Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Dalam pernikahan, nafkah sering kali dipahami sebagai kebutuhan materi seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Padahal, dalam Islam, ada pula nafkah batin yang menjadi bagian penting dalam kehidupan berumah tangga. Ketika suami tidak memberi nafkah batin, tidak sedikit istri yang merasa sedih, bingung, atau bahkan mempertanyakan kondisi pernikahannya.
Perasaan tersebut tentu wajar. Namun, Islam mengajarkan agar setiap persoalan rumah tangga dihadapi dengan bijaksana, penuh kesabaran, dan komunikasi yang baik. Dengan memahami hak dan kewajiban masing-masing pasangan, masalah nafkah batin dapat diupayakan dengan cara yang lebih sehat dan penuh kasih sayang.
Hak istri & kewajiban suami memberi nafkah batin
Dalam Islam, suami memiliki kewajiban untuk memperlakukan istrinya dengan baik, termasuk memenuhi kebutuhan batin dan emosionalnya. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 19:
"Wa 'aasyiruu hunna bil ma'ruuf."
Artinya: Dan bergaullah dengan mereka (para istri) secara patut.
Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan suami istri tidak hanya sebatas hidup bersama, tetapi juga memenuhi hak istri dalam nafkah batin yang meliputi mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari suami, memperoleh perlakuan yang baik dan penuh penghormatan, mendapatkan komunikasi yang sehat dalam rumah tangga, serta terpenuhinya kebutuhan biologis secara wajar sesuai kemampuan dan kondisi pasangan.
Di sisi lain, suami memiliki kewajiban untuk berusaha memenuhi hak-hak tersebut sebagai bentuk tanggung jawab dalam pernikahan. Rasulullah SAW bersabda:
“Khairukum khairukum li ahlihi wa ana khairukum li ahli.” (HR. Tirmidzi)
Artinya: Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.
Hadits ini menunjukkan bahwa kebaikan seorang suami tidak hanya diukur dari kemampuannya memberikan nafkah lahir, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan istrinya dengan penuh perhatian, kelembutan, dan kasih sayang.
Hubungan suami istri bukan sekadar kewajiban, tetapi juga bentuk ibadah yang dapat mempererat ikatan emosional dan menjaga keharmonisan keluarga. Namun, ketika nafkah batin tidak terpenuhi dalam waktu yang cukup lama tanpa alasan yang jelas, istri berhak menyampaikan perasaan dan mencari jalan keluar yang baik bersama suami.
Perbedaan nafkah lahir dan nafkah batin dalam pernikahan Islam
Nafkah lahir adalah kebutuhan yang bersifat fisik dan materi, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, biaya kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Sementara itu, nafkah batin berkaitan dengan kebutuhan emosional dan biologis dalam hubungan suami istri. Bentuknya bisa berupa perhatian, kasih sayang, kedekatan emosional, komunikasi yang hangat, hingga hubungan intim yang sehat dan sesuai syariat.
Kedua nafkah tersebut tentu sama pentingnya. Rumah tangga yang terpenuhi kebutuhan materinya belum tentu harmonis apabila kebutuhan emosional dan batin pasangan terabaikan. Sebaliknya, hubungan yang penuh kasih sayang juga membutuhkan dukungan nafkah batin yang memadai agar keluarga dapat berjalan dengan baik.
Cara istri menyikapi suami yang tidak memberi nafkah batin
1. Hindari langsung berprasangka buruk
Ketika nafkah batin dirasa tidak terpenuhi, cobalah untuk memahami situasi yang sedang dihadapi suami terlebih dahulu. Bisa jadi ada faktor seperti kelelahan, tekanan pekerjaan, masalah kesehatan, atau hal lain yang memengaruhi kondisi dirinya.
2. Sampaikan perasaan dengan lembut
Jika ada perasaan yang mengganjal, jangan memendamnya sendiri. Tapi cara menyampaikannya juga perlu diperhatikan supaya tidak memicu konflik. Hindari kalimat yang menyalahkan, dan lebih baik gunakan kalimat yang menjelaskan perasaan sendiri. Cara seperti ini biasanya lebih mudah diterima dan tidak membuat pasangan bersikap defensif.
