TODDLER

Berapa Kalori yang Dibutuhkan Anak Usia 2 Tahun? Cek Panduannya di Sini


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Untuk mendukung tumbuh kembangnya, Si Kecil membutuhkan makanan bergizi seimbang dengan jumlah kalori yang cukup. Namun banyak Moms yang bingung berapa kebutuhan kalori anak dua tahun. Wajar kalau ini bikin bingung, apalagi kalau Moms sedang berusaha memastikan asupan Si Kecil sudah cukup.

Simak pembahasan lengkapnya, mulai dari angka acuan resmi dari Kementerian Kesehatan, kenapa kebutuhan setiap anak bisa berbeda meski usianya sama, cara membagi energi ke makan utama dan camilan, pentingnya zat gizi lain selain kalori, hingga kapan Si Kecil butuh perhitungan individual dari dokter atau ahli gizi.

Angka acuan kalori anak 2 tahun

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia, kebutuhan energi untuk kelompok usia 1-3 tahun ditetapkan sebesar 1.350 kkal per hari. Angka ini disusun berdasarkan rata-rata berat badan 13 kg dan tinggi badan 92 cm untuk kelompok usia tersebut, dan menjadi rujukan resmi yang digunakan pemerintah dalam kebijakan gizi nasional, termasuk program pencegahan stunting.

Karena angka 1.350 kkal ini adalah angka acuan untuk populasi, bukan patokan mutlak untuk satu anak, penting untuk memahami bahwa kebutuhan kalori Si Kecil secara individual bisa saja sedikit berbeda dari angka tersebut.

Baca juga:5 Rekomendasi Susu untuk Kecerdasan Otak

Kenapa kebutuhan anak bisa berbeda

Meski Permenkes menetapkan satu angka acuan untuk kelompok usia 1-3 tahun, bukan berarti semua anak di usia ini butuh kalori yang sama persis. Beberapa faktor berikut bisa membuat kebutuhan energi Si Kecil berbeda dari angka rata-rata:

1. Ukuran tubuh yang berbeda dari rata-rata

Angka AKG dihitung berdasarkan berat dan tinggi badan rata-rata anak seusianya, sehingga anak dengan ukuran tubuh lebih besar atau lebih kecil dari rata-rata wajar punya kebutuhan energi yang sedikit berbeda. Anak yang badannya lebih besar umumnya membutuhkan kalori sedikit lebih banyak dibanding rata-rata populasi, sementara anak dengan tubuh lebih mungil biasanya cukup dengan asupan yang sedikit lebih rendah dari angka acuan.

2. Tingkat aktivitas fisik

Anak yang sangat aktif bergerak, sering berlari, atau banyak bermain fisik cenderung membutuhkan energi lebih banyak dibanding anak yang cenderung lebih tenang. Perbedaan pola aktivitas ini bisa menyebabkan variasi kebutuhan kalori meski usianya sama persis, terutama bila anak lebih banyak menghabiskan waktu bermain di luar ruangan dibanding di dalam rumah.

3. Fase pertumbuhan yang sedang berlangsung

Anak yang sedang mengalami growth spurt atau lonjakan pertumbuhan biasanya membutuhkan energi tambahan untuk mendukung proses tersebut. Kebutuhan ini bisa berubah-ubah dari waktu ke waktu, bukan angka yang tetap sepanjang tahun, sehingga wajar bila nafsu makan Si Kecil terlihat naik turun di periode tertentu.

4. Kondisi kesehatan tertentu

Anak dengan kondisi kesehatan khusus, seperti riwayat berat badan kurang, alergi makanan, atau kondisi medis tertentu, mungkin membutuhkan penyesuaian kalori yang berbeda dari angka acuan umum. Kondisi ini biasanya perlu pemantauan lebih lanjut dari tenaga medis, karena penyesuaian yang tidak tepat bisa memengaruhi proses pemulihan atau tumbuh kembang anak secara keseluruhan.

Membagi energi ke makan dan camilan

Alih-alih menghitung kalori di setiap suapan, Moms bisa menggunakan pendekatan yang lebih praktis dengan membagi porsi berdasarkan waktu makan. Sebagai gambaran umum, sekitar 70-80% dari total energi harian bisa dialokasikan untuk tiga kali makan utama (sarapan, makan siang, makan malam), sementara sisanya sekitar 20-30% dibagi untuk dua kali camilan di antara waktu makan utama.

