Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Seperti peribahasa, “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, itulah mungkin yang menggambarkan pilihan hidup seorang Intan Soekotjo (34). Terlahir sebagai putri semata wayang dari maestro penyanyi keroncong, Sundari Soekotjo, ia pun mantap terjun ke dunia yang sama seperti sang ibunda, dengan membawa warna baru bagi musik keroncong Indonesia.
Dengan segudang kesibukan sebagai penyanyi keroncong dan entrepreneur, istri dari Presa Demiyasa juga tak melupakan peran barunya sebagai ibu dari Ardinta Demiyasa Wiyogo. Diakuinya, kehadiran putri kecilnya ini menjadi penyemangat Intan dalam menjalani kehidupan. Ia pun tak sabar melanjutkan legasi kecintaannya pada musik keroncong pada Si Kecil.
Secara eksklusif, wajah Mother & Beyond Mom of The Month kali ini menceritakan awal mulanya menjadi penyanyi keroncong, keinginannya untuk membuat musik keroncong lebih dikenal dunia, hingga sukacita menjalani peran sebagai orang tua.
Bagaimana awalnya menjadi penyanyi keroncong?
Musik keroncong memang sudah menjadi sebuah oksigen dan identitas di keluargaku. Dari kecil aku sudah sering diperdengarkan dengan lagu-lagu keroncong, jadi memang aku tumbuh dengan alunan musik keroncong.
Nah, awal mulanya aku ingin menjadi penyanyi keroncong karena ketika aku berusia 10 tahun, aku sudah punya keinginan untuk menyanyi di atas panggung. Singkat cerita setelah memohon-mohon pada ibuku, akhirnya aku diberi kesempatan untuk tampil di konser 25 tahun ibuku berkarya. Namun saat itu aku masih membawakan lagu pop berjudul “Rangkaian Melati”. Waktu pertama kali tampil di stage dan dilihat banyak orang, aku tidak merasa gugup sedikitpun dan happy banget.
Semakin dewasa akupun semakin ingin terjun ke dunia musik keroncong. Sempat ditentang oleh ibuku, namun karena niat dan semangat cukup besar aku pun tetap berusaha meyakinkan ibuku agar aku bisa mengikuti jejaknya. Akhirnya restu itu hadir dengan satu syarat, bahwa aku harus lulus perguruan tinggi terlebih dahulu. Setelah menjadi sarjana, dukungan itupun datang dan dipercaya untuk bisa memperdalam dan terjun di dunia musik keroncong.
Sebagai anak dari penyanyi keroncong legendaris Indonesia, apakah terbebani ketika turut terjun di dunia yang sama?
Sebenarnya bukan terbebani, justru ini memotivasi aku untuk menunjukkan bahwa kami berdua dilahirkan dan dibesarkan di era yang berbeda. Jadi kami mempunyai warna dan cara sendiri untuk bisa memberikan warna di musik keroncong.
Mungkin ada yang bilang bahwa “Sundari Soekotjo terlalu pakem, kalau Intan kok modern banget”. Tapi bagiku tidak masalah, karena memang kami lahir di masa yang berbeda. Jadi tidak ada salahnya kami mengedepankan era-era di mana kami bertumbuh, supaya musik keroncong juga terus tumbuh dan berkembang.
"Bukan terbebani sebagai anak dari penyanyi keroncong legendaris, justru ini memotivasi aku untuk mengedepankan era di mana aku bertumbuh, supaya musik keroncong juga terus tumbuh dan berkembang."
Berkarir di dunia musik keroncong tentu tidak mudah, pernahkah ada rasa ingin menyerah?
Dalam hal apapun yang kita lakukan di dunia ini, rasanya kita pasti pernah ada di satu titik, di mana kita ingin menyerah. Begitupun saat berkarir di dunia musik keroncong. Misalnya saat ingin membuat acara, mencari sponsorship itu menjadi salah satu hal yang menantang sebenarnya, bukan membuatku menyerah. Karena mungkin awareness musik keroncong ini memang masih harus dipupuk lagi. Bagaimanapun, musik keroncong itu kan bisa dibilang jiwanya Indonesia ya. Jadi kenapa tidak agar teman-teman yang punya ide lebih cemerlang untuk mengembangkan musik keroncong ini diberikan ruang, peluang, dan kesempatan yang sama.
