TODDLER

Moms, Waspada Efek Anemia Defisiensi Zat Besi pada Si Kecil



Moms, Anda tentunya sudah tak asing lagi dengan istilah anemia defisiensi zat besi. Ya, ini adalah kondisi ketika tubuh kekurangan zat besi sehingga jumlah sel darah merah mengalami penurunan. Namun, tahukah Anda bahwa anemia defisiensi zat besi juga bisa terjadi pada Si Kecil?

Faktanya, berdasarkan data RISKESDAS 2018, diketahui bahwa 1 dari 3 anak berusia 0-59 bulan di Indonesia, mengalami anemia. Perlu diketahui, anemia bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Akan tetapi, pemicu anemia yang paling sering terjadi adalah kekurangan atau defisiensi zat besi.

Anemia sendiri merupakan salah satu faktor risiko terjadinya stunting pada anak yang nantinya akan berimbas pada tumbuh kembang anak. Postur tubuh anak menjadi lebih pendek atau berat badan yang tidak sesuai dengan pertambahan usianya.

Lebih lanjut, anemia pada anak juga bisa memengaruhi sistem kerja otak dan perkembangan kognitif anak, Moms. Jika dibiarkan, efeknya antara lain:

  • Si Kecil bisa mengalami penurunan daya pikir dan konsentrasi.
  • Ia juga berisiko mengalami penurunan prestasi.
  • Alhasil, prestasi akademik Si Kecil menjadi rendah.
  • Adanya gangguan perkembangan mental dan psikomotor.
  • Gangguan perilaku sosial dan emosi.

Nah, Moms pastinya tidak ingin hal ini terjadi pada Si Kecil. Menurut dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, selaku pakar gizi klinik, anemia defisiensi zat basi pada anak sesungguhnya bisa dicegah.

“Anemia dapat dicegah dengan memberikan asupan nutrisi yang tepat sesuai dengan pedoman gizi seimbang. Pastikan anak mendapatkan makanan yang bervariasi untuk mendapatkan gizi yang lengkap, termasuk protein hewani yang kaya zat besi,” jelas dr. Juwalita dalam perayaan Hari Gizi Nasional 2024 bersama Sarihusada dengan tema “Pentingnya Cek Nutrisi untuk Dukung Tumbuh Kembang Maksimal Anak” pada akhir Januari lalu.

“Dalam pedoman gizi seimbang, susu juga merupakan sumber protein hewani yang bisa menjadi salah satu pilihan untuk melengkapi asupan nutrisi Si Kecil sehari-hari,” lanjutnya.

Dua jenis zat besi

Seperti Moms ketahui, banyak sekali jenis pangan yang bisa menjadi sumber zat besi. Hanya saja, ada sumber pangan yang mengandung zat besi heme dan zat besi non-heme. Perbedaannya terletak pada kemampuan penyerapan zat besinya.

Pada zat besi heme, penyerapannya lebih mudah. Makanan yang tergolong mengandung zat besi heme antara lain adalah sumber protein hewani seperti daging merah, ikan, hati, telur, dan susu. Sebaliknya, zat besi non-heme penyerapannya kurang jika dibandingkan zat besi heme. Contoh makanan yang tergolong mengandung zat besi non-heme adalah polong-polongan, kedelai, sayuran hijau, dan buah.

Perbandingan penyerapan zat besi sendiri adalah sebagai berikut:

  • Daging: 25-30 %
  • Sayuran berdaun hijau: 7-9 %
  • Biji-bijian: 4 %
  • Kacang-kacangan: 2%.

Guna membantu penyerapan zat besi, Si Kecil juga membutuhkan asupan vitamin C yang cukup. Vitamin C sangat bermanfaat dalam menurunkan faktor inhibitor atau penghambat penyerapan zat besi, yaitu fitat, polifenol, dan kalsium.

Itulah salah satu alasan Moms perlu selektif dalam memilih susu untuk Si Kecil. Dalam memilih susu, Moms harus ingat bahwa kandungan atau isinya lebih penting.

Pastikan, susu yang Moms pilih sudah mengandung nutrisi esensial yang dibutuhkan buah hati Anda. Pilih susu yang tinggi zat besi guna mencegah anemia. “Penting bagi orang tua untuk memilih susu yang tepat, karena tidak semua susu itu sama,” tegas dr. Juwalita.

“Pilih susu pertumbuhan yang mengandung zat besi dan dikombinasikan dengan vitamin C. Pasalnya, kombinasi zat besi dan vitamin C akan mendukung penyerapan zat besi menjadi 2 kali lipat. Pastikan juga memilih susu pertumbuhan yang dilengkapi DHA dan minyak ikan agar anak tumbuh maksimal,” jelas dr. Juwalita.

Komitmen Sarihusada

Guna mengurangi angka penderita anemia dan stunting di kalangan anak-anak, Sarihusada berusaha untuk terus menciptakan inovasi dalam pemenuhan nutrisi demi menciptakan generasi maju.

“Sarihusada terus berkomitmen untuk ikut berkontribusi dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan anak Indonesia serta mendukung upaya pemerintah untuk mewujudkan generasi emas Indonesia 2045,” ungkap Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, Medical & Scientific Affairs Director Sarihusada.

“Kami memahami bahwa kesehatan anak Indonesia masih perlu menjadi perhatian serius dari semua pihak, di antaranya kekurangan zat besi yang menjadi salah satu faktor penyebab stunting. Jika tidak ditangani dengan tepat, permasalah kesehatan gizi ini dapat berpotensi mengganggu kesehatan fisik dan aspek kognitif anak hingga dewasa,” imbuhnya.

Salah satu inovasi Sarihusada bisa didapatkan di SGM Eksplor, yaitu susu pertumbuhan yang mengandung IronC. “Seperti yang sudah dijelaskan, kombinasi unik zat besi dan vitamin C merupakan salah satu solusi yang terbaik untuk mencegah anemia,” kata Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK.

Nah, Moms sudah tahu bahayanya jika anak mengalami anemia defisiensi zat besi. Jadi, pastikan kecukupan gizi Si Kecil, ya, terutama zat besi serta vitamin C yang membantu penyerapan zat besi melalui berbagai jenis makanan dan susu. (M&B/Wieta Rachmatia/SW/Foto: Freepik, Sarihusada)