3. Hindari percakapan yang memicu debat
Moms, saat komunikasi dalam rumah tangga, cara bicara punya pengaruh besar ke arah percakapan. Kalau disampaikan dengan nada menyerang, pasangan cenderung akan menutup diri dan tidak fokus untuk menemukan solusi.
John Gottman, peneliti hubungan dari The Gottman Institute, menjelaskan bahwa hubungan yang sehat bukan berarti tanpa konflik, tetapi bagaimana pasangan tetap mampu berkomunikasi dengan baik saat menghadapi masalah. Jadi, penting untuk memilih waktu yang tenang dan menjaga cara bicara tetap tenang agar percakapan tetap terbuka.
Langkah yang bisa dilakukan saat nafkah batin tidak terpenuhi
Dalam rumah tangga, saat kebutuhan batin terasa tidak terpenuhi, yang paling sering muncul adalah perasaan yang campur aduk, antara sedih, bingung, dan mulai mempertanyakan situasi hubungan. Tapi sebelum melangkah lebih jauh, penting untuk tidak langsung menarik kesimpulan. Berikut langkah yang bisa Moms lakukan.
1. Memahami situasi sebelum bereaksi
Sebelum merespon dengan perasaan, coba beri ruang untuk melihat situasi secara lebih menyeluruh. Sering kali perubahan sikap dalam hubungan bukan selalu soal berkurangnya perhatian, tetapi bisa dipengaruhi faktor lain seperti tekanan pekerjaan atau kondisi mental yang sedang tidak stabil.
2. Membuka komunikasi dan tidak menyudutkan
Setelah memahami situasi, Moms bisa membuka komunikasi dengan pasangan. Perasaan yang tidak disampaikan dengan baik biasanya cenderung berubah jadi jarak yang memperkeruh suasana. Jadi, Anda bisa menyampaikan perasaan dengan jujur namun dengan bahasa yang tidak terkesan menyalahkan pasangan. Dengan begitu, percakapan lebih mudah diterima dan tidak berubah menjadi defensif.
3. Menjaga kedekatan dari hal-hal sederhana
Moms, untuk memperbaiki hubungan tidak selalu harus dengan langkah yang besar, lho. Kadang justru hal kecil seperti menghabiskan waktu bersama, berbicara ringan, atau sekadar duduk tanpa distraksi bisa membantu mengembalikan hubungan yang sempat renggang.
4. Melibatkan pihak ketiga jika diperlukan
Jika berbagai upaya telah dilakukan namun tidak membuahkan hasil, tidak ada salahnya melibatkan pihak ketiga seperti konselor pernikahan. Kehadiran orang yang bersikap netral bisa membantu melihat masalah dengan lebih jernih tanpa terbawa emosi masing-masing pihak. Dalam Islam pun hal ini dianjurkan melalui QS. An-Nisa ayat 35 tentang menghadirkan penengah ketika terjadi perselisihan dalam rumah tangga.
“Wa in khiftum shiqÄqa baynihimÄ fab‘athÅ« ḥakamam min ahlihi wa ḥakamam min ahlihÄ in yurÄ«dÄ iá¹£lÄḥay yuwafiqillÄhu baynahumÄ innallÄha kÄna ‘alÄ«man khabÄ«rÄ.”
Artinya: Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. An-Nisa: 35)
Fakta pentingnya komunikasi dan sabar dalam menjaga pernikahan
Komunikasi dan kesabaran dalam pernikahan merupakan salah satu hal yang sederhana dalam sebuah hubungan. Namun, justru yang paling menentukan keberlangsungan hubungan itu sendiri. Banyak masalah yang muncul dalam rumah tangga bukan dari masalah besar, tapi karena hal-hal kecil yang tidak sempat dibicarakan dengan baik atau dipendam terlalu lama.
Tidak ada hubungan yang berjalan tanpa adanya perbedaan pendapat dan masa renggang. Di titik seperti ini, sabar bukan berarti diam tanpa usaha, tetapi tetap berusaha memperbaiki keadaan dengan cara yang baik tanpa terburu-buru mengambil keputusan. Ketika komunikasi dan kesabaran berjalan beriringan, banyak masalah dalam rumah tangga bisa lebih mudah untuk diselesaikan. (MB/RA/RF/Foto: Freepik)