Type Keyword(s) to Search
TODDLER

Jangan Asal Murah, Begini Cara Melihat Nutrisi Dalam Susu Menurut Dokter Gizi  

Jangan Asal Murah, Begini Cara Melihat Nutrisi Dalam Susu Menurut Dokter Gizi
 

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Susu memang bisa menjadi salah satu sumber nutrisi terutama protein yang dibutuhkan Si Kecil untuk mendukung tumbuh kembangnya. Namun, banyaknya merek susu di luar sana sering kali membuat banyak Moms bingung memilih yang tepat untuk anak.

Kemudahan klaim nutrisi dan iming-iming harga terjangkau, membuat banyak orang tua asal memilih tanpa memahami kebutuhan gizi anak yang sebenarnya. 

Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Permata Depok, dr. Felianty Badralany, Sp.G.K., mengingatkan orang tua agar tidak terfokus pada merek atau klaim promosi semata. Menurutnya, langkah pertama yang paling krusial sebelum membeli susu pertumbuhan adalah membaca dan memahami Informasi Nilai Gizi pada label kemasan. 

"Jangan terpaku pada merek susu tersebut dan klaim yang diberikan. Langsung lihat label gizi yang tertera di box atau kaleng susu," tegas dr. Feli.  

Salah satu perhatian utama dalam memilih susu pertumbuhan adalah kandungan gula. Dokter Feli menjelaskan bahwa orang tua perlu jeli membedakan jenis gula yang tertera pada komposisi produk. 

“Kandungan laktosa pada susu merupakan gula alami yang berasal dari susu itu sendiri dan aman untuk dikonsumsi anak. Namun, orang tua perlu mewaspadai jenis gula tambahan seperti sukrosa dan maltodekstrin. Gramasi dari gula tambahan ini harus diperhatikan secara cermat karena akan terakumulasi dan menambah total asupan gula harian ana,” jelasnya. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan American Heart Association (AHA) merekomendasikan batas asupan gula tambahan pada anak kurang dari 10% total energi harian atau tidak melebihi 25 gram per hari. 

"Kita harus melihat berapa gram sukrosanya per takaran saji. Jika anak minum susu dua kali sehari, tinggal dikalikan. Efek konsumsi gula berlebihan mungkin tidak terlihat jangka pendek, namun dalam jangka panjang bisa memicu risiko obesitas hingga penyakit metabolik seperti diabetes melitus," jelasnya. 

Dalam membaca label gizi, orang tua diminta memerhatikan urutan informasi secara cermat. Informasi takaran saji dan energi total yang tertera di bagian paling atas kemasan menjadi acuan dasar dalam menghitung pemenuhan gizi harian anak. Selanjutnya, pastikan kecukupan kadar protein yang terkandung di dalamnya telah sesuai dengan porsi harian anak.  

“Orang tua juga perlu mencermati kandungan zat besi dan zinc yang penting untuk pembentukan sel darah merah, pertumbuhan fisik, serta imunitas tubuh. Tak kalah penting, keberadaan DHA, Omega 3, dan Omega 6 yang juga sangat berperan dalam menunjang tumbuh kembang otak anak,” tambah dr. Feli. 

Dokter Felianty juga mengingatkan agar orang tua membandingkan kandungan gizi secara sepadan antar produk, misalnya membandingkan kandungan DHA murni yang terkandung di dalam produk susu. Hal penting yang sering disalahpahami adalah menganggap susu sebagai penentu utama keberhasilan gizi anak. Dokter Felianty menegaskan pentingnya mengubah pola pikir tersebut. 

"Susu itu bukan penentu keberhasilan pencapaian nutrisi pada anak, susu hanya pelengkap. Tetap orang tua harus mengutamakan pola makan sehat dari real food atau makanan utama," tuturnya. 

Jika anak enggan makan makanan utama dan cenderung memilih minum susu, orang tua disarankan untuk tidak langsung menyerah atau menjadikan susu sebagai pengganti makanan. Orang tua harus konsisten menerapkan jadwal dan porsi makan utama tiga kali sehari agar pola makan anak tetap terjaga dengan baik. (MB/RF/Foto: Magnific)