Type Keyword(s) to Search
FAMILY & LIFESTYLE

Darah Nifas atau Haid? Begini Cara Membedakannya Setelah Melahirkan

Darah Nifas atau Haid? Begini Cara Membedakannya Setelah Melahirkan

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Setelah melahirkan, tubuh Moms masih terus mengeluarkan darah dari area kewanitaan selama beberapa minggu? Wajar kalau Moms sempat bertanya-tanya, Ini masih darah nifas atau sudah haid lagi, ya? Apalagi kalau warnanya berubah-ubah dari hari ke hari, membuat Moms makin bingung membedakan ciri darah haid setelah nifas.

Pertanyaan ini sebenarnya sangat umum ditanyakan, terutama oleh Moms yang baru pertama kali melahirkan. Sebab, perbedaan darah nifas dan haid memang tidak selalu terlihat jelas hanya dari warnanya saja. Nah, agar Moms tidak salah kira dan tahu kapan haid pertama setelah melahirkan biasanya muncul, yuk simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Nifas atau haid, apa bedanya?

Darah yang keluar setelah melahirkan disebut lochia atau darah nifas. Ini adalah proses alami tubuh untuk membersihkan sisa jaringan plasenta dan lapisan rahim yang sempat menebal selama kehamilan. Jadi, jangan langsung berasumsi ini adalah haid, ya, Moms, karena keduanya punya proses dan tujuan yang berbeda.

Anda juga perlu tahu, warna darah saja tidak bisa jadi patokan pasti untuk membedakan nifas dengan haid. Di awal masa nifas, darah biasanya berwarna merah terang dan cukup banyak, mirip seperti hari pertama haid yang deras. Karena kemiripan ini, banyak Moms yang akhirnya salah mengira darah nifas sebagai haid yang datang lebih cepat dari perkiraan.

Cara paling akurat membedakan keduanya adalah dengan melihat pola perubahannya dari waktu ke waktu, bukan sekadar warna di satu waktu tertentu. Lochia punya alur perubahan yang cukup khas dan bertahap, sementara haid punya pola siklus yang berulang. Nah, di bagian selanjutnya, Moms akan lebih paham soal alur perubahan warna lochia ini.

Kapan haid kembali datang?

Secara umum, lochia akan berubah warna secara bertahap, dari merah terang di beberapa hari pertama, berubah menjadi coklat kemerahan, lalu merah muda pucat, dan akhirnya menjadi putih kekuningan menjelang minggu keempat hingga keenam. Volumenya pun semakin berkurang seiring waktu hingga akhirnya berhenti sama sekali. Setelah lochia benar-benar tuntas, biasanya ada jeda waktu tanpa pendarahan sebelum haid pertama datang.

Waktu kembalinya haid pertama setelah melahirkan sangat bervariasi pada setiap orang, dan sangat dipengaruhi oleh cara menyusui. Bagi Moms yang tidak menyusui atau menyusui secara campuran, haid bisa kembali sekitar 6 hingga 8 minggu pasca melahirkan. Sementara itu, Moms yang menyusui secara eksklusif seringkali mengalami penundaan haid lebih lama, bahkan bisa sampai berbulan-bulan, karena hormon prolaktin yang menekan ovulasi.

Meski begitu, tidak ada patokan waktu yang pasti sama untuk semua orang. Ada Moms yang haidnya kembali dalam hitungan minggu, ada juga yang baru kembali setelah lebih dari setahun, terutama jika menyusui dilakukan secara intensif dan sering. Jadi, kalau haid Moms belum juga datang padahal teman atau saudara sudah lebih dulu haid lagi, itu bukan berarti ada yang salah dengan tubuh Anda.

Ciri-ciri darah haid

Karena warna saja tidak cukup jadi patokan, Moms perlu memerhatikan beberapa ciri lain yang lebih akurat untuk membedakan darah haid dari sisa-sisa lochia. Berikut beberapa hal yang bisa Moms amati.

