FAMILY & LIFESTYLE

Mom of the Month: dr. Dimple Nagrani, Sp.A



Sebagai pembuka awal percakapan, M&B melontarkan pertanyaan pada dr. Dimple Nagrani, Sp.A, dokter spesialis anak, “Mengapa Anda ingin menjadi dokter?”. Jawabannya sederhana, menjadi dokter adalah impiannya sejak usia 4 tahun, dan yang lebih mulia lagi, ia ingin bisa membantu lebih banyak orang.

Tak hanya membantu secara medis, setelah menjadi orang tua dari seorang anak laki-laki bernama Aesa, ia juga ingin membantu sesama orang tua agar bisa memiliki pengalaman parenting yang menyenangkan dan anti ribet. Bersama sang suami, Amrit Gurbani, seorang emotions coach, ia berbagi pengalaman serta tips dan trik mengenai parenting yang dijalani lewat parenting channel, HappyKids.

Memperingati Hari Gizi Nasional yang jatuh pada tanggal 25 Januari, M&B juga berbincang soal pandangannya terkait masalah gizi anak Indonesia. Tak hanya itu, dr. Dimple juga menceritakan pengalamannya mengasuh Aesa, hingga tentang kebiasaan uniknya, yaitu melakukan the high five habits. Simak wawancara eksklusif M&B dengan dr. Dimple Nagrani, Sp.A yang menjadi Mom of the Month Januari 2024 selengkapnya berikut ini!

Apa suka duka menjadi dokter anak?

Mmm.. Aku happy banget sih, jadi dokter anak. Tapi terkadang yang bikin aku sedih adalah tidak sedikit orang tua yang menganggap bahwa parenting itu ribet banget. Kalau sudah beranggapan begini, menurutku yang akan jadi korban itu benar-benar satu keluarga. Anaknya kasihan, lalu pasangan kita, yang tadinya mungkin hubungannya baik-baik saja, setelah hadirnya anak berharap semuanya akan fine-fine saja, eh kok malah merasanya parenting itu ribet banget, padahal nyatanya tidak.

Sebagai dokter, Kalau anak sakit, masih suka panik tidak, sih?

Panik sih mungkin tidak ya, cuma terkadang jadi suka menduga-duga sendiri. Misalnya, Aesa muntah, sudah dikasih obat, terus dia muntah lagi. Nah, kalau begitu aku kayak kepikiran kenapa ya dia muntah lagi, apa mungkin ada penyakit lain, jadi “mungkin”-nya terlalu banyak. Padahal kalau sama pasien aku santai banget. Bahkan ngasih obatnya aja peliiiit banget.

Jadi kalau anak sakit, paling kita coba untuk ubah lifestyle dulu. Misalnya, ubah cara makan atau apa yang harusnya dimakan, karena pada dasarnya memang semua itu lifestyle, kan. Jadi tidak sedikit-sedikit kasih obat. Bahkan sampai sekarang, Aesa baru minum antibiotik dua kali. Nah, kalau Aesa sakit, saya berikan obat buat gejalanya dulu, perhatikan asupan makan dan minum dulu. Bahkan sering kali memberikan jahe, madu, dan kunyit untuk batuk pileknya Aesa. Jadi tidak langsung main kasih antibiotik.

Ada kebiasaan unik yang Anda lakukan, yaitu "the high five habit". Mengapa melakukannya?

Jujur, dulu aku merasa tidak pernah puas dengan diriku sendiri. Aku selalu merasa, I should’ve done better. Nah, ada satu motivational speaker yang aku suka, namanya Mel Robbins. Dia selalu mengingatkan untuk “stop being so hard on yourself”, karena kalau disadari, kita tuh tidak mungkin “segalak” itu sama orang lain. Jadi daripada kita menganggap diri kita selalu gagal, kenapa kita tidak belajar untuk menganggap diri kita ini sebagai partner. Dengan begitu, kita bisa kasih semangat ke diri kita sendiri dengan si high five habit itu. Ibaratnya seperti berterima kasih pada diri sendiri, I’m here for you.

