Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Moms, Anda mungkin pernah mengalami momen ini: Anak baru mencoba satu-dua kali, lalu langsung menyerah sambil berkata, "Kayaknya aku enggak bisa ngerjain ini, deh!" Rasanya ingin membantu seketika, tetapi di sisi lain, Moms juga ingin anak belajar bertahan menghadapi kesulitan.
Tenang, Moms, Anda tidak sendirian. Hampir semua orang tua pernah merasakan kekhawatiran yang sama saat melihat anak mudah menyerah saat belajar. Kabar baiknya, daya juang anak bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dilatih sejak dini. Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini!
Kenapa anak mudah menyerah saat belajar?
Ada banyak alasan di balik sikap mudah menyerah pada anak, dan sebagian besar sebenarnya sangat manusiawi. Berikut ini beberapa penyebab yang paling umum ditemui:
- Takut salah atau malu. Anak yang terlalu khawatir dinilai akan memilih berhenti daripada mencoba dan gagal di depan orang lain.
- Tugas terasa terlalu sulit atau terlalu besar. Saat anak tidak tahu harus mulai dari mana, otak kecilnya cenderung merespons dengan menyerah lebih dulu.
- Perfeksionisme. Anak yang menuntut dirinya sempurna sejak percobaan pertama akan mudah frustrasi saat hasilnya tidak sesuai harapan.
- Terbiasa dibantu atau "diselamatkan". Jika orang tua selalu turun tangan saat anak kesulitan, ia kehilangan kesempatan untuk melatih ketahanan diri.
- Pujian yang hanya berfokus pada hasil atau kecerdasan. Ini justru bisa membuat anak takut mencoba hal baru karena takut kehilangan label "pintar".
- Lelah atau kurang tidur. Kondisi fisik yang tidak prima membuat anak lebih cepat kehilangan kesabaran.
- Gaya belajar yang tidak cocok. Metode belajar yang tidak sesuai dengan cara anak menyerap informasi bisa membuat proses belajar terasa jauh lebih berat dari seharusnya.
Mengenali akar masalahnya adalah langkah pertama sebelum Moms mencari cara mengajarkan anak agar tidak mudah menyerah yang tepat sasaran.
Baca juga: Kumpulan Bacaan Doa agar Anak Rajin Belajar dan Artinya
Mengenal grit dan growth mindset pada anak
Dua konsep yang sering dibahas dalam dunia psikologi anak adalah grit dan growth mindset. Keduanya saling berkaitan erat dengan kemampuan anak bertahan menghadapi tantangan belajar.
Grit, istilah yang dipopulerkan oleh psikolog Angela Duckworth, merujuk pada ketekunan dan semangat (passion) untuk mengejar tujuan jangka panjang. Sementara itu, growth mindset—konsep dari Carol Dweck—adalah keyakinan bahwa kemampuan seseorang bisa berkembang lewat usaha dan strategi, bukan sesuatu yang sudah "ditentukan dari lahir".
Menurut tinjauan dalam jurnal yang dipublikasikan di PubMed Central (PMC), perbedaan individu dalam tingkat grit dan growth mindset dapat memprediksi seberapa besar usaha dan pencapaian seorang anak ketika menghadapi tantangan. Artinya, semakin anak percaya bahwa kemampuannya bisa berkembang, semakin besar pula kemungkinannya untuk terus mencoba meski menghadapi kegagalan.
Kabar baiknya, grit dan growth mindset bukan sifat tetap. Keduanya bisa dipupuk lewat cara orang tua merespons usaha anak, termasuk melalui pujian yang diberikan sehari-hari—yang akan kita bahas lebih lanjut di bagian berikutnya.
Baca juga: Begini Cara Melatih Fokus Anak 5 Tahun agar Lebih Siap Belajar
Mudah menyerah biasa atau tanda masalah konsentrasi dan belajar?
Pertanyaan ini sering muncul di benak orang tua: Apakah anak saya hanya sedang melalui fase, atau ada hal lain yang perlu diperhatikan?
Menurut Mayo Clinic, gejala yang mengarah pada kondisi seperti ADHD biasanya terlihat di dua setting atau lebih—misalnya di rumah dan di sekolah sekaligus—serta cukup mengganggu perkembangan dan aktivitas sehari-hari anak. Jadi, jika anak hanya mudah menyerah pada satu jenis tugas tertentu, kemungkinan besar ini adalah hal yang wajar dalam proses belajar.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), beberapa ciri-ciri anak kurang konsentrasi yang perlu Moms perhatikan, antara lain:
- Sering melamun di tengah aktivitas
- Sering lupa atau kehilangan barang
- Tampak gelisah atau banyak bergerak
- Berbicara berlebihan
- Sering membuat kesalahan ceroboh pada tugas.
