Ketika Imel, sapaan akrab Melanie Putria, memutuskan untuk menikah dengan Aldico Sapardan atau Kiko (40), komitmen untuk menjalankan co-parenting tetap terjaga. Dan pada saat bersamaan, wanita yang pernah terpilih menjadi Putri Indonesia 2002 ini menyambut kehidupan baru bersama Kiko dan putranya, Akira Princio Sapardan (11).

Mau tahu bagaimana Melanie Putria menjaga komitmen dalam menjalankan co-parenting sekaligus beradaptasi dengan keluarga barunya? Moms bisa simak wawancara eksklusif M&B bersama Melanie Putria yang menjadi Mom of the Month Juli 2022 berikut ini.

Imel tentunya sudah tidak asing lagi dengan istilah co-parenting. Nah menurut Imel pribadi, apa makna dari co-parenting itu sendiri?

Sejujurnya saat saya menjalankan pengasuhan anak bersama mantan suami, saya tidak pernah tahu ada satu istilah yang disebut co-parenting. Saya tidak pernah paham bagaimana metodenya. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, baru saya sadari apa yang saya jalani bersama Angga merupakan co-parenting.

Jadi menurut saya, suatu kerja sama yang baik antara saya, Angga, dan Sheemar dalam bersama-sama membesarkan Sheemar. Dan itulah yang menurut saya adalah metode co-parenting. Adanya komunikasi yang baik, adanya kompromi juga, dan memang tidak mudah. Tapi semua bisa dilakukan dengan adanya komunikasi yang baik.

"Jadi menurut saya, suatu kerja sama yang baik antara saya, Angga, dan Sheemar dalam bersama-sama membesarkan Sheemar. Dan itulah yang menurut saya adalah metode co-parenting."

Imel dan mantan suami memilih untuk tetap bersama-sama membesarkan Sheemar atau menerapkan co-parenting. Bisa diceritakan bagaimana prosesnya?

Jadi dari awal, saya dan Angga sadar bahwa apa yang kami lakukan, yaitu berpisah, sudah pasti akan memengaruhi Sheemar. Jadi Sheemar tidak akan mendapatkan apa yang dia butuhkan dari kedua orang tuanya. Kebutuhan untuk tinggal bersama, itu yang pasti tidak ada.

Atas kesadaran tersebut, kami berdua sepakat untuk berkomitmen. Jadi kami berpikir, “OK, kita sudah melakukan sesuatu yang membuat Sheemar terluka. Lalu bagaimana? Kita harus tetap melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dan keutuhan Sheemar.” Jadi we will do our best.

Angga akan melakukan yang terbaik apa pun itu untuk bisa membuat Sheemar bahagia. Begitu pun saya dalam hal memenuhi kebutuhan moril Sheemar, kebutuhan fisiknya, dan selalu ada di saat-saat penting serta ikut merayakan hari-hari baiknya. Jadi, hal-hal seperti inilah yang akhirnya menjadi satu keputusan bahwa kami sepakat untuk menjalankannya bersama-sama.


Menurut Imel, mengapa orang tua yang berpisah harus melakukan co-parenting?

Secara pribadi, saya tidak mau anak saya “pincang”. Saya yakin, sebuah perpisahan entah dilakukan secara baik-baik atau tidak, tetap akan memiliki efek terhadap anak. Jadi bagaimana caranya meminimalisasi kepincangan atau ketimpangan tersebut?

Caranya adalah dengan, saya dan Angga ada di mata Sheemar. Dari segi pemenuhan untuk Sheemar, kami harus selalu ada. Jangan sampai dia tiba-tiba merasa kehilangan sosok ayah atau sebaliknya kehilangan sosok ibu. Saya sangat menghindari situasi kami berdua tidak ada untuk Sheemar. Beruntung, saya dan Angga memiliki kesepakatan yang sama mengenai hal ini.

Tidak semua pasangan yang berpisah bisa sukses menjalankan co-parenting. Apa yang menjadi kunci keberhasilan pola asuh co-parenting ala Imel dan Angga?

Menurunkan ego! Kalau sudah berpisah, pasti masing-masing punya ego. Berbeda saat masih bersama, saat ego masih bisa ditekan dan banyak berkompromi yang merupakan inti sebuah pernikahan.

Setelah berpisah, ego masing-masing jadi meletup-letup. Rasa sensitifnya menjadi lebih tinggi. Jadi yang harus disadari adalah kami punya ego masing-masing, tapi ego tersebut tidak boleh ditonjolkan saat kami ingin memberikan yang terbaik untuk Sheemar.


