Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Moms, pernahkah saat kecil Anda merasa harus selalu patuh tanpa boleh bertanya, “Kenapa?”, atau apakah kini Si Kecil justru lebih memilih diam karena takut dimarahi saat ingin bercerita? Pengalaman seperti ini kerap muncul dalam keluarga dengan pola asuh yang sangat ketat. Tak heran, istilah anak strict parents semakin ramai dibicarakan, terutama ketika banyak orang mulai merefleksikan kembali pengalaman mereka saat dibesarkan.
Sebenarnya, menjadi orang tua yang tegas bukanlah hal yang salah. Ada niat baik di balik aturan dan batasan yang diberikan, seperti ingin anak tumbuh disiplin, bertanggung jawab, dan mampu menjaga dirinya. Namun, ada garis tipis antara ketegasan yang sehat dan pola asuh yang terlalu kaku hingga membuat anak merasa tertekan.
Lantas, seperti apa ciri-ciri anak yang dibesarkan oleh strict parents? Apa dampaknya bagi tumbuh kembang dan hubungan anak dengan orang tua? Bagaimana pula mengurangi pola asuh terlalu kaku tanpa kehilangan batasan? Simak penjelasannya berikut.
Apa yang dimaksud dengan anak strict parents?
Anak strict parents adalah anak yang tumbuh dalam pola asuh otoriter (authoritarian parenting). Menurut psikolog, Diana Baumrind, yang mengembangkan kerangka analisis gaya pengasuhan, pola otoriter berangkat dari keyakinan bahwa perilaku dan sikap anak harus dibentuk melalui standar perilaku yang kaku.
Ciri khas pola asuh ini meliputi aturan yang ditetapkan orang tua tanpa penjelasan alasannya, tuntutan kepatuhan penuh di mana anak harus mengikuti aturan tanpa bertanya, dan memberikan hukuman yang cepat dan keras saat aturan dilanggar.
Orang tua yang menganut pola asuh strict ini juga biasanya tidak mendorong anak untuk mengekspresikan diri, tidak boleh membantah, serta biasanya mereka kurang hangat, akrab, atau mengasuh secara emosional, dan membiarkan anak memiliki pilihan yang sangat terbatas.
Beda pola asuh tegas, otoriter, dan otoritatif
Berpayung pada ketegasan, tak jarang pola asuh strict ini disamakan dengan istilah otoriter dan otoritatif. Padahal ketiga istilah ini berbeda.
- Tegas berarti punya aturan yang jelas dan konsisten, tetapi tetap disertai alasan dan kehangatan. Ketegasan bukanlah masalah, justru ini yang dibutuhkan anak.
- Otoriter menekankan kepatuhan mutlak dengan hukuman keras dan minim kehangatan. Fokusnya pada kontrol, bukan pemahaman.
- Otoritatif adalah titik tengah yang paling seimbang. Ada aturan dan disiplin, tetapi diterapkan dengan menghormati kepribadian anak, penuh kasih, dan mendorong komunikasi terbuka.
Jadi perbedaan intinya bukan pada ada atau tidaknya aturan, melainkan pada bagaimana aturan itu disampaikan.
Baca juga: 5 Dampak Pola Asuh Otoriter bagi Perkembangan Anak
Dampak strict parents terhadap emosi, kepercayaan diri, dan keterbukaan anak
Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa pola asuh otoriter yang paling ketat justru dikaitkan dengan lebih banyak dampak negatif pada anak. Menurut riset Diana Baumrind (2003), dampak tersebut meliputi:
1. Keterampilan sosial yang lemah
Anak yang jarang dilatih berpendapat cenderung kesulitan berkomunikasi dan bernegosiasi dengan sehat.
2. Harga diri yang rendah
Ketika suara anak jarang didengar, ia bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa pendapatnya tidak penting.
3. Tingkat depresi lebih tinggi
Tekanan terus-menerus tanpa ruang untuk berekspresi dapat membebani kesehatan mental anak.
