Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Perlindungan anak di ruang digital kini menjadi perhatian penting, terutama seiring adanya aturan yang mengatur akses anak terhadap berbagai layanan digital. Namun, melindungi anak dari risiko di dunia digital bukan berarti membatasi mereka dari mendapatkan informasi dan pengetahuan.
Anak tetap membutuhkan sumber informasi yang aman, berkualitas, dan sesuai dengan usia serta tahap perkembangannya. Hal ini menjadi salah satu pembahasan dalam Kumpul Piknik Media Menuju CIA Fest 2026 yang digelar pada Jumat, (21/08/2026).
Pemerintah sebelumnya telah menerbitkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 sebagai aturan pelaksana Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS). Aturan ini memperkuat perlindungan anak saat menggunakan layanan digital, termasuk terkait usia dan akses.
Namun, perlindungan anak di era digital juga perlu diimbangi dengan tersedianya alternatif sumber pengetahuan yang aman dan sesuai usia. Buku, majalah, dan bacaan fisik tetap memiliki peran penting dalam membantu anak membaca, belajar, bertanya, dan mengenal dunia di sekitarnya.
Selain itu menurut Stefanie Augustin, Pendiri Majalah CIA dan ISO, perlindungan anak juga perlu berjalan beriringan dengan penguatan budaya literasi.
“Melindungi anak dari risiko ruang digital tidak cukup hanya dengan membatasi akses. Anak tetap membutuhkan ruang untuk membaca, bertanya, menemukan pengetahuan, dan membangun cara berpikir. Karena itu, perlindungan anak perlu berjalan bersama dengan pemenuhan akses terhadap bacaan yang aman dan sesuai tahap perkembangannya,” ujar Stefanie.
Membawa semangat hak baca anak ke CIA Fest 2026
Semangat tersebut kemudian diwujudkan melalui gerakan Hak Baca Anak yang diusung Majalah CIA. Gerakan ini mengajak masyarakat untuk melihat akses terhadap bacaan berkualitas sebagai bagian penting dari kebutuhan tumbuh kembang anak. Pesan tersebut akan dibawa dalam CIA Fest 2026, yang akan digelar pada 2–4 Oktober 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
Memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya, CIA Fest hadir sebagai ruang bagi anak dan keluarga untuk menikmati berbagai kegiatan sekaligus merayakan literasi dengan cara yang lebih menyenangkan. Di tengah semakin terbatasnya ruang aman bagi anak untuk beraktivitas di luar rumah, festival ini mempertemukan keluarga, komunitas, media, dan masyarakat dalam satu ruang untuk belajar, bermain, dan berbagi.
Dari anak untuk anak
Tahun ini, CIA Fest mengangkat tema “Sumatra: Dari Anak untuk Anak”. Melalui tema tersebut, anak-anak diajak untuk mengenal dan menunjukkan kepedulian terhadap teman sebaya yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
Pasalnya, kebutuhan anak setelah bencana tidak berhenti pada makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya. Kesempatan untuk terus belajar dan mendapatkan bacaan juga menjadi bagian penting dari proses pemulihan anak.
Ketika akses terhadap buku dan bahan bacaan terputus, anak kehilangan salah satu sumber pengetahuan dan kesempatan untuk terus belajar. Karena itu, penggalangan dana yang dilakukan dalam rangkaian CIA Fest 2026 akan disalurkan dalam bentuk Majalah CIA dan Majalah ISO untuk anak-anak di wilayah terdampak bencana.
Kepedulian ini juga berangkat dari kondisi bahwa bahkan sebelum bencana terjadi, masih ada anak-anak yang belum mendapatkan hak baca secara optimal karena akses terhadap bahan bacaan cetak yang masih terbatas dan belum merata.
Melalui CIA Fest 2026, anak-anak tidak hanya diajak untuk membaca dan mendapatkan pengetahuan, tetapi juga belajar memahami kondisi di sekitar mereka, peduli terhadap sesama, berani menentukan sikap, serta mengambil bagian melalui aksi nyata.
Yuk, ajak Si Kecil menjadi bagian dari CIA Fest 2026 dan bersama-sama rayakan literasi sekaligus berbagi untuk anak-anak di wilayah terdampak bencana. (MB/VN/RF/Foto: Jcomp/Dok.Freepik, Dok. Majalah CIA)