Nah, sejak mendengarkan Mel, dan menerima masukan dari suamiku, yang juga merupakan emotions coach, aku jadi belajar untuk be thankful. Bukan cuma act thankful, tapi di hati juga beneran grateful dan happy. Bahagia orang kan beda-beda, ya. Kalau yang membuat happy itu adalah mengusahakan sesuatu yang kita mau, maka berusahalah. Tapi kalau belum berhasil, ya berusahalah di lain waktu. Jangan langsung jadi benci sama diri sendiri ketika mengalami kegagalan.

Kebiasaan ini membawa perubahan dalam hidupku. Dulu, bisa dibilang aku tidak punya hubungan yang baik dengan diriku sendiri. Tapi untuk sekarang, aku lebih menerima dan sayang dengan diriku sendiri, karena aku tahu aku sudah berusaha semaksimal mungkin.

Anda memilih mengasuh Aesa tanpa bantuan nanny, mengapa demikian?

Dari awal Aesa lahir, aku dan suamiku berprinsip semuanya jangan dibikin ribet dan di-simplify aja. Kami memutuskan untuk tidak pakai nanny karena ingin membesarkan Aesa sendiri. Di rumah ada asisten rumah tangga, tapi hanya untuk bantu-bantu atau jagain Aesa.

Selama mengasuh Aesa pasti ada susahnya, cuma aku ingin tetap praktik sendiri. Aku dan Amrit benar-benar ingin lihat perkembangan emosinya Aesa dari bayi sampai besar. Supaya nanti kalau ada emosi yang tidak mengenakkan atau dia tantrum, misalnya, kita bisa menanganinya, karena sudah benar-benar 100% mengenal Aesa. Itu tujuannya.

Parenting is very enjoyable journey, it’s a beautiful journey, yang bahkan kalau kita jalanin sebagai proses, itu akan mendekatkan orang tua dan anak, bahkan dengan pasangan kita, karena kita punya tujuan yang sama.

Aesa sweet banget dan penuh cinta, bagaimana mengajarkannya?

Kebetulan aku tuh, touchy banget, paling suka peluk orang. Jadi mungkin menurun ke Aesa. Tapi sebenarnya dari awal melahirkan, aku sudah ngomong ke suamiku, whatever happen, dia harus skin to skin contact sama baby-nya. Jadi, menurutku, skin to skin contact itu bahasa kita dari awal.

Kalau ngomongin love language, physical touch adalah love language-nya Aesa. Bahkan saat berada di situasi yang serius, misalnya aku lagi ngobrol sama Amrit, atau pas aku marahin dia, tiba-tiba Aesa bisa bilang “Mama can I kiss you?”. Rasanya mau marah tuh ya gimana, jadi luluh. Tapi memang anak ini sangat gampang dipeluk dan memeluk orang.

Punya ayah seorang DJ tentunya membuat Aesa akrab dengan musik sejak dini. Apakah ada pengaruh pada perkembangannya?

Aesa jadi lebih observance dan memperhatikan, sih. Saat suamiku nge-DJ, Aesa jadi sering ngasih ide ke papanya, misalnya ini di-mix sama ini bisa, lho. Saking seringnya mendengarkan, Aesa juga jadi tahu style musik beberapa musisi. Dari musik, suamiku juga sebenarnya ingin mengajarkan Aesa bahwa kalau mau belajar sesuatu itu tidak mungkin langsung bisa dan kita harus berusaha. Jadi, konsisten itu kuncinya.

Bagaimana awalnya membentuk HappyKids?

Anggapan bahwa parenting itu ribet, mendasari aku dan Amrit membuat parenting channel dengan nama HappyKids. I want to make parenting easy. Jadi aku ingin membuktikan, bukan sekadar teori, bukan hanya sharing. Prinsip kita adalah selalu sharing tips dan trik praktis yang bisa langsung dipraktikkan saat itu juga. Jadi silakan dilihat, tapi yang penting konsisten menerapkan tipsnya. Karena banyak yang ngeluh, sudah coba tipsnya tapi belum berhasil, dan ternyata baru coba satu kali.

