TODDLER

Kenapa Anak Mudah Tantrum Saat Liburan? Ini 5 Penyebab yang Sering Tidak Disadari Orang Tua


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Liburan sering kali menjadi momen yang paling ditunggu oleh anak-anak. Tidak ada sekolah, bisa bepergian, bertemu keluarga, dan menikmati banyak aktivitas seru. Namun, tidak jarang Moms justru menghadapi situasi yang cukup menantang: anak tiba-tiba lebih mudah tantrum selama liburan.

Padahal, secara logika, masa liburan seharusnya membuat anak lebih bahagia. Faktanya, perubahan rutinitas, kelelahan, hingga overstimulasi justru dapat memicu ledakan emosi pada anak. Tantrum sebenarnya merupakan bagian normal dari perkembangan emosi anak, terutama pada usia balita hingga prasekolah. Memahami penyebabnya dapat membantu Moms mengantisipasi situasi ini agar liburan tetap menyenangkan untuk seluruh keluarga. Berikut beberapa alasan mengapa anak lebih mudah tantrum saat liburan.

Penyebab anak tantrum saat liburan

1. Rutinitas harian berubah drastis

Anak-anak merasa aman ketika memiliki rutinitas yang konsisten. Jadwal makan, tidur siang, waktu bermain, dan waktu tidur malam membantu mereka memahami apa yang akan terjadi selanjutnya.

Saat liburan, rutinitas tersebut sering kali berubah. Anak mungkin tidur lebih larut, bangun lebih pagi untuk perjalanan, atau melewatkan waktu tidur siang. Perubahan ini dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan kehilangan rasa kontrol.

Bagi anak kecil, perubahan kecil saja sudah cukup memicu stres. Ketika mereka belum mampu mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, emosi tersebut sering muncul dalam bentuk tantrum.

2. Anak terlalu lelah

Liburan sering dipenuhi berbagai aktivitas seru: jalan-jalan, mengunjungi kerabat, bermain di tempat wisata, hingga perjalanan jauh. Aktivitas yang terlalu padat dapat membuat anak cepat lelah, baik secara fisik maupun emosional.

Ketika anak kelelahan, kemampuan mereka untuk mengatur emosi juga menurun. Hal yang biasanya tidak menjadi masalah bisa tiba-tiba memicu tangisan atau kemarahan.

Menurut penelitian dari American Academy of Pediatrics, anak yang terlalu lelah atau lapar memiliki risiko lebih tinggi mengalami tantrum karena kemampuan regulasi emosinya menurun. Itulah sebabnya menjaga waktu istirahat anak tetap cukup selama liburan sangat penting.

3. Terlalu banyak stimulasi

Tempat liburan biasanya penuh dengan rangsangan: suara ramai, lampu terang, banyak orang, makanan baru, dan berbagai aktivitas menarik. Bagi orang dewasa mungkin menyenangkan, tetapi bagi anak kecil kondisi ini bisa sangat melelahkan.

Otak anak masih belajar memproses berbagai informasi dari lingkungan. Ketika stimulasi terlalu banyak, anak bisa merasa kewalahan (overstimulated). Kondisi ini membuat mereka lebih mudah rewel, marah, atau menangis.

Tantrum dalam situasi ini sebenarnya merupakan cara anak melepaskan stres yang mereka rasakan.

4. Anak merasa kehilangan kendali

Saat liburan, jadwal sering kali ditentukan oleh orang dewasa. Anak harus mengikuti perjalanan, mengunjungi tempat yang mungkin tidak mereka pilih, atau menunggu terlalu lama.

Ketika anak merasa tidak memiliki kontrol terhadap situasi, mereka bisa merasa frustrasi. Tantrum menjadi salah satu cara mereka mengekspresikan ketidaknyamanan tersebut. Moms bisa membantu dengan memberi pilihan kecil kepada anak. Misalnya:

  • Memilih baju yang ingin dipakai
  • Memilih camilan
  • Memilih aktivitas sederhana

Pilihan kecil seperti ini dapat membuat anak merasa lebih dihargai dan memiliki kontrol.

5. Harapan anak tidak sesuai dengan kenyataan

Sebelum liburan, anak sering membayangkan berbagai hal yang menyenangkan. Mereka mungkin membayangkan bermain terus-menerus, membeli banyak mainan, atau makan makanan favorit sepanjang hari.

Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Anak tetap harus menunggu, berbagi perhatian dengan keluarga lain, atau tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan.

Ketika ekspektasi tidak terpenuhi, anak bisa merasa kecewa. Tantrum menjadi cara spontan mereka untuk mengekspresikan rasa frustrasi tersebut.

Tips agar anak tidak mudah tantrum saat liburan

Agar liburan tetap menyenangkan, Moms dapat melakukan beberapa langkah sederhana berikut:

1. Pertahankan rutinitas penting. Usahakan waktu makan dan tidur anak tidak terlalu jauh berubah dari jadwal biasanya.

2. Jangan membuat jadwal terlalu padat. Sisakan waktu santai agar anak dapat beristirahat.

3. Siapkan camilan dan air minum. Anak yang lapar lebih mudah tantrum.

4. Beri jeda dari keramaian. Jika anak terlihat mulai lelah, ajak mereka beristirahat sebentar di tempat yang lebih tenang.

5. Jelaskan rencana kegiatan. Memberi gambaran tentang aktivitas yang akan dilakukan dapat membantu anak merasa lebih siap.

Anak tantrum saat liburan sebenarnya adalah hal yang cukup wajar terjadi pada anak. Perubahan rutinitas, kelelahan, hingga terlalu banyak stimulasi dapat membuat emosi anak lebih mudah meledak. Dengan memahami penyebabnya, Moms bisa lebih siap menghadapi situasi ini. Kunci utamanya adalah menjaga keseimbangan antara aktivitas seru dan kebutuhan dasar anak, seperti istirahat, makan, dan rasa aman.

Dengan pendekatan yang lebih sabar dan penuh pengertian, liburan keluarga tetap bisa menjadi momen menyenangkan sekaligus mempererat hubungan antara Moms dan Si Kecil. (MB/TW/Foto: Canva Pro)