Pendekatan berbasis porsi piring juga bisa membantu, misalnya mengisi setengah piring dengan sayur dan buah, seperempat dengan sumber karbohidrat seperti nasi atau kentang, dan seperempat lainnya dengan sumber protein seperti telur, ayam, atau tahu tempe. Camilan di antara waktu makan sebaiknya tetap bergizi, seperti buah potong, yogurt, atau krakers, dibanding camilan tinggi gula yang hanya menyumbang kalori kosong tanpa nutrisi tambahan.

Bukan kalori saja yang penting

Fokus hanya pada angka kalori tanpa memerhatikan komposisi zat gizinya bisa membuat Moms melewatkan aspek penting dalam tumbuh kembang Si Kecil. Berdasarkan Permenkes No. 28 Tahun 2019, selain energi 1.350 kkal, kelompok usia 1-3 tahun membutuhkan sekitar 20 gram protein, 45 gram lemak total, 215 gram karbohidrat, dan 19 gram serat per hari, ditambah kecukupan zat besi dan mikronutrien lain seperti zinc dan vitamin A yang penting untuk mendukung imunitas dan perkembangan otak.

Protein berperan penting dalam pertumbuhan jaringan dan otot, sementara zat besi sangat krusial untuk mencegah anemia yang cukup umum terjadi pada anak usia balita. Karbohidrat tetap jadi sumber energi utama, namun sebaiknya diimbangi dengan serat dari sayur dan buah agar sistem pencernaan Si Kecil tetap sehat. Kombinasi seimbang dari berbagai zat gizi ini jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar angka kalori tertentu setiap harinya.

Baca juga:Makanan Kaya Zat Besi yang Baik untuk Pertumbuhan Anak

Kapan perlu konsultasi ahli gizi

Angka AKG memang bisa jadi acuan awal yang berguna, tapi ada situasi tertentu ketika Si Kecil membutuhkan perhitungan kalori individual dari dokter anak atau ahli gizi, bukan sekadar mengikuti angka populasi.

1. Berat badan tidak naik sesuai kurva pertumbuhan

Bila kenaikan berat badan Si Kecil konsisten berada di bawah kurva pertumbuhan standar, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter anak untuk evaluasi kebutuhan gizi yang lebih spesifik. Penilaian ini biasanya mempertimbangkan riwayat makan, pola tumbuh kembang, dan kondisi kesehatan lain secara menyeluruh, sehingga rekomendasi yang diberikan lebih sesuai dengan kondisi Si Kecil.

2. Anak memiliki kondisi kesehatan khusus

Kondisi seperti alergi makanan, gangguan pencernaan, atau riwayat penyakit tertentu memerlukan penyesuaian kebutuhan gizi yang berbeda dari anak pada umumnya. Ahli gizi bisa membantu menyusun menu yang tetap memenuhi kebutuhan energi tanpa memicu masalah kesehatan tambahan, sekaligus memastikan zat gizi penting tetap terpenuhi.

3. Anak sangat pilih-pilih makanan (picky eater) dalam jangka panjang

Bila kondisi ini berlangsung lama dan Moms khawatir asupan gizinya tidak tercukupi, ahli gizi bisa membantu menyusun strategi menu sekaligus memastikan kebutuhan energi dan zat gizi tetap terpenuhi. Penanganan yang tepat sejak dini juga membantu mencegah masalah gizi yang lebih serius di kemudian hari.

4. Anak memiliki tingkat aktivitas yang jauh berbeda dari rata-rata

Anak yang sangat aktif secara fisik atau justru memiliki keterbatasan gerak tertentu mungkin membutuhkan perhitungan kalori yang disesuaikan dengan kondisinya. Konsultasi dengan ahli gizi bisa membantu menentukan angka yang lebih akurat dibanding hanya mengandalkan angka acuan umum, terutama bila kondisi tersebut berlangsung dalam waktu yang cukup lama.

Memahami bahwa angka 1.350 kkal adalah acuan populasi, bukan patokan mutlak untuk setiap anak, membantu Moms lebih tenang dalam memantau porsi makan anak 2 tahun sehari-hari. Selama Si Kecil tumbuh sesuai kurva pertumbuhannya, aktif bergerak, dan mendapat menu bergizi seimbang, variasi kecil dari angka acuan kebutuhan kalori anak 2 tahun bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan berlebihan. (MB/RA/RF/Foto: Magnific)