Semua yang kami share di HappyKids itu benar-benar cerita kami sehari-hari dan sudah kami lakukan. Lewat tips praktis ini, kami ingin menyadarkan bahwa parenting is very enjoyable journey, it’s a beautiful journey, yang bahkan kalau kita jalani sebagai proses, itu akan mendekatkan orang tua dan anak, bahkan dengan pasangan kita, karena kita punya tujuan yang sama.

Lewat HappyKids, kita ingin mengingatkan bahwa setiap anak itu punya hak untuk didengarkan, dan mereka punya hak untuk mendapatkan informasi yang jelas dan tidak membingungkan dari orang tua atau orang dewasa di sekitar mereka. Misalnya, saat kita membuat peraturan, konsistenlah dengan peraturan tersebut. Jangan kita mengubah pikiran kita kapan saja sesuai dengan apa yang kita rasakan saat itu. Yang paling sering adalah membuat peraturan mengenai kapan boleh mengemil dan berapa lama boleh menonton. Peraturan ini harus disampaikan dengan jelas ke anak. Apabila anak bingung terhadap peraturan yang kita buat, ini yang sering menyebabkan tantrum.

Jadi parenting itu harus konsisten dan observasi aja anak kita maunya apa. Karena sebenarnya yang anak inginkan itu simpel banget, dia tidak butuh mainan atau gadget, tapi yang penting mereka punya waktu dengan orang tuanya.

Tanggal 25 Januari merupakan Hari Gizi Nasional. Dari yang Anda lihat, apa masalah gizi anak Indonesia yang belum tuntas ditangani?

Masalah gizi yang paling tidak tuntas ditangani adalah ketakutan terhadap stunting. Tapi menurutku, kita sebagai orang tua, dari awal anak MPASI, diusahakan semaksimal mungkin untuk tidak deg-degan. Karena selalu yang dikeluhkan itu, “Dok, saya deg-degan banget anak saya mau MPASI”, bukannya, “Dok, saya happy banget atau excited banget anak mau MPASI”. Jadi yang saya perhatikan adalah, yang ngomong deg-degan ini seakan-akan menganalisis semua kejadian dan menganggap anaknya itu selalu GTM.

Kalau anak tidak mau makan, terkadang orang tua jadi over analize, over panic, takut berlebihan, karena tidak mau berat badan anaknya tidak naik, karena tidak mau anaknya stunting. Dasarnya memang betul karena rasa sayang, tapi ini malah membuat kita memaksa anak untuk makan di jam dan jadwal kita, tanpa feeding rules yang masuk akal. Pada dasarnya, anak akan lahap makannya saat dia lapar dan tidak mengantuk. Jadi, perhatikan betul jam tidur dan jam lapar anak.

Soal kenaikan berat badan, itu juga selalu menjadi hal yang membuat orang tua panik. Akhirnya karena panik, kita paksa anak untuk makan, dijejalin, makannya bisa 1 sampai 1,5 jam. Jadi, orang tuanya panik, tapi kurang pemahaman. Sebaiknya, apabila terjadi masalah makan atau kenaikan BB, orang tua mencari bantuan dari dokter spesialis anak secepatnya agar stunting bisa dicegah. Jadi, itu sih, menurutku masalah terbesarnya, kekhawatiran terhadap stunting, tapi kurang konsisten menerapkan feeding rules.


Prinsip feeding rules adalah anak wajib lapar, waktu anak makan maksimal 30 menit, dan pastikan tidak ada distraksi. Itu prinsip yang harus dipahami.

Bagaimana penerapan feeding rules yang baik?