"Secara pribadi, saya tidak mau anak saya 'pincang'. Saya yakin, sebuah perpisahan entah dilakukan secara baik-baik atau tidak, tetap akan memiliki efek terhadap anak. Jadi bagaimana caranya meminimalisasi kepincangan atau ketimpangan tersebut?"

Saat ini Imel telah memiliki keluarga baru. Apakah pola asuh co-parenting masih tetap diterapkan?

Tentu saja masih. Saat saya memutuskan untuk menikah lagi, tentunya ada pergolakan dari Angga, seperti rasa insecurity yang muncul tentang Sheemar. Ada rasa khawatir nantinya Sheemar akan “menduakan” dia. Jadi terbagi rasa sayangnya. Nah, itu yang saya tekankan ke Angga sebelum saya melangsungkan pernikahan.

Jadi saya berkata kepada Angga, “Kamu tetap nomor satunya Sheemar. Sampai kapan pun kamu tetap papanya Sheemar dan tidak ada yang bisa mengubah atau menggantikannya selamanya. Jadi jangan khawatir, hadirnya suamiku bukan untuk menggantikan posisi kamu, tapi untuk mendampingi aku membesarkan Sheemar.”

Menikah dengan Kiko yang juga memiliki anak dari pernikahan sebelumnya, bagaimana proses saling mendekatkan kedua keluarga? Apakah sulit?

Sulit pastinya. Sulitnya adalah Kiko sudah punya pattern untuk membesarkan anaknya selama kurang lebih 11 tahun. Saya juga sudah punya pattern dan zona nyaman. Ibaratnya, saya punya sarang lalu ada yang datang mengobrak-abrik sarang tersebut. Ego merasa tidak perlu berubah masih suka ada.

Namun sekali lagi, dibutuhkan kedewasaan dan kesadaran. Dan saya beruntung karena Kiko lebih dewasa dalam cara berpikir. Jadi dia yang sering mengingatkan bahwa setiap masalah ada solusinya. Katanya, “Kalau kamu lagi stuck sama aku, menemukan masalah sama aku, sama Sheemar dan Akira, kita cari solusinya bareng-bareng yuk. Karena masalah datangnya satu paket dengan solusinya.”

Apakah membutuhkan waktu lama untuk saling mengenal antara keluarga Imel dan Kiko?

Hingga saat ini juga masih dalam proses, karena menurut saya adaptasi sebuah hal baru atau terhadap sesuatu hal yang sudah lama berjalan tidaklah mudah. Bisa dibilang never ending process karena kami sama-sama belajar. Kiko belajar, Sheemar belajar, Akira belajar, dan saya juga belajar. Jadi never ending process yang mudah-mudahan tidak ada ego yang meletup-letup karena kami tujuannya ingin bersama-sama.

Sepertinya yang sebelumnya dikatakan, Imel sudah punya pattern bersama Sheemar. Lantas apakah ada perubahan pattern dengan adanya pernikahan dengan Kiko?

Berubah banget. Contoh yang paling gampang, saya dan Sheemar sering pergi berdua ke mana-mana. Saya bisa tiba-tiba beli tiket Singapura untuk mendapatkan quality time berdua Sheemar karena saya merasa 2 atau 3 bulan sebelumnya sibuk bekerja. Atau kami tiba-tiba pergi ke Festival Ultraman di Jepang. Karena saya bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, jadi saya mengontrol, me-manage, dan memutuskan sendiri.

Nah, setelah menikah, saya tidak bisa lagi seperti itu. Saya sekarang punya Akira, nih. Kalau pergi bersama Sheemar, tidak mungkin Akira ditinggal. Tidak mungkin, Akira tidak dilibatkan. Hal-hal seperti inilah yang pelan-pelan harus belajar untuk berubah. Harus dibiasakan. Dipaksa untuk dibiasakan. Menurut saya untuk bisa menerima hal baru kalau tidak ada unsur dipaksakan, ya akan stagnan saja.

Imel sekarang memiliki dua orang anak, Sheemar dan Akira. Apakah ada perbedaan pola asuh dibandingkan sebelumnya?

Akira adalah anak yang spesial. Hingga saat ini, saya masih belajar cara untuk berkomunikasi dengannya. Akira mengerti semua instruksi, tapi dia tidak tahu cara ngomongnya. Saat dia menginginkan sesuatu, dia tidak bisa menyampaikan. Saat merasakan sesuai, dia tak tahu cara mengekspresikannya ke orang-orang terdekat. Jadi hal-hal seperti itulah yang menurut saya masih menjadi challenge.

