FAMILY & LIFESTYLE

Begini Cara Mengajari Anak Belajar Tanpa Emosi agar Tidak Drama


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Moms, pernahkah Anda merasa suara Anda meninggi hanya karena anak tak kunjung paham soal matematika yang sudah dijelaskan berkali-kali? Tenang, Moms, banyak orang tua mengalami momen serupa, dan itu bukan berarti Anda gagal mendidik anak. Cara mengajari anak belajar tanpa emosi sering kali lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Menariknya, riset justru menunjukkan bahwa proses emosional dan kognitif orang tua sangat memengaruhi bagaimana mereka berinteraksi dengan anak saat mengerjakan PR. Artinya, emosi Anda saat mendampingi anak belajar bukan sekadar perasaan sesaat, tetapi faktor yang ikut membentuk suasana belajar di rumah.

Kabar baiknya, cara mengajari anak belajar tanpa emosi sebenarnya bisa dipelajari dan dilatih. Yuk, kita bahas satu per satu, mulai dari akar masalahnya hingga kalimat-kalimat yang sebaiknya Moms ucapkan saat anak mengalami kesulitan.

Kenapa orang tua mudah emosi saat mendampingi anak belajar?

Rasa frustrasi saat mendampingi anak belajar sebenarnya wajar terjadi, apalagi di tengah jadwal keluarga yang padat. Sebuah studi di Nature Humanities and Social Sciences Communications meneliti keterkaitan antara jadwal kerja keluarga, stres orang tua, dan bantuan PR terhadap hasil belajar anak. Temuan ini menegaskan bahwa tekanan dari luar rumah, seperti pekerjaan dan waktu yang terbatas, ikut memengaruhi kesabaran orang tua saat mendampingi anak belajar.

Selain faktor eksternal, ada juga faktor dari dalam diri. Saat anak tidak kunjung memahami materi, orang tua sering merasa usahanya sia-sia atau bahkan merasa gagal sebagai pendidik di rumah. Perasaan ini wajar muncul, tetapi jika dibiarkan tanpa disadari, ia bisa berubah menjadi nada bicara yang tinggi atau kalimat yang menyakiti anak.

Penting untuk Moms ingat: Belajar mengelola emosi bukan berarti menekan atau menyembunyikan perasaan. Kelelahan dan kekhawatiran tetap boleh dirasakan. Yang perlu dilatih adalah bagaimana merespons situasi tersebut dengan cara yang tidak melukai hubungan dengan anak.

Baca juga: Anak Mudah Menyerah saat Belajar? Ini Penyebab dan Solusinya

Siapkan diri dulu: teknik menenangkan emosi sebelum sesi belajar

Sebelum membahas strategi belajar bersama anak, Moms perlu menyiapkan diri sendiri lebih dulu. Riset menunjukkan bahwa keterlibatan aktif orang tua, dengan pengawasan dan dukungan yang moderat, justru dapat menurunkan stres dan kecemasan anak terkait PR. Artinya, ketenangan Moms menjadi fondasi penting sebelum sesi belajar dimulai.

Beberapa teknik sederhana yang bisa dicoba:

  • Tarik napas dalam selama beberapa detik sebelum memulai sesi belajar, terutama jika Anda baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah tangga atau kantor.
  • Beri jeda singkat jika Anda merasa mulai kesal di tengah sesi. Mengatakan, "Mama mau minum air dulu sebentar, ya," jauh lebih baik daripada melanjutkan sesi dengan nada tinggi.
  • Tetapkan ekspektasi realistis sebelum mulai, misalnya menerima bahwa anak mungkin butuh waktu lebih lama untuk memahami satu konsep.
  • Kenali tanda-tanda awal emosi memuncak, seperti rahang mengatup atau suara mulai meninggi, sebagai sinyal untuk berhenti sejenak.

Teknik-teknik ini sederhana, tetapi jika konsisten dilatih akan membuat Moms lebih siap menghadapi momen-momen menantang selama anak belajar.

Cara mengajari anak belajar tanpa emosi: strategi sesi singkat dan pilihan

Setelah kondisi emosi Anda lebih stabil, langkah berikutnya adalah menata cara belajar itu sendiri. Dua strategi praktis yang bisa langsung diterapkan adalah sesi belajar singkat dan pemberian pilihan kepada anak.

Gunakan sesi belajar singkat, sekitar