BABY

Vaksin Bayi Usia 2 Bulan, Apa Saja yang Perlu Moms Ketahui?


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Vaksinasi telah terbukti secara ilmiah menjadi cara pencegahan penyakit menular yang paling efektif. Inilah mengapa Anda sebaiknya tidak melewatkan jadwal pemberian vaksin untuk Si Kecil. Bagi ibu baru, Anda mungkin masih kebingungan apa saja vaksin bayi usia dua bulan. Tak perlu khawatir Moms, di bawah ini Anda bisa menemukan informasi lengkapnya yang bisa menjadi acuan.

Vaksin yang diberikan di usia 2 bulan

Usia 2 bulan menandai dimulainya fase imunisasi inti, ketika antibodi bawaan dari Moms mulai menurun dan Si Kecil membutuhkan perlindungannya sendiri. Berikut vaksin yang perlu diberikan pada kunjungan ini.

1. DPT-HB-Hib dosis 1

Vaksin kombinasi ini melindungi dari difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus, hepatitis B, dan infeksi bakteri Hib yang bisa menyebabkan radang otak dan paru. Vaksin ini diberikan lewat suntikan, biasanya di paha bagian luar.

2. Polio dosis 1

Vaksin polio mencegah kelumpuhan akibat virus polio dan bisa diberikan berupa tetes mulut (OPV) maupun suntik (IPV), tergantung jadwal dan rekomendasi dokter.

3. PCV dosis 1

Vaksin pneumokokus ini melindungi dari radang paru (pneumonia), radang selaput otak, dan infeksi darah akibat bakteri pneumokokus, dan juga diberikan lewat suntikan di paha.

4. Rotavirus dosis 1

Vaksin yang diberikan lewat tetes mulut ini melindungi bayi dari diare berat akibat rotavirus. Vaksin ini punya batas usia pemberian, sehingga Anda sebaiknya tidak menunda pemberiannya untuk Si Kecil.

Sebagian besar vaksin tersebut sudah masuk program imunisasi nasional dan tersedia gratis di puskesmas, tapi ketersediaannya bisa berbeda di tiap daerah. Konfirmasi untuk tahu ketersediaannya ya, Moms.

Jadwal imunisasi dan booster

Imunisasi dasar memerlukan pengulangan, karena sebagian besar vaksin perlu diberikan bertahap agar kekebalannya terbentuk optimal. Berikut gambaran jadwal imunisasi bayi 2 bulan menurut pedoman IDAI beserta dosis lanjutannya.

Yang perlu Anda ketahui Moms, rekomendasi IDAI memungkinkan beberapa variasi skema, misalnya jarak antar dosis DPT-HB-Hib atau pilihan 2+1 untuk PCV. Karena itu, jadwal pasti Si Kecil sebaiknya tetap dikonfirmasi dengan dokter anak atau tenaga kesehatan, dan dicatat rapi di buku KIA agar tidak terlewat.

Baca juga:Perlukah Bayi Diberikan Obat Demam Setelah Vaksinasi?

Efek samping yang perlu diperhatikan

Setelah imunisasi, tubuh Si Kecil sedang membangun kekebalan sehingga beberapa reaksi ringan sangat umum terjadi. Dalam istilah medis, reaksi ini disebut Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Berikut perbandingan antara reaksi yang masih wajar dan yang perlu segera diperiksakan.

Untuk meredakan efek samping ringan, Moms bisa menyusui Si Kecil lebih sering agar tetap terhidrasi dan nyaman, memakaikan pakaian yang longgar dan tipis, serta mengompres dingin area suntikan yang bengkak atau nyeri.
Bila Si Kecil demam atau tampak sangat tidak nyaman, tanyakan ke dokter apakah boleh diberikan obat penurun demam dan berapa takarannya, karena dosis pada bayi harus disesuaikan dengan berat badan.

Reaksi alergi berat setelah imunisasi sangat jarang terjadi, dan biasanya muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam. Itulah mengapa dianjurkan untuk menunggu sekitar 30 menit di fasilitas kesehatan setelah vaksin diberikan, agar bila ada reaksi tidak biasa bisa langsung ditangani.

Persiapan sebelum imunisasi

Persiapan yang matang membuat proses imunisasi berjalan lebih lancar dan membantu Moms lebih tenang. Berikut beberapa persiapan sebelum imunisasi bayi yang bisa dijadikan panduan:

1. Pastikan Si Kecil dalam kondisi sehat

Bayi yang sedang demam, batuk pilek berat, atau sakit cukup serius biasanya perlu dinilai dulu oleh dokter sebelum divaksin. Bila ragu, jangan ditunda sendiri, konsultasikan lebih dulu agar keputusannya tepat.

2. Bawa buku KIA atau catatan imunisasi

Buku ini jadi rekam jejak vaksin yang sudah dan belum diberikan, sekaligus acuan tenaga kesehatan menentukan jadwal berikutnya. Jangan lupa minta petugas mencatat tanggal dan jenis vaksin yang diberikan pada hari tersebut.

3. Pilih waktu kunjungan yang tepat

Usahakan datang saat Si Kecil sudah cukup tidur dan tidak sedang lapar. Jadwal pagi hari sering lebih nyaman, karena Moms punya waktu seharian memantau reaksinya.

4. Kenakan pakaian yang mudah dibuka di bagian paha

Karena banyak vaksin disuntikkan di paha, pakaian yang praktis akan mempercepat proses dan mengurangi rewel akibat menunggu terlalu lama.

5. Siapkan perlengkapan dan penenang

Bawa popok cadangan, kain bedong, dan botol atau siapkan diri untuk menyusui setelah vaksin, karena menyusu bisa membantu menenangkan Si Kecil dan meredakan rasa tidak nyaman.

6. Catat riwayat alergi dan pertanyaan Moms

Informasikan riwayat alergi yang dimiliki Si Kecil maupun keluarga, serta tuliskan pertanyaan yang ingin diajukan ke dokter agar tidak terlupa saat konsultasi.

7. Rencanakan waktu setelah imunisasi

Sisakan waktu untuk menunggu sekitar 30 menit di lokasi dan hindari agenda padat setelahnya, supaya Moms bisa memantau kondisi Si Kecil dengan tenang.

Baca juga:Vaksinasi dan Imunisasi, Ini Bedanya, Moms

Puskesmas atau rumah sakit?

Pertanyaan ini sering bikin Moms bingung, padahal keduanya sama-sama pilihan yang baik, dan menurut dokter spesialis anak dari sisi kualitas vaksin tidak ada perbedaan yang berarti. Perbedaannya lebih terletak pada biaya, kelengkapan pilihan, dan cara pelayanannya.



Beberapa rumah sakit dan klinik juga bekerja sama dengan program pemerintah, sehingga sebagian vaksin tetap bisa diperoleh gratis sementara vaksin lainnya dipilih berbayar, tapi kebijakan ini berbeda di tiap fasilitas, jadi tanyakan langsung sebelum datang. Apapun pilihan Moms, yang terpenting adalah Si Kecil mendapat imunisasi tepat waktu dan tercatat lengkap di buku KIA.(MB/RA/RF/Foto: Magnific)