Apa perubahan terbesar setelah menjadi seorang ibu?
Setelah menjadi ibu, aku merasa jadi lebih “alert”, semakin siaga day and night, dan harus semakin siap memberikan our best self. Karena apa yang Ardinta lihat dan dengar itu tentu akan menjadi contoh untuknya. Jadi sekarang sudah mulai aku biasakan untuk bilang “terima kasih”, “maaf”, dan “permisi” dalam bahasa Jawa, dan mengajarkan hal-hal lainnya untuk memberikan lingkungan positif dan membentuk Ardinta dengan baik.
Lebih menantang mana, menjalani masa kehamilan atau mengasuh Ardinta setelah lahir?
Bagiku keduanya sama-sama menantang. Kebetulan kehamilanku kemarin itu adalah buah dari program hamil yang aku jalani. Sebelumnya sempat Inseminasi, namun belum berhasil, lalu aku mencoba program IVF. Bersyukurnya, di cycle pertama aku berhasil. Ini benar-benar anugerah dari Allah SWT, Karena aku sering mendengar para pejuang garis dua yang sedang berjuang menjemput buah hati lewat program IVF, mayoritas tidak hanya sekali percobaan. Jadi aku bersyukur bisa menjalani peran sebagai orang tua bagi Ardinta lebih awal dari orang-orang lainnya.
Nah, kemarin itu sebenarnya aku hamil anak kembar. Tapi di bulan ke-8, adik Ardinta, Ardina meninggal karena terlilit tali pusar. Sedih tentu, tapi aku berpikir apapun yang sudah terjadi, pasti itu yang terbaik menurut Tuhan. Sekarang aku masih diberi kesempatan untuk membesarkan Ardinta, itu sudah lebih dari cukup. Meski kini tantangannya buatku adalah bagaimana aku sebagai ibu harus tetap bisa semangat dan optimis untuk membesarkan Ardinta, walau kadang rindu dengan Ardina.
Setelah Ardinta lahir, tentu kini tantangannya adalah bagaimana aku membagi waktu untuk Ardinta, suami, dan karirku, karena kini tiga peran yang aku jalani, menjadi seorang istri, ibu, dan tentunya aku sebagai wanita yang berkarir. Semuanya challenging, tapi tetap harus kita jalani dan nikmati prosesnya, karena it’s part of life.
Bagaimana tumbuh kembang Ardinta?
Alhamdulillah tumbuh kembang Ardinta luar biasa. Ia sudah bisa tengkurap, guling-guling, dan merespon kalau diajak berkomunikasi. Sudah bisa bilang “iya”, “enggak”, “enggeh” atau “nggih”, karena kadang-kadang di rumah kami berbahasa Jawa, jadi mungkin terekam oleh Ardinta.
Sekarang Ardinta juga sudah mulai MPASI meski belum memasuki usia 6 bulan. Apapun hal kecil yang Ardinta sudah capai menjadi selebrasi untukku sebagai orang tua, karena kan ia lahir prematur ya, jadi ini menjadi suatu hal yang patut kami banggakan dan harus sampaikan pada Ardinta bahwa ia hebat.
Bagaimana membangun kedekatan dengan Ardinta?
Caraku membangun kedekatan dengan Ardinta sesederhana dengan memandikan dia, memperkenalkan dia barang-barang yang ada di rumah atau menceritakan kisah di balik foto-foto yang terpajang di rumah, juga menyanyikannya sebuah lagu. Kebetulan aku dan suami kan suka jamming bareng, jadi kami juga suka ajak Ardinta bernyanyi bersama. Bisa dibilang salah satu parenting kita adalah untuk bisa hadir untuk anak melalui musik gitu.
Selain itu, aku dan suami juga sering mengajak Ardinta untuk pergi atau quality time. Sekarang kan Ardinta sudah mau masuk usia 6 bulan, jadi sudah bisa diajak pergi dan banyak aku pertemukan dengan eyang-eyangnya. Mumpung beliau-beliau ini masih ada, masih sehat dan ingat sama kita, aku rasa dengan melihat cucunya, para eyang ini seperti mendapat semangat baru untuk terus hidup. Jadi aku juga tidak ingin merebut kebahagiaan dan suasana hangat dari eyang ke cucunya.
