Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Setiap orang tua pasti pernah kehilangan kesabaran. Suara meninggi, kata-kata keras terlontar, lalu rasa menyesal datang setelahnya. Jika ini terasa familier, Anda tidak sendirian. Kabar baiknya, hubungan dengan anak masih bisa diperbaiki.
Memarahi anak sesekali adalah bagian wajar dari mengasuh anak. Namun, ketika kemarahan menjadi pola yang berulang, dampaknya pada kesehatan mental anak bisa jauh lebih dalam dari yang terlihat. Anak mungkin tampak baik-baik saja di permukaan, padahal di dalam dirinya tersimpan rasa takut, rendah diri, atau bahkan kemarahan yang terpendam.
Dampak anak sering dimarahi pada kesehatan mentalnya
Menurut Alodokter, anak yang sering dimarahi berisiko mengalami 5 dampak utama, yakni:
- Anak menjadi penakut dan kehilangan rasa percaya diri. Ia cenderung diam karena merasa terancam dan selalu merasa salah.
- Kemarahan yang berulang bisa mengganggu perkembangan otak anak, terutama pada bagian yang memproses suara dan bahasa.
- Anak berisiko mengalami depresi dan gangguan mental lain. Ia bisa merasa tidak berharga, sedih, dan terluka, lalu menjadi patuh bukan karena menghargai orang tua, melainkan karena takut.
- Anak yang sering menyaksikan kemarahan cenderung meniru pola tersebut dan menganggapnya sebagai cara normal merespons masalah, sehingga ia tumbuh menjadi pribadi yang lebih mudah marah atau agresif.
- Anak bisa menjadi sulit bergaul karena menghindari pertemanan akibat takut dicela.
Dampak ini bisa bersifat jangka pendek maupun jangka panjang, memengaruhi proses belajar, interaksi sosial, dan kemampuan anak mengelola emosinya sendiri. Harga diri yang rendah, kecemasan berlebihan saat berbuat salah, hingga kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial adalah beberapa bentuk nyatanya.
Temuan ini juga didukung studi di jurnal Child Development, yang menemukan bahwa disiplin verbal yang keras (harsh verbal discipline) dari ibu maupun ayah terhadap anak usia 13 tahun berkaitan dengan peningkatan masalah perilaku dan gejala depresi pada remaja di periode berikutnya. Artinya, cara orang tua berbicara saat marah punya efek yang terukur pada kesehatan mental anak, bukan sekadar perasaan sesaat.
Baca juga: 5 Cara Menghadapi Kenakalan Anak Tanpa Harus Memarahinya
Tanda anak mengalami luka emosional akibat sering dimarahi
Tidak semua anak menunjukkan luka emosionalnya secara terbuka. Berdasarkan dampak-dampak yang telah dijelaskan di atas, berikut ini beberapa indikator umum yang bisa menjadi perhatian.
- Mudah takut berbuat salah. Anak tampak ragu mencoba hal baru karena khawatir dimarahi lagi.
- Rendah diri. Ia sering merasa tidak cukup baik atau tidak berharga.
- Menarik diri dari lingkungan sosial. Anak menghindari teman sebaya atau kegiatan kelompok karena takut dinilai atau dicela.
- Menjadi pemarah atau agresif. Ia meniru pola kemarahan yang sering dilihat di rumah.
- Patuh karena takut, bukan karena paham. Anak menurut hanya untuk menghindari omelan, bukan karena mengerti alasan di baliknya.
- Sering diam atau cemas berlebihan. Ia lebih memilih diam saat menghadapi masalah daripada bercerita kepada orang tua.
Baca juga: 6 Tips Mengatasi Anak yang Bersikap Kasar saat Marah
Cara memperbaiki mental anak yang sering dimarahi
Memulihkan kondisi mental anak membutuhkan proses, bukan solusi instan. Beberapa langkah berikut ini bisa Anda terapkan secara bertahap.
1. Akui kesalahan dan minta maaf
Langkah pertama dan terpenting adalah mengakui bahwa cara memarahi yang berlebihan itu salah, lalu meminta maaf dengan tulus kepada anak. Pengakuan ini mengajarkan anak bahwa orang dewasa pun bisa khilaf, dan itu bukan hal yang memalukan untuk diperbaiki.
