Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Merencanakan kehamilan adalah salah satu keputusan besar dalam perjalanan berumah tangga. Bagi banyak pasangan, menunda memiliki momongan atau memberi jarak kelahiran anak adalah hal yang penting demi kesejahteraan keluarga. Tidak heran jika banyak pertanyaan muncul mengenai cara alami mencegah kehamilan, termasuk tentang gaya atau posisi berhubungan intim.
Mungkin Moms & Dads pernah mendengar desas-desus atau nasihat turun-temurun bahwa gaya tertentu saat berhubungan seks bisa mencegah pertemuan sel sperma dan sel telur. Namun, apakah hal tersebut benar adanya secara medis? Atau hanya sekadar mitos belaka?
Adakah gaya berhubungan intim yang tidak dapat mengakibatkan kehamilan?
Pertanyaan yang sering muncul di benak banyak pasangan adalah: “Apakah ada posisi seks tertentu yang 100% aman dari kehamilan tanpa alat kontrasepsi?”
Jawabannya perlu dipahami dengan hati-hati. Secara medis, tidak ada posisi seks penetratif (penetrasi penis ke vagina) yang dapat menjamin tidak akan terjadi kehamilan. Selama terjadi ejakulasi di dalam atau bahkan di dekat vagina tanpa pengaman, risiko kehamilan akan selalu ada.
Yuk, kita luruskan beberapa anggapan umum yang sering beredar di masyarakat berikut ini, Moms & Dads.
1. Posisi wanita di atas (woman on top)
Banyak yang percaya bahwa jika wanita berada di atas, gravitasi akan bekerja melawan sperma sehingga sulit baginya untuk berenang menuju sel telur. Faktanya, sperma adalah sel yang sangat lincah dan dirancang untuk berenang cepat, tidak peduli ke arah mana gravitasi menariknya. Lendir serviks juga membantu sperma untuk terus bergerak naik menuju rahim sesaat setelah ejakulasi terjadi.
Baca juga: Apa yang Dirasakan Wanita Setelah Sperma Masuk ke Rahim?
2. Posisi berdiri (standing position)
Sama seperti posisi wanita di atas, posisi berdiri sering dianggap aman karena sperma dipercaya akan “jatuh kembali” ke bawah. Ini adalah pemahaman yang kurang tepat. Kekuatan ejakulasi cukup kuat untuk mendorong sperma masuk ke dalam saluran reproduksi wanita dalam hitungan detik. Jadi, meskipun dilakukan sambil berdiri, risiko kehamilan tetap sama besarnya.
3. Satu-satunya “gaya” yang aman
Jika kita berbicara tentang gaya bercinta yang benar-benar tidak mengakibatkan kehamilan, maka jawabannya adalah aktivitas seksual tanpa penetrasi (outercourse). Kegiatan ini bisa berupa berpelukan, berciuman, atau stimulasi manual yang tidak melibatkan masuknya penis ke dalam vagina. Ini adalah satu-satunya cara alami yang efektif mencegah pertemuan sperma dan sel telur tanpa alat kontrasepsi.
Baca juga: Berhubungan Intim saat Haid Tapi Sperma Keluar di Luar, Apakah Bisa Hamil?
Apakah jongkok setelah berhubungan intim bisa mencegah kehamilan?
Selain posisi saat berhubungan intim, banyak juga mitos yang beredar mengenai apa yang harus dilakukan setelah berhubungan intim. Salah satu yang paling populer adalah anjuran untuk segera jongkok, melompat-lompat, atau membasuh area kewanitaan agar sperma keluar kembali.
Apakah cara ini efektif? Sayangnya, jawabannya adalah tidak.
Mengapa jongkok tidak efektif?
Sperma memiliki kemampuan bergerak (motilitas) yang sangat baik. Segera setelah ejakulasi, jutaan sel sperma akan langsung berenang menuju leher rahim. Proses ini terjadi sangat cepat. Meskipun Moms & Dads segera bangun, jongkok, atau pergi ke kamar mandi setelah berhubungan, ribuan sperma mungkin sudah mencapai area yang aman di dalam saluran serviks di mana gravitasi atau bilasan air tidak dapat menjangkaunya.
Risiko membasuh vagina (douching)
Selain jongkok, ada juga yang mencoba membersihkan bagian dalam vagina dengan air atau cairan pembersih (douching) dengan harapan membuang sperma. Dokter sangat tidak menyarankan hal ini. Bukan hanya gagal mencegah kehamilan, praktik douching justru dapat:
- Mendorong sperma masuk lebih dalam ke rahim
- Mengganggu keseimbangan bakteri alami vagina
- Menyebabkan iritasi atau infeksi.
Alternatif yang lebih aman untuk menunda kehamilan
Daripada mengandalkan mitos tentang posisi seks atau gerakan setelah berhubungan yang belum terbukti kebenarannya, ada baiknya Moms & Dads mempertimbangkan metode kontrasepsi yang lebih teruji. Berikut ini beberapa opsi yang bisa dipertimbangkan.
1. Metode kalender (KB alami)
Jika Anda enggan menggunakan alat atau obat hormon, metode kalender bisa menjadi pilihan. Ini melibatkan pemantauan siklus menstruasi untuk mengetahui masa subur. Hindari berhubungan intim saat masa ovulasi (pelepasan sel telur). Namun, metode ini membutuhkan kedisiplinan tinggi dan siklus haid yang teratur agar efektif.
2. Senggama terputus (coitus interruptus)
Metode ini dilakukan dengan menarik penis keluar dari vagina sebelum ejakulasi terjadi. Meskipun lebih baik daripada tidak ada upaya sama sekali, metode ini memiliki risiko kegagalan yang cukup tinggi karena adanya cairan praejakulasi yang mungkin mengandung sperma, serta butuh kontrol diri yang besar dari pihak suami.
3. Kontrasepsi modern
Untuk perlindungan yang lebih pasti, berkonsultasi dengan bidan atau dokter kandungan merupakan langkah terbaik. Pilihan seperti kondom, pil KB, suntik, implan, atau IUD (spiral) memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi (90-99%) dibandingkan sekadar mengandalkan posisi seks tertentu.
Itulah penjelasan mengenai gaya berhubungan intim yang tidak dapat mengakibatkan kehamilan. Tidak ada salahnya untuk menikmati hubungan intim dengan berbagai variasi posisi demi keharmonisan hubungan suami istri. Namun, jika tujuannya adalah mencegah kehamilan, andalkanlah metode kontrasepsi yang sudah terbukti secara medis.
Jangan ragu untuk mengajak pasangan berdiskusi secara terbuka dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan tepercaya untuk menemukan metode perencanaan keluarga yang paling nyaman dan sesuai untuk Anda berdua, Moms & Dads. Ingatlah, perencanaan yang matang adalah kunci keluarga yang sejahtera dan bahagia. (MB/AY/SW/Foto: Jcomp/Freepik)