Bagaimana menjaga keharmonisan dengan pasangan?
Biasanya aku dan suami jamming bareng. Suami main gitar, lalu aku nyanyi, dan suka duet bareng juga. Persis seperti waktu awal kami dekat, jadi mengulang lagi kebersamaan supaya refresh suasana dulu lagi. Selalu diusahakan waktunya agar kita spare waktu berdua untuk nge-date.
Apa arti kehadiran Ardinta buat Intan?
Ardinta adalah hadiah spesial yang tak terduga dari Tuhan. Dia penyemangatku dalam hidup. Karena di saat aku lelah atau gundah gulana menghadapi kehidupan ini, ketika melihat Ardinta tidur atau saat dia melihat aku, rasanya runtuh semua kelelahan dan kesedihan itu. Kehadirannya menjadi semangat baru untuk aku agar bisa lebih baik lagi dan bisa menjadi inspirasi buatnya kelak untuk terjun ke dunia musik keroncong.
"Kehadiran Ardinta menjadi semangat baru untukku agar bisa lebih baik lagi dan bisa menjadi inspirasi buatnya kelak untuk terjun ke dunia musik keroncong."
Apakah Anda sudah mulai mewariskan kecintaan pada musik keroncong pada Ardinta?
Sejak masih di dalam perut, Ardinta sudah aku kenalkan dengan musik keroncong. Kebetulan saat hamil, aku masih ambil job nyanyi, waktu itu aku mengelus perut sambil berkomunikasi dengan Ardinta, memberi tahunya, “Kak, ini loh musik keroncong”. Setelah lahir, aku juga suka mengajak Ardinta bernyanyi lagu anak-anak dan membiarkannya mendengar lagu keroncong.
Kalau boleh jujur, sebagai ibu aku ingin sekali Ardinta bisa terjun di dunia musik keroncong, supaya bisa meneruskan estafet legacy dari eyangnya, ibu Sundari Soekotjo, yang sudah lebih dari 50 tahun berkarya di dunia musik keroncong. Tentunya akan luar biasa bila nantinya Ardinta bisa menyukai musik keroncong, namun bila sebaliknya, setidaknya ia tahu bahwa musik keroncong adalah musik Indonesia.
Apa pesan bagi sesama ibu yang masih ingin berkarir meski sudah menikah dan punya anak?
Support system itu penting ya. Walaupun di sekitar kita mungkin kurang mendukung dengan kondisi atau pekerjaan yang kita lakukan, kita harus menunjukan bahwa kita happy menjalankannya, harapannya aura dan energi positif yang kita tunjukkan itu membuat orang-orang di sekitar tahu dan mengerti dengan pilihan kita. Dan tak lupa kita harus pintar-pitar membagi waktu untuk diri kita dan keluarga.
Adakah project yang ingin Anda wujudkan dalam waktu dekat?
Aku ingin membuat musik keroncong lebih mendunia. Setelah sempat memperkenalkan musik keroncong ke Korea Utara, aku ingin membawa keroncong ke berbagai penjuru negara yang belum pernah berkolaborasi sejauh ini, misalnya China, Russia, Korea Selatan dan lain-lain. Agar semakin membuka wawasan kita bahwa musik keroncong adalah musik budaya yang universal. Juga agar pemerintah semakin memberikan peluang agar kami bisa bebas leluasa membawa musik keroncong ke ajang festival internasional lainnya.
"Aku ingin membuat musik keroncong lebih mendunia. Karena banyak sekali yang bisa dieksplor dari musik keroncong. Jadi kenapa tidak untuk membuka kesempatan berkolaborasi, dan bagi pemerintah untuk semakin memberikan ruang pada kami untuk berkembang."
(MB/Vonda Nabilla/RF/Photographer: Lintang Sukmana/Digital Imaging: Raghamanyu Herlambang /MUA&Hairstylist: Aksis Mipi (@aksismipi_mua))