KID

Wajib Tahu! Ini Kunci Optimalkan Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak Sejak Dini


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Setiap anak tumbuh dengan keunikan dan potensi masing-masing. Sebagai orang tua, Moms tentu ingin memberikan dukungan terbaik agar Si Kecil tumbuh sehat, cerdas, dan mampu mengenali emosinya. Namun, kecerdasan anak tidak hanya diukur dari kemampuan akademis atau angka IQ. Kemampuan mengelola emosi, berempati, berkomunikasi, hingga membangun hubungan yang sehat juga menjadi bagian penting dari tumbuh kembangnya.

Untuk mendukung berbagai kemampuan tersebut, ada sejumlah faktor yang perlu diperhatikan, mulai dari nutrisi, kesehatan, pola pengasuhan, hingga stimulasi yang sesuai dengan usia anak.

Salah satu periode penting yang perlu dimanfaatkan adalah golden period, yakni sejak masa kehamilan hingga sekitar usia lima tahun, ketika otak berkembang pesat dan sangat responsif terhadap pengalaman serta lingkungan.

Memahami periode penting perkembangan anak

Dalam diskusi media bertajuk “Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal”, Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, Senior Psikolog Klinis, menjelaskan bahwa dalam perkembangan anak terdapat dua periode yang perlu dipahami orang tua, yaitu critical period dan sensitive period.

Critical period merupakan fase ketika masukan tertentu dibutuhkan untuk mendukung perkembangan fungsi otak secara optimal. Sementara itu, sensitive period adalah masa ketika anak lebih responsif terhadap pengalaman tertentu sehingga stimulasi yang tepat dapat memberikan dampak lebih kuat.

Seribu Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi periode yang sangat penting karena perkembangan otak berlangsung pesat. Meski demikian, perkembangan anak tidak berhenti setelah usia dua tahun. Pada usia dua hingga lima tahun, kemampuan bahasa, regulasi emosi, interaksi sosial, dan kemandirian juga terus berkembang.

“Pemahaman mengenai periode kritis dan sensitif dapat membantu orang tua mengenali kapan dukungan, nutrisi, pengasuhan, dan stimulasi perlu diberikan secara konsisten dan responsif,” ujar Ratih.

Kabar baiknya, stimulasi kecerdasan emosional tidak harus dilakukan melalui aktivitas yang rumit. Moms dapat memulainya dari keseharian, seperti mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi, membantu Si Kecil mengenali perasaannya, memberikan contoh cara mengelola emosi, serta mengajaknya bermain dan belajar bergantian. Membaca buku bersama dan membicarakan perasaan tokoh dalam cerita juga dapat menjadi cara sederhana untuk menumbuhkan empati.

“Anak belajar melalui interaksi, pengalaman, dan perilaku orang dewasa di sekitarnya. Karena itu, pengasuhan yang penuh perhatian dan responsif menjadi bagian penting dalam membantu anak memahami emosi, mengatur respons, dan membangun hubungan yang sehat,” tambah Ratih.

Kesehatan pencernaan, fondasi tumbuh kembang anak

Selain stimulasi dan pengasuhan, kesehatan pencernaan juga perlu menjadi perhatian, Moms. Pada masa awal kehidupan, sistem pencernaan dan mikrobiota usus mengalami perkembangan penting yang berperan dalam mendukung kesehatan anak secara menyeluruh.

Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Executive Director Indonesia Health Development Center (IHDC) dan Member of Gut and Immunity Council (GIC), menjelaskan bahwa otak dan saluran pencernaan saling terhubung melalui gut-brain axis (GBA). Hubungan dua arah ini memungkinkan komunikasi antara usus dan otak, yang turut berkaitan dengan berbagai fungsi tubuh, termasuk respons terhadap stres dan suasana hati.

“Untuk mendukung kecerdasan emosional dan potensi anak secara optimal, stimulasi perlu berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi, terutama untuk mendukung kesehatan pencernaan anak. Sering kali dikatakan bahwa pencernaan merupakan otak kedua anak karena otak dan saluran pencernaan saling terhubung melalui gut-brain axis,” jelas dr. Ray.

Salah satu komponen yang mendukung keseimbangan mikrobiota usus adalah prebiotik. Prebiotik merupakan jenis zat, termasuk serat tertentu, yang dimanfaatkan oleh mikroorganisme baik di dalam saluran pencernaan. Asupannya dapat diperoleh dari beragam makanan, seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan umbi-umbian.

Menurut dr. Ray, pemenuhan nutrisi perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak. Untuk anak di atas satu tahun, susu pertumbuhan yang mengandung prebiotik dapat menjadi salah satu pilihan sesuai kebutuhan, sebagai pelengkap pola makan yang beragam dan bergizi seimbang.

Meski demikian, kesehatan pencernaan bukan satu-satunya penentu kecerdasan anak. Nutrisi tetap perlu berjalan bersama dengan stimulasi, pengasuhan responsif, tidur yang cukup, aktivitas fisik, serta kesempatan bermain dan berinteraksi dalam lingkungan yang aman.

Dukung potensi Si Kecil dengan pendekatan menyeluruh

Mendampingi tumbuh kembang anak merupakan proses yang berlangsung setiap hari. Moms dapat memulainya dengan menyediakan makanan bergizi seimbang, membangun kebiasaan makan yang baik, merespons kebutuhan emosional anak, serta memberinya ruang untuk bereksplorasi dan belajar sesuai tahap perkembangannya.

Setiap anak memiliki kecepatan dan cara belajar yang berbeda. Karena itu, orang tua tidak perlu terpaku pada perbandingan dengan anak lain. Hal yang lebih penting adalah mengenali kebutuhan Si Kecil dan memberikan dukungan yang konsisten seiring pertumbuhannya.

“Dengan mengenali keunikan setiap anak, memahami periode penting dalam perkembangannya, memberikan stimulasi yang sesuai, serta memastikan kebutuhan nutrisi dan kesehatan anak terpenuhi, orang tua dapat membantu menciptakan fondasi yang mendukung anak untuk tumbuh, belajar, berinteraksi, dan mengembangkan kemampuan terbaiknya,” tutup dr. Ray. (MB/Vonda Nabilla/RF/Foto: rawpixel.com/Dok.Freepik & Danone Indonesia)