Penting untuk diingat, sebagian anak memang secara alami kadang kesulitan mempertahankan perhatian atau menyelesaikan tugas yang berkelanjutan—ini belum tentu menandakan masalah serius.
Namun, jika ciri-ciri di atas konsisten muncul baik di rumah maupun di sekolah dan mulai mengganggu keseharian Si Kecil, ada baiknya Moms berkonsultasikan dengan dokter anak atau psikolog anak.
Cara melatih anak agar tidak mudah menyerah saat belajar
Setelah memahami penyebabnya, sekarang saatnya membahas cara mengajarkan anak agar tidak mudah menyerah lewat langkah-langkah praktis berikut.
- Pecah tugas menjadi langkah-langkah kecil. Anak yang merasa kewalahan akan lebih mudah menyerah. Dengan memecah tugas besar menjadi bagian-bagian kecil, anak bisa merasakan kemajuan nyata di setiap tahap.
- Normalkan kegagalan sebagai bagian dari belajar. Ceritakan pada anak bahwa kegagalan adalah hal biasa, bahkan dialami oleh orang dewasa sekalipun. Ini membantu anak untuk tidak terlalu takut mencoba.
- Ajarkan kata "belum bisa". Mengganti kalimat "aku tidak bisa" dengan "aku belum bisa" adalah cara sederhana tetapi ampuh untuk menanamkan growth mindset sejak dini.
- Beri bantuan secara bertahap (scaffolding). Alih-alih langsung mengambil alih tugas anak, berikan petunjuk kecil yang memancing anak menemukan solusinya sendiri.
- Sisipkan jeda belajar singkat. Otak anak butuh waktu istirahat untuk tetap fokus. Jeda singkat di antara sesi belajar bisa mencegah rasa frustrasi menumpuk.
- Bangun rutinitas belajar yang konsisten. Rutinitas memberi rasa aman dan membantu anak tahu apa yang diharapkan darinya setiap hari.
- Jadilah teladan daya juang. Anak belajar banyak dari cara orang tua menghadapi tantangan. Tunjukkan bagaimana Moms tetap tenang dan terus mencoba saat menghadapi kesulitan.
- Rayakan proses, bukan hanya hasil akhir. Fokus pada usaha yang sudah ditunjukkan anak, bukan sekadar nilai atau hasil akhirnya.
Melatih anak pantang menyerah memang butuh kesabaran, tetapi konsistensi kecil yang dilakukan setiap hari akan membawa perubahan besar dalam jangka panjang.
Contoh kalimat pujian yang membangun daya juang anak
Cara Moms memuji anak ternyata punya dampak besar pada cara anak merespons kegagalan di masa depan. Penelitian menemukan bahwa anak yang dipuji karena kecerdasannya justru menunjukkan motivasi dan performa yang lebih buruk setelah mengalami kegagalan, dibandingkan anak yang dipuji atas usahanya.
Jadi, pilihlah kalimat pujian berikut daripada "Kamu memang pintar":
- "Mama bangga lihat kamu terus mencoba meski tadi sempat sulit."
- "Kamu sudah menemukan cara baru untuk menyelesaikannya, keren!"
- "Mama lihat kamu enggak menyerah tadi, itu usaha yang luar biasa."
- "Coba ceritakan, bagian mana yang paling menantang tadi?"
- "Kamu belum berhasil kali ini, tapi lihat betapa banyak yang sudah kamu pelajari."
Pilih pujian proses jika Moms ingin anak berani mencoba hal baru tanpa takut gagal. Sebaliknya, hindari pujian yang hanya menyoroti hasil akhir atau label "pintar", karena justru bisa membuat anak enggan mengambil risiko di kemudian hari.
Membentuk anak yang tidak mudah menyerah bukan proses instan, Moms. Ini soal konsistensi kecil yang dilakukan setiap hari: memberi pujian yang tepat, membiarkan anak mencoba dan gagal, serta menjadi teladan daya juang itu sendiri.
Mulailah dari satu kebiasaan sederhana hari ini—misalnya mengganti satu kalimat pujian, atau memecah satu tugas jadi langkah kecil. Perlahan, Moms akan melihat anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri menghadapi tantangan belajarnya. (MB/SW/RF/Foto: Magnific)