Nah pola asuh Sheemar, saya sudah dapat pattern-nya walaupun dinamis, berubah dari anak-anak hingga saat ini ke preteen. Tapi karena saya adalah ibunya Sheemar dan telah membesarkan dari kecil, saya tentunya sudah tahu sifat dasarnya bagaimana. Tahu celahnya.

Kalau Akira, Kiko yang memegang kunciannya. Tapi mengingat Akira anak yang spesial, jadi belum ada pakemnya juga. Menurut kami berdua, perubahan dan perkembangan Akira masih menjadi misteri. Kami masih berusaha mencari, Akira nanti akan ke mana nih arahnya? Jadi tidak ada pola asuh yang saklek bagi Akira. Kami sama-sama saling belajar.

Kalau Imel sendiri merasa tipe ibu seperti apa?

Saya perfeksionis. Jadi, untuk urusan sekolah Sheemar, saya tidak main-main. Tapi untuk urusan lain-lain seperti main, kegiatan sehari-harinya, dan hobinya, terserah deh. Saya sebagai mamanya hanya mengarahkan saja.

Namun menurut saya, pembentukan karakter yang lumayan cukup kencang saya jalani adalah untuk urusan sekolah Sheemar. Di sana, saya yakin ada proses pembelajaran juga buat Sheemar, seperti belajar disiplin, tanggung jawab, dan hormat kepada gurunya. Itu semua dibentuknya ketika dia bersekolah. Jadi saya tidak mau main-main.

Kalau nilai dia jelek, saya tidak pernah marah dalam arti menganggap anak bodoh. Saya lebih sering beranggapan “Kamu tidak menjawab, kamu tidak bisa mengerjakan ulangan ini dengan baik karena tidak put your effort.” Karena saya ingin anak saya punya rasa tanggung jawab. Itu penting.

Di sisi lain, sebagai orang tua kita akan memberikan segalanya, kasih sayang dan perhatian. Hanya untuk soal sekolah, disiplin, dan pembelajaran, tidak bisa ditawar lagi.

"Saya perfeksionis. Jadi, untuk urusan sekolah Sheemar, saya tidak main-main. Tapi untuk urusan lain-lain seperti main, kegiatan sehari-harinya, dan hobinya, terserah deh. Saya sebagai mamanya hanya mengarahkan saja."

Apa tips bagi pasangan yang sudah berpisah tapi ingin tetap mengasuh buah hatinya bersama atau co-parenting?

Menurut saya, harus ada kesepakatan di antara kedua belah pihak terlebih dahulu. Co-parenting adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksakan. Kedua orang tua harus punya kesadaran dan tentunya kemauan untuk memenuhi kebutuhan anaknya.

Anak broken home itu banyak terjadi. Saat saya memutuskan untuk bercerai, saya juga sempat takut anak saya akan menjadi anak broken home. Muncul pertanyaan, dia nanti akan hancur apa tidak, ya? Jadi luka enggak, ya? Jadi rebel enggak ya, kalau dia besar nanti?

Namun setelah saya ngobrol dan banyak bertanya kepada psikolog, lalu baca-baca dari berbagai sumber, dan bertanya ke teman-teman, saya sadari bahwa anak broken home itu akan hancur ketika orang tuanya tidak menceritakan dengan jelas apa yang terjadi. Bukan penyebab perceraian, tapi kondisi yang lagi dialami. Soal penyebab mengapa orang tua berpisah, boleh diceritakan secara garis besarnya. Jangan lupa diberitahu kepada anak bahwa walau papa dan mamanya berpisah, kita akan tetap ada di sini untuk kamu. Hal-hal seperti itulah yang menurut saya perlu dilakukan orang tua yang memutuskan bercerai.

Anak, walau bagaimanapun, tetap berhak mendapatkan apa yang dia butuhkan. Dia telah kehilangan keutuhan orang tuanya, tapi dia tak boleh kehilangan haknya.

This kind of relationship dan komitmen yang saya jalani bersama Angga, semoga bisa menjadi satu hal yang selalu menghangatkan hati Sheemar. Semoga dia tidak merasa kekurangan dari saya dan Angga dalam hal perhatian maupun kasih sayang. (M&B/Wieta Rachmatia/SW/Foto: Insan Obi/Digital Imaging: Bagus Ragamanyu Herlambang/Hairdo: @imoefendi/Location: The Dharmawangsa Jakarta)