Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Bibir sumbing dan celah langit-langit masih menjadi salah satu kelainan bawaan yang membutuhkan perhatian serius dalam layanan kesehatan anak di Indonesia. Masalah ini tidak hanya berkaitan dengan penampilan fisik, tetapi juga berdampak pada kemampuan makan, tumbuh kembang, serta perkembangan bicara anak.
Dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetika RS Hermina Bogor, dr. Maulina Rachmasari, SpBP RE, menjelaskan bahwa bibir sumbing kerap disertai dengan gangguan celah langit-langit, sehingga penanganannya tidak selalu dapat dilakukan dalam satu kali operasi.
“Kadang-kadang gangguan bibir sumbing itu disertai dengan gangguan langit-langit. Bila kondisinya seperti ini, maka biasanya operasinya dilakukan dua tahap. Di usia 3 bulan, kita operasi bibirnya dulu, lalu kemudian di usia 1 tahun kita operasi celah langit-langit. Kalau masalahnya bibir sumbing, maka di usia 3 bulan sudah cukup diatasi,” ujarnya.
Menurut Maulina, terdapat pula kasus celah langit-langit tanpa bibir sumbing. Kondisi ini sering tidak tampak dari luar sehingga kerap terlambat dikenali oleh keluarga.
“Kalau dilihat dari luar, tidak ada gangguan fisik yang terlihat, tapi ketika dia berbicara, gangguan itu terdengar karena saat berbicara suaranya sengau,” kata dia.
Ia menambahkan, operasi celah langit-langit idealnya dilakukan sekitar usia satu tahun, saat anak mulai belajar berbicara. Penanganan yang terlambat dapat membuat anak terbiasa berbicara dengan langit-langit yang masih terbuka sehingga artikulasi menjadi kurang jelas.
“Usia 1 tahun usia terbaik karena ia sudah belajar berbicara. Kalau terlambat, dia nanti terbiasa berbicara dengan kondisi langit-langit terbuka dan suaranya menjadi kurang jelas. Untuk itu, kadang setelah operasi langit-langit dibutuhkan terapi wicara,” jelasnya.
Angka kejadian dan faktor risiko bibir sumbing
Secara epidemiologis, Maulina menyebut angka kelahiran bibir sumbing dan celah langit-langit berkisar 1 dari 700 hingga 1.000 kelahiran hidup. Angka tersebut menunjukkan bahwa kelainan ini bukan kondisi yang sangat jarang ditemukan.
Penyebabnya bersifat multifaktorial, meliputi faktor genetik dan lingkungan. Beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko antara lain infeksi saat kehamilan, kekurangan nutrisi, paparan asap rokok, radiasi, serta faktor genetik keluarga.
Selain tantangan medis, persoalan akses layanan juga masih menjadi kendala besar. Banyak keluarga belum dapat memperoleh operasi karena keterbatasan biaya.
“Yang jadi permasalahan, banyak kalangan belum bisa mengakses operasi bibir sumbing dan celah langit-langit karena terkendala biaya. Asal tahu saja, untuk satu operasi saja bisa jutaan bahkan puluhan juta,” ungkap Maulina.
Dampak lebih dari sekadar penampilan
Dalam kegiatan layanan operasi bibir sumbing gratis yang digelar di RS Hermina Bogor menjelang Hari Anak Nasional dan HUT Kemerdekaan RI ke-81, perhatian terhadap aspek fungsional kembali ditekankan.
Direktur RS Hermina Bogor, dr. Muyi Ayoe Hapsari, SH., MM, menilai operasi bibir sumbing tidak dapat dipandang hanya sebagai tindakan rekonstruksi kosmetik.
“Melalui program operasi bibir sumbing tidak bisa dipandang hanya sebagai prosedur rekonstruktif, melainkan sebagai upaya komprehensif untuk meningkatkan kualitas hidup anak,” ujarnya.
Sementara itu, dari sisi medis, Maulina juga menegaskan bahwa tujuan utama operasi adalah mengembalikan fungsi dasar anak.
“Bibir sumbing merupakan kelainan bawaan yang memerlukan penanganan komprehensif. Operasi pada waktu yang tepat menjadi langkah penting untuk mengembalikan fungsi, bukan sekadar memperbaiki penampilan, dengan tindakan sejak dini anak memiliki kesempatan lebih baik untuk memperoleh nutrisi yang optimal, perkembangan bicara yang baik, serta kualitas hidup yang lebih baik hingga dewasa,” katanya.
Kolaborasi untuk memperluas akses layanan
Program operasi gratis tersebut merupakan hasil kolaborasi Smile Train Indonesia dengan sejumlah pihak, termasuk dukungan sosial dari PT Alamii Natura Sejahtera (Alamii Food). Dukungan yang diberikan berupa donasi untuk membantu pembiayaan operasi bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Country Manager dan Program Director Smile Train Indonesia, Deasy Larasati, mengatakan bahwa operasi bibir sumbing tidak hanya memperbaiki kelainan fisik, tetapi juga membantu mengembalikan fungsi makan dan berbicara serta meningkatkan kepercayaan diri anak.
“Program tersebut diharapkan mampu mengembalikan fungsi makan dan berbicara, meningkatkan rasa percaya diri, serta membantu keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang layak,” ujarnya.
Founder Alamii Food, Cindy Mulyasasmita, menyatakan bahwa dukungan perusahaan dalam program ini berangkat dari kepedulian terhadap tumbuh kembang anak, tidak hanya dari sisi nutrisi tetapi juga akses kesehatan.
“Bersama Smile Train Indonesia, kami ingin menghadirkan dampak yang nyata bagi anak-anak dengan bibir sumbing dan celah langit-langit agar mereka dapat makan lebih baik, tumbuh lebih sehat, berbicara lebih percaya diri, dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” kata Cindy.
Pentingnya deteksi dan rujukan dini
Para dokter menekankan bahwa deteksi dini merupakan kunci. Bibir sumbing biasanya dapat dikenali segera setelah lahir, sedangkan celah langit-langit tersembunyi dapat luput bila pemeriksaan rongga mulut tidak dilakukan secara teliti.
Keterlambatan penanganan bukan hanya memengaruhi kemampuan bicara, tetapi juga dapat berdampak pada asupan nutrisi, pertumbuhan, hingga kondisi psikososial anak ketika mulai berinteraksi di lingkungan sekolah.
Karena itu, edukasi kepada orang tua dan penguatan akses rujukan menjadi langkah penting agar anak dengan bibir sumbing maupun celah langit-langit memperoleh penanganan yang tepat waktu, komprehensif, dan berkelanjutan. Di tengah masih adanya hambatan biaya dan pemerataan layanan, isu ini tetap menjadi tantangan kesehatan anak yang memerlukan perhatian bersama, bukan sekadar persoalan estetika. (MB/RF/Foto: Freepik)