  1. Ada jeda tanpa perdarahan sebelum darah muncul kembali

    Ciri paling khas dari haid pasca melahirkan adalah munculnya jeda waktu tanpa pendarahan sama sekali sebelum darah baru keluar. Lochia biasanya berhenti secara bertahap tanpa benar-benar putus di tengah jalan, sementara haid datang setelah rahim benar-benar bersih dan siklus hormonal mulai berjalan lagi. Jadi kalau Moms sempat beberapa hari atau minggu tanpa flek sama sekali, lalu tiba-tiba muncul darah lagi, kemungkinan besar itu adalah haid. Jeda inilah yang paling membedakan dibanding lochia yang keluarnya cenderung menyambung terus dari hari ke hari.
  2. Volume darah mengikuti pola naik-turun khas haid 

    Darah haid biasanya punya pola volume yang naik dulu di hari-hari awal, lalu perlahan menurun menjelang akhir siklus, mirip dengan pola haid Moms sebelum hamil dulu. Ini berbeda dengan lochia yang volumenya terus menurun secara konsisten dari waktu ke waktu tanpa ada fase naik lagi di tengah-tengah. Kalau Anda merasa darah yang keluar sempat lebih deras di beberapa hari pertama kemudian mereda menjelang akhir, ini jadi salah satu penanda pola haid. Meski begitu, volume ini bisa saja masih lebih ringan atau lebih berat dari haid biasanya karena tubuh masih dalam masa penyesuaian.
  3. Durasi perdarahan lebih singkat dan konsisten 

    Lochia umumnya berlangsung selama beberapa minggu, sementara haid biasanya hanya berlangsung sekitar 3 sampai 7 hari saja, jauh lebih singkat dibanding masa nifas. Kalau perdarahan yang Moms alami sudah jauh berkurang durasinya dibanding masa-masa awal nifas, ini bisa jadi tanda tubuh sudah kembali ke pola siklus normal. Durasi yang relatif konsisten dari waktu ke waktu, meski belum sempurna teraturnya, juga lebih mengarah ke haid dibanding lochia. Catat saja durasinya setiap kali muncul supaya Moms bisa melihat pola yang mulai terbentuk.
  4. Disertai gejala khas pramenstruasi

    Kalau sebelum darah keluar Moms mulai merasakan gejala yang familiar seperti kram perut, nyeri atau bengkak di area payudara, atau perubahan suasana hati menjelang hari-H, ini juga jadi sinyal kuat bahwa itu adalah haid. Gejala-gejala ini muncul karena adanya fluktuasi hormon estrogen dan progesteron yang menyertai siklus ovulasi, sesuatu yang biasanya tidak terjadi selama masa lochia. Namun perlu diingat, intensitas gejala ini bisa berbeda dari yang Moms rasakan sebelum hamil, jadi jangan kaget kalau terasa lebih ringan atau justru lebih berat dari biasanya.

Menyusui dan risiko hamil lagi

Ada satu hal penting yang wajib Moms ketahui, ovulasi bisa terjadi sebelum haid pertama pasca melahirkan muncul. Artinya, tubuh Moms bisa saja sudah melepaskan sel telur meskipun belum ada tanda haid sama sekali. Ini yang membuat banyak Moms tidak sadar sedang dalam masa subur dan akhirnya kaget saat mengetahui hamil lagi padahal belum pernah haid sejak melahirkan.

Metode kontrasepsi alami berbasis menyusui, atau yang dikenal dengan Lactational Amenorrhea Method (LAM), memang bisa menekan ovulasi, tetapi hanya efektif dengan syarat ketat, yaitu menyusui eksklusif tanpa jeda panjang, bayi berusia di bawah 6 bulan, dan Moms belum mengalami haid sama sekali. Kalau salah satu syarat ini tidak terpenuhi, perlindungan dari metode ini jadi tidak bisa diandalkan lagi.

Jadi, kalau Moms dan pasangan belum berencana menambah momongan dalam waktu dekat, sebaiknya jangan menunggu haid pertama datang sebagai tanda aman. Diskusikan pilihan kontrasepsi yang sesuai dengan dokter, terutama yang aman digunakan selama masa menyusui, supaya Moms bisa merencanakan kehamilan berikutnya dengan lebih matang dan sesuai keinginan.

Kapan harus saspada?

