Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Melihat Si Kecil tumbuh dan mengeksplorasi dunia adalah salah satu momen paling membahagiakan bagi seorang ibu. Namun, dalam perjalanan pengasuhan ini, Moms mungkin pernah memperhatikan reaksi anak yang tampak tidak biasa terhadap hal-hal di sekitarnya. Misalnya, ia mungkin menutup telinga rapat-rapat saat mendengar suara bising penyedot debu, atau menangis histeris ketika memakai baju dengan label atau tekstur kain tertentu.
Reaksi yang terlihat berlebihan ini sering kali membuat orang tua merasa khawatir atau bingung. Perlu Moms ketahui bahwa setiap anak memiliki cara unik dalam memproses informasi dari lingkungan sekitarnya. Jika anak terus-menerus menunjukkan ketidaknyamanan ekstrem terhadap rangsangan sensorik, ini bisa menjadi tanda ia mengalami sensory processing disorder (SPD) atau gangguan pemrosesan sensori.
Kondisi ini terjadi ketika otak kesulitan menerima dan merespons informasi yang masuk melalui panca indra. Nah, untuk lebih jelasnya, simak penjelasan mengenai sensory processing disorder (SPD) berikut ini, Moms!
Baca juga: Si Kecil Sangat Sensitif? Waspadai Gejala Gangguan Sensorik pada Bayi!
Tanda-tanda anak mengalami sensory processing disorder
Anak-anak dengan gangguan pemrosesan sensori umumnya menunjukkan dua jenis respons utama: hipersensitif (terlalu sensitif) atau hiposensitif (kurang sensitif). Beberapa anak bahkan bisa mengalami kombinasi keduanya pada indra yang berbeda. Memperhatikan pola perilaku ini bisa membantu Anda mengenali kebutuhan unik Si Kecil.
Jika anak bersikap hipersensitif, ia akan mudah merasa kewalahan oleh rangsangan sehari-hari. Tanda-tandanya meliputi:
- Ketakutan yang kuat terhadap suara keras yang tiba-tiba, seperti sirene atau kembang api.
- Menolak memakai pakaian tertentu karena tekstur kain, jahitan, atau label yang menempel di leher.
- Sangat pemilih terhadap makanan, sering kali menolak makanan karena tekstur atau baunya.
- Menghindari pelukan atau sentuhan tiba-tiba, bahkan dari anggota keluarga.
Baca juga: Balita Terlihat Sangat Aktif? Kenali Ciri Anak Hiperaktif Usia 2 Tahun
Sebaliknya, anak yang hiposensitif cenderung selalu mencari rangsangan sensorik karena otaknya membutuhkan input lebih banyak untuk bisa merasakannya. Tanda-tanda anak hiposensitif antara lain:
- Kebutuhan konstan untuk menyentuh orang, tekstur, atau benda di sekitarnya.
- Toleransi yang sangat tinggi terhadap rasa sakit; ia mungkin tidak menyadari jika terluka.
- Sering gelisah, suka melompat-lompat, menabrak barang, atau berputar-putar tanpa pusing.
- Kesulitan mengatur kekuatan tubuhnya, misalnya terlalu keras saat memeluk teman atau memegang mainan.
Perbedaan sensory processing disorder dan autisme pada anak
Banyak orang tua merasa cemas ketika mencari tahu tentang gejala SPD karena tanda-tandanya sering dikaitkan dengan autisme atau autism spectrum disorder (ASD). Kenyataannya, meskipun anak-anak dengan autisme sering mengalami masalah pemrosesan sensori, memiliki SPD bukan berarti anak tersebut menderita autisme.
Perbedaan utamanya terletak pada area perkembangan sosial dan komunikasi. Anak dengan autisme umumnya menghadapi tantangan yang signifikan dalam komunikasi sosial, seperti kesulitan melakukan kontak mata, tidak merespons saat namanya dipanggil, atau kesulitan memahami isyarat nonverbal. ia juga sering menunjukkan perilaku berulang dan memiliki minat yang sangat terbatas pada satu topik.