Untuk feeding rules, intinya banget adalah anak wajib lapar. Jadi anak harus puasa 2-3 jam untuk pengosongan lambung. Kita tidak bisa menyusui anak kapan aja kita mau. Saat dia sudah mulai MPASI, kita tidak bisa ngasih camilan kapan aja dia mau. Random snacking tidak bisa dilakukan karena setiap kali lambung terisi, nafsu makan akan berkurang. Mau sesedikit apa pun itu, kalau perut sudah terisi, lambung kita sudah bergerak, nafsu makan akan menurun. Aku tidak bilang anaknya kenyang, tapi anak sudah tidak lapar. Kalau sudah tidak lapar, nafsu makan menurun.

Kedua, fokus anak hanya bisa 30 menit. Jadi, kalau anak tidak mau makan, kita wajib mencari tahu masalahnya apa. Solusinya bukan membiarkan dia makan berlama-lama sampai satu jam, dan jangan sampai kita ngasih dia tontonan saat makan. Jadi, waktu anak makan maksimalnya wajib 30 menit. Bukan dengan cara menghipnotis dia dengan makan sambil puter-puter keliling komplek dan nonton lewat HP atau gadget.

Ketiga, pastikan tidak ada distraksi. Ketika ada distraksi, anak jadi tidak fokus mengunyah makanannya. Dan yang paling sering terjadi adalah anak akan menelan makanan tanpa mengunyah atau dia akan mengemut. Jadi, itu prinsip yang harus kita pahami.

Punya kesibukan sebagai dokter, bagaimana mengatur waktu untuk keluarga?

Aku masih terus belajar sih, untuk mengatur waktu. Tapi, memang orang yang sering ngomel kalau aku terlalu sibuk itu adalah Amrit. Dia selalu berprinsip you need to take care of your self dulu, baru you can take care of the world. Jadi kalau hidup kamu berantakan, makan dan minum aja tidak benar, dan istirahat tidak pernah cukup, pasti kamu tidak bisa 100% membantu orang lain.

Jadi bagaimanapun caranya, aku harus punya waktu untuk Aesa dan keluarga. Sejauh ini sih quality time aku dengan Aesa bisa diterapkan di mana saja. Sederhananya seperti saat kami pergi berdua, kami ngobrol di mobil, tanpa distraksi.

Apa arti kehadiran Aesa dan suami dalam hidup Anda?

Amrit itu dari dulu menurutku tough love. Dia tidak pernah manjain aku sama sekali, tapi selalu meng-encourage aku, seperti “lo pasti bisa kok, kalo lo mau, lo bisa”. Jadi di hubungan kita tidak ada waktu untuk drama sama sekali. Bahkan sekarang, aku dan Amrit tidak pernah ngomong “cannot” ke Aesa. Jadi selalu yang diucapin “bisa, lo pasti bisa”. Meski butuh berjuta kali untuk berusaha, tapi kalo emang mau, pasti bisa.

Ide-idenya juga luar biasa dan dia bener-bener support aku 100%. Tapi, di satu sisi dia juga tidak mau support aku jadi tempat untuk curhat, karena tidak akan didengerin. Ibaratnya “you want result, lets do this”, tidak ada edisi curhat, karena curhat itu menurut dia komplain. Nah, dari situ jadinya meminimalisir drama di kehidupanku.

Sementara Aesa anaknya tulus banget dan luar biasa polosnya. Dari ketulusannya mungkin aku jadi belajar untuk tidak mendramatisir sesuatu. Dari sisi kepolosannya, di mana dia tidak pernah bohong, aku juga jadi belajar, mau sesalah apa pun, if it’s a no, ya no. Jadi, jangan pernah berbohong karena takut diomelin, yang penting be responsible aja.

Sebenarnya yang anak inginkan itu simple banget. Dia tidak butuh mainan atau gadget, tapi yang penting mereka punya waktu dengan orang tuanya.

(M&B/Vonda Nabilla/ND/Foto: Gustama Pandu/Digital Imaging: Bagus Ragamanyu Herlambang/Stylist: Gabriela Agmassini/Location: The Hermitage Jakarta (@thehermitagejkt))