2. Berikan kasih sayang secara konsisten
Peluk, cium, dan beri pujian atas pencapaian anak, sekecil apa pun itu. Kasih sayang yang konsisten membantu anak merasa dicintai kembali, bukan hanya dimaafkan.
3. Dengarkan anak tanpa menghakimi
Beri ruang bagi anak untuk bercerita tentang perasaannya. Validasi perasaan tersebut, bukan membantahnya. Kalimat seperti "Mama paham kamu sedih waktu itu" lebih menenangkan daripada "Kamu enggak perlu sedih."
4. Ajarkan cara mengelola emosi
Tunjukkan contoh nyata bagaimana mengatasi rasa kesal, misalnya dengan menarik napas dalam-dalam atau mengambil jeda sebelum bereaksi. Orang tua juga disarankan melakukan hal yang sama saat emosi memuncak: tarik napas, ingat bahwa kesalahan anak adalah bagian dari proses belajar, dan alihkan sejenak dengan aktivitas menyenangkan sebelum berbicara.
5. Ciptakan lingkungan yang aman
Hindari pertengkaran atau kekerasan verbal di depan anak. Sampaikan aturan rumah dengan tenang tetapi tegas, dan imbangi konsekuensi atas kesalahan dengan pujian untuk perilaku baik.
6. Bersabar dengan prosesnya
Pemulihan mental anak butuh waktu, dan setiap anak unik dalam caranya merespons. Jangan berkecil hati jika perubahan tidak terjadi dalam semalam.
Contoh kalimat meminta maaf kepada anak sesuai usianya
Cara meminta maaf kepada anak sebaiknya disesuaikan dengan tahap usia agar pesan tersampaikan dengan tepat. Berikut ini beberapa contoh praktis yang bisa Anda sesuaikan dengan gaya bicara keluarga.
Untuk balita (1-4 tahun):
"Maaf ya, Nak, tadi Mama bicara keras sekali. Mama sayang kamu."
Untuk anak usia sekolah (5-12 tahun):
"Mama minta maaf tadi marah terlalu keras. Mama seharusnya bicara dengan lebih tenang. Kamu enggak salah karena membuat Mama kesal, itu salah Mama yang belum bisa mengontrol emosi. Mama sayang kamu."
Untuk remaja (13 tahun ke atas):
"Papa sadar tadi ngomongnya kasar banget dan itu enggak adil buat kamu. Papa minta maaf. Kalau kamu mau cerita apa yang sebenarnya terjadi, Papa siap dengerin tanpa marah lagi."
Kalimat-kalimat ini hanyalah contoh awal — yang terpenting adalah ketulusan di baliknya dan konsistensi tindakan setelahnya untuk membangun kembali kepercayaan anak.
Kapan anak perlu dibawa ke psikolog?
Tidak semua kondisi bisa diselesaikan sendiri di rumah, dan itu wajar. Segera pertimbangkan konsultasi dengan psikolog anak jika Anda melihat tanda-tanda berikut:
- Perubahan perilaku yang drastis dan bertahan lama
- Anak menyakiti diri sendiri
- Menolak pergi ke sekolah tanpa alasan jelas
- Gangguan tidur atau pola makan yang berkepanjangan
- Anak semakin menarik diri meski sudah diberi waktu dan kasih sayang.
Psikolog anak dapat membantu mengidentifikasi akar masalah secara lebih mendalam dan memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Mencari bantuan profesional bukan tanda kegagalan sebagai orang tua. Ini justru langkah berani untuk memastikan anak mendapat dukungan terbaik.
Memperbaiki mental anak yang sering dimarahi bukan proses yang selesai dalam semalam, tetapi setiap langkah kecil—permintaan maaf yang tulus, pelukan hangat, atau percakapan tanpa menghakimi—berarti besar bagi anak. Anda tidak perlu menjadi orang tua yang sempurna, cukup menjadi orang tua yang mau terus belajar dan memperbaiki diri bersama anak. (MB/SW/RF/Foto: Magnific)