Baca juga: Anak Juga Bisa Mengalami Depresi, Ini Gejalanya, Moms
4. Risiko masalah perilaku
Jika hukuman keras seperti bentakan digunakan, risiko munculnya masalah perilaku pada anak dan remaja pun meningkat. Anak juga berpotensi menormalkan perilaku berbasis kekerasan saat dewasa.
5. Anak merasa tidak aman
Dari sisi keterbukaan, anak strict parents sering merasa tidak aman untuk jujur. Karena takut dihukum, mereka memilih diam atau menyembunyikan hal-hal penting, termasuk saat sedang butuh bantuan.
Strict parenting vs disiplin sehat, apa bedanya?
Banyak orang tua khawatir bahwa mengurangi ketegasan sama dengan membiarkan anak tanpa batasan. Kenyataannya tidak begitu. Baik pola asuh otoriter maupun disiplin sehat sama-sama memiliki aturan. Yang membedakan keduanya adalah kehangatan dan responsivitas.
Disiplin sehat, yang selaras dengan pola otoritatif menggabungkan aturan yang jelas dengan hubungan yang hangat. Anak diberi tahu alasan di balik aturan, didengarkan pendapatnya, dan tetap dihadapkan pada konsekuensi yang konsisten. Sementara itu, pola otoriter menuntut kepatuhan tanpa penjelasan dan cenderung mengandalkan rasa takut.
Pilih pendekatan disiplin sehat jika Anda ingin anak tidak hanya patuh, tetapi juga memahami nilai di balik sebuah aturan. Karena pemahaman inilah yang membuat perilaku baik bertahan hingga dewasa.
Baca juga: Screamfree Parenting, Pola Asuh agar Orang Tua Bisa Kendalikan Emosinya
Cara orang tua mengurangi pola asuh terlalu kaku tanpa kehilangan batasan dan konsistensi
Ketika anak terus-menerus menghadapi aturan kaku tanpa ruang berdialog, biasanya timbul respons berupa pemberontakan, anak akan menarik diri, terbiasa berbohong, menjadi people pleaser, serta timbul kecemasan dan rasa takut berlebih. Respons ini merupakan cara mereka bertahan menghadapi lingkungan yang terasa tidak aman untuk jujur.
Melunakkan pola asuh yang bukan berarti menghapus aturan, bisa menjadi solusi untuk menemukan keseimbangan dalam mengasuh anak-anak Anda. Berikut langkah yang bisa Moms lakukan:
1. Jelaskan alasan di balik aturan
Alih-alih "pokoknya tidak boleh", jelaskan mengapa aturan itu ada. Anak yang paham cenderung lebih patuh secara sukarela.
2. Buka ruang komunikasi dua arah
Dengarkan pendapat anak, bahkan saat Anda tetap pada keputusan. Merasa didengar membuat anak lebih terbuka.
3. Tambahkan kehangatan
Sentuhan sederhana seperti pelukan, pujian, dan waktu berkualitas menunjukkan bahwa cinta Anda tidak bergantung pada kepatuhan.
4. Jaga konsistensi konsekuensi
Batasan tetap penting. Terapkan konsekuensi yang wajar dan konsisten, bukan hukuman yang berubah-ubah karena emosi.
5. Sesuaikan dengan usia anak
Balita mungkin butuh aturan yang lebih tegas demi keselamatan, sementara remaja butuh lebih banyak ruang diskusi dan kepercayaan.
6. Cari bantuan bila perlu
Jika Anda merasa kesulitan mengubah pola lama, berkonsultasi dengan psikolog atau ahli parenting bisa sangat membantu.
Ingatlah bahwa pola asuh sering diwariskan antargenerasi, begitupun dengan strict parenting ini. Jika Anda dibesarkan dengan cara yang keras, wajar bila pola itu terasa alami. Karena itu, menyadarinya adalah langkah pertama untuk berubah. (MB/RA/RF/Foto: Peoplecreations/Dok. Freepik)