Di sisi lain, anak yang murni mengalami sensory processing disorder biasanya tidak memiliki hambatan komunikasi sosial yang parah. Ia mungkin kesulitan bermain di taman bermain yang bising, tetapi tetap memiliki keinginan kuat untuk berinteraksi dan berteman. Moms bisa berkonsultasi dengan ahli perkembangan anak guna mendapatkan diagnosis yang tepat dan autentik, sehingga intervensi yang diberikan bisa benar-benar disesuaikan untuk Si Kecil.
Pengaruh sensory processing disorder terhadap perkembangan anak
Jika tidak ditangani, gangguan pemrosesan sensori dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan anak. Dari segi emosional, anak mungkin sering merasa cemas atau mudah marah (meltdown) karena otaknya merasa terus-menerus diserang oleh lingkungan sekitarnya. Hal ini tentu membuatnya merasa lelah secara mental.
Dalam aspek motorik dan fisik, gangguan ini dapat membuat anak tampak canggung atau kurang seimbang, memengaruhi kemampuannya dalam belajar keterampilan dasar seperti mengikat tali sepatu atau memegang pensil dengan benar. Pada akhirnya, ini bisa berdampak pada rasa percaya dirinya.
Di sekolah, anak mungkin kesulitan berkonsentrasi pada pelajaran. Cahaya lampu kelas yang terlalu terang atau suara teman-teman yang mengobrol dapat mengalihkan fokusnya secara drastis. Memahami pengaruh ini sangat krusial agar kita bisa memberikan lingkungan yang penuh empati dan aman bagi anak.
Cara mengatasi sensory processing disorder pada anak
Ada beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan di rumah untuk mendukung keseimbangan sensorik anak, Moms, yaitu:
1. Ciptakan area tenang (calm down corner) di dalam rumah. Siapkan sudut yang minim cahaya terang, lengkapi dengan bantal lembut, selimut tebal (weighted blanket), atau buku-buku favoritnya. Ini bisa menjadi tempat aman baginya saat ia merasa kewalahan.
2.Terapkan "diet sensori" yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Diet sensori adalah serangkaian aktivitas fisik terstruktur yang membantu mengatur sistem saraf anak. Misalnya, berikan mainan squishy atau aktivitas bermain pasir untuk anak yang membutuhkan stimulasi taktil, atau sediakan earmuff (penutup telinga) saat berada di tempat umum yang bising.
Jangan lupa untuk selalu memvalidasi perasaannya. Katakan padanya bahwa Anda mengerti jika suara tersebut terlalu keras atau bajunya terasa gatal. Koneksi emosional yang tulus ini akan membuat anak merasa didengar.
Terapi untuk anak dengan sensory processing disorder
Meskipun dukungan di rumah sangat esensial, penanganan SPD biasanya membutuhkan bantuan dari tenaga profesional. Terapi yang paling umum dan efektif untuk anak dengan kondisi ini adalah terapi okupasi yang menggunakan pendekatan integrasi sensori (sensory integration therapy).
Dalam sesi terapi ini, anak akan diajak bermain dalam ruangan khusus yang dirancang untuk merangsang dan menantang indranya secara terukur. Terapis okupasi akan membantu anak berlatih memproses informasi sensorik dengan cara yang lebih terorganisir. Aktivitasnya bisa berupa bermain ayunan, merangkak melewati terowongan, atau melompat di trampolin. Tujuan utamanya adalah melatih sistem saraf otak agar dapat merespons rangsangan dengan lebih tenang dan tepat.
Selain terapi okupasi, beberapa anak juga mendapatkan manfaat dari terapi wicara jika ada kendala oral-motor yang berhubungan dengan cara mereka makan atau berbicara.
Itulah penjelasan mengenai tanda anak mengalami sensory processing disorder. Menemani anak yang mengalami sensory processing disorder memang membutuhkan kesabaran ekstra dan penyesuaian gaya hidup. Namun, dengan pemahaman yang tepat dan intervensi sejak dini, Si Kecil akan tumbuh menjadi individu yang tangguh, percaya diri, dan mandiri. (MB/SW/RF/Foto: Freepik)