FAMILY & LIFESTYLE

Jangan Anggap Sepele, Waspada Dampak Abu Vulkanik pada Kulit


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Belakangan ini, sejumlah wilayah termasuk Jabodetabek tengah terdampak sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Mengingat dampaknya yang bisa membahayakan kesehatan, sejumlah imbauan pun diberikan, seperti menggunakan masker saat di luar ruangan, pembelajaran jarak jauh bagi siswa sekolah, hingga membatasi aktivitas di luar ruangan.

Namun, tahukah Moms bahwa dampak abu vulkanik bukan hanya dapat memengaruhi kesehatan pernapasan dan mata, tetapi juga bisa memberikan dampak pada kesehatan kulit.

Di tengah situasi darurat seperti sebaran abu vulkanik, perhatian memang sering kali lebih banyak tertuju pada perlindungan pernapasan dan keselamatan secara umum. Namun, kesehatan kulit tetap layak menjadi bagian dari kewaspadaan, mengingat kulit adalah organ terluar yang paling sering bersentuhan langsung dengan partikel abu di udara.

Mengapa abu vulkanik bisa berdampak pada kesehatan kulit?

Kandungan abu vulkanik cukup kompleks, terdiri dari berbagai unsur seperti klorida, sulfat, florida, magnesium, kalium, natrium, dan kalsium. Sejumlah unsur bersifat asam dalam kandungan ini dapat memicu terjadinya iritasi ketika bersentuhan langsung dengan permukaan kulit, mulai dari rasa gatal, kemerahan, hingga risiko iritasi yang lebih serius pada kulit yang sensitif.

"Abu vulkanik itu sifatnya cukup kompleks, mengandung berbagai mineral yang sebagian bersifat asam. Kalau menempel di kulit dalam waktu lama tanpa dibersihkan, potensi iritasinya cukup nyata, apalagi bagi yang punya kulit sensitif," jelas dr. Silvia Kartika, Dokter Estetika dari Seraphim Beauty & Aesthetic Center.

Selain dapat menyebabkan iritasi akibat kandungan asamnya, tekstur abu vulkanik yang berupa partikel halus juga berpotensi menyumbat pori-pori kulit jika menempel dalam waktu lama tanpa dibersihkan dengan tepat, terutama pada area wajah yang lebih sering terekspos udara terbuka. Penyumbatan pori-pori ini yang kerap memicu munculnya jerawat atau bruntusan pada beberapa hari setelah paparan.

Mengingat dampak yang bisa ditimbulkan akibat abu vulkanik, maka penggunaan masker saja tidak cukup. Sebab, masker memang efektif melindungi saluran pernapasan dari partikel abu vulkanik, namun area kulit yang tidak tertutup masker, seperti dahi, area sekitar mata, hidung bagian atas, hingga leher, tetap berisiko terpapar langsung.

"Masker itu penting, tapi jangan berhenti di situ saja. Area wajah yang tidak tertutup masker, seperti dahi dan sekitar mata, tetap kena paparan langsung. Kacamata dan pakaian lengan panjang bisa jadi pelindung tambahan yang sering dilupakan orang," tambah dr. Silvia.

Cara melindungi kulit dari bahaya abu vulkanik

Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk melindungi kulit selama kondisi udara masih dipengaruhi abu vulkanik:

  • Gunakan pelindung tambahan selain masker, seperti kacamata dan pakaian lengan panjang, untuk meminimalkan area kulit yang terpapar langsung.
  • Segera bersihkan kulit setelah beraktivitas di luar ruangan, terutama area wajah, menggunakan pembersih yang lembut untuk mengangkat partikel abu yang menempel.
  • Hindari menggosok kulit terlalu keras saat membersihkan sisa abu, karena gesekan berlebih justru berisiko memperparah iritasi pada kulit yang sudah terpapar.
  • Gunakan pelembab untuk membantu menjaga skin barrier tetap terlindungi, terutama jika kulit mulai terasa kering atau kasar setelah terpapar.
  • Perhatikan tanda-tanda iritasi, seperti kemerahan, gatal, atau rasa perih pada kulit, dan segera periksakan diri bila gejala tidak kunjung membaik.

“Jangan tunda membersihkan wajah setelah beraktivitas di luar saat kondisi udara sedang seperti ini. Semakin lama partikel menempel, semakin besar risiko iritasi atau pori-pori tersumbat," ujar dr. Silvia.

Bagi kulit yang sudah terlanjur terpapar abu vulkanik dalam durasi cukup lama, terutama pada area wajah yang lebih sensitif dan sulit sepenuhnya terlindungi meski sudah memakai masker, pembersihan menyeluruh menjadi langkah penting untuk mencegah penyumbatan pori-pori berlanjut menjadi masalah kulit yang lebih besar.Salah satu pilihan perawatan yang bisa dilakukan adalah Facial by Phyto yang tersedia di Seraphim Beauty & Aesthetic Center.

Facial by Phyto merupakan terapi facial wajah yang menggunakan bahan-bahan alami dengan pendekatan energi lima elemen (wood, fire, earth, metal, water). Pendekatan ini dirancang untuk membersihkan kulit secara menyeluruh sekaligus menenangkan kondisi kulit yang mungkin sedang sensitif akibat paparanlingkungan, seperti debu maupun abu vulkanik.

"Setelah kulit terpapar debu atau partikel halus seperti abu vulkanik, langkah pembersihan yang tepat sangat penting untuk mencegah penyumbatan pori-pori dan iritasi berkelanjutan. Facial by Phyto kami pilih karena pendekatannya menggunakan bahan alami, sehingga cocok digunakan pada kondisi kulit yang sedang lebih sensitif dari biasanya," jelas dr. Silvia.

Adapun beberapa manfaat Facial by Phyto adalah:

  • Membersihkan pori-pori wajah secara menyeluruh
  • Membantu meredakan jerawat dan bruntusan yang mungkin muncul akibat pori-pori tersumbat
  • Menenangkan kulit yang sedang sensitif atau mudah teriritasi
  • Membantu mencerahkan kulit yang tampak kusam akibat paparan debu dan polusi
  • Menutrisi kulit wajah dengan bahan-bahan alami

"Kombinasi pembersihan mendalam dan bahan-bahan alami dalam Facial by Phyto membuat perawatan ini cukup fleksibel, baik sebagai perawatan rutin maupun sebagai langkah pemulihan setelah kulit terpapar kondisi lingkungan yang kurang bersahabat, seperti saat ini," tambah dr. Silvia.

Meski begitu, dr. Silvia mengingatkan bahwa kulit yang sedang dalam kondisi iritasi aktif seperti kemerahan, gatal parah, atau luka terbuka akibat garukan, sebaiknya tidak langsung menjalani facial, dan perlu dikonsultasikan lebih dulu untuk memastikan penanganan yang tepat.

"Kalau kulit sedang iritasi berat, sebaiknya ditenangkan dulu kondisinya sebelum menjalani prosedur facial apa pun. Konsultasi terlebih dahulu penting untuk menentukan apakah kondisinya sudah memungkinkan untuk perawatan lanjutan atau perlu penanganan iritasi terlebih dahulu," tutup dr. Silvia.

Itulah informasi terkait dampak paparan abu vulkanik terhadap kesehatan kulit. Pastikan Moms selalu berkonsultasi ke dokter kulit saat mengalami tanda-tanda iritasi, kusam, atau berjerawat.(MB/RF/Foto: Magnific)