Meski pendarahan pasca melahirkan adalah hal yang normal, ada kondisi-kondisi tertentu yang menandakan Anda perlu segera memeriksakan diri ke tenaga medis. Jangan menunggu terlalu lama kalau Moms mengalami tanda-tanda yang tidak biasa, karena penanganan yang cepat bisa mencegah komplikasi yang lebih serius.

Perhatikan juga durasi perdarahan secara keseluruhan, kalau perdarahan berat masih berlangsung lebih dari dua minggu tanpa tanda-tanda berkurang, atau justru muncul kembali setelah sempat berhenti disertai gejala yang mengkhawatirkan, ini juga perlu dikonsultasikan. Tubuh Anda sedang dalam proses pemulihan besar-besaran, jadi mendengarkan sinyal yang diberikan tubuh sangat penting. Berikut beberapa tanda yang perlu Moms waspadai dan segera periksakan ke dokter atau bidan.

  1. Pembalut penuh dengan durasi singkat 

    Hal ini menandakan volume darah yang keluar jauh dari batas normal dan perlu penanganan cepat. Kalau ini terjadi lebih dari satu-dua kali berturut-turut, jangan tunggu sampai besok untuk memeriksakan diri. Kondisi ini bisa jadi tanda perdarahan pasca melahirkan yang tidak biasa dan berisiko membuat tubuh Moms kekurangan darah dalam waktu singkat.
  2. Gumpalan darah berukuran besar 

    Gumpalan sebesar ini bisa jadi sinyal ada sisa jaringan yang belum keluar sempurna dari rahim. Kondisi ini kadang butuh tindakan medis khusus agar rahim bisa kembali bersih dan pulih dengan baik. Semakin lama dibiarkan, semakin besar pula risiko terjadinya infeksi atau perdarahan yang lebih berat.
  3. Darah berbau tidak sedap atau menyengat 

    Bau yang tidak biasa sering kali menandakan adanya infeksi yang butuh penanganan medis. Semakin cepat infeksi ditangani, semakin kecil risikonya menyebar dan mengganggu proses pemulihan Moms. Biasanya bau ini juga akan disertai gejala lain seperti nyeri atau demam, jadi jangan diabaikan meski terasa ringan di awal.
  4. Demam atau menggigil 

    Kombinasi ini bersama perdarahan bisa jadi tanda tubuh sedang melawan infeksi serius. Jangan buru-buru dianggap masuk angin biasa, apalagi kalau demam tidak turun-turun meski sudah istirahat. Kalau suhu tubuh terus naik dalam beberapa jam, sebaiknya Moms tidak menunggu lebih lama lagi untuk mendapat penanganan.
  5. Pusing berlebihan, lemas, atau seperti akan pingsan 

    Gejala ini menandakan tubuh Moms mungkin kehilangan darah dalam jumlah yang tidak sedikit. Kalau sampai muncul rasa ingin pingsan, sebaiknya minta bantuan orang terdekat untuk segera mengantar ke fasilitas kesehatan. Jangan memaksakan diri beraktivitas sendirian dulu sampai kondisi benar-benar dipastikan aman oleh tenaga medis.
  6. Nyeri perut atau area kewanitaan yang justru makin memburuk 

    Nyeri yang seharusnya mereda tapi malah bertambah parah bukanlah hal yang bisa dianggap remeh. Ini bisa jadi pertanda ada proses pemulihan yang tidak berjalan semestinya dan perlu dicek langsung oleh tenaga medis. Terlebih kalau nyeri disertai pembengkakan atau area yang terasa panas saat disentuh, segera periksakan tanpa menunggu lebih lama.

Itulah penjelasan mengenai ciri darah haid setelah nifas. Setiap orang punya perjalanan pemulihan yang berbeda-beda setelah melahirkan, termasuk soal kapan haid pertama akan kembali. Yang terpenting, kenali tubuh Anda sendiri, jangan ragu mencatat perubahan yang terjadi, dan jangan sungkan berkonsultasi dengan tenaga medis kalau ada yang terasa tidak biasa. Fokus utama saat ini adalah pemulihan Moms dan tumbuh kembang Si Kecil, jadi beri diri sendiri waktu dan kesabaran yang cukup, ya, Moms. (MB/RA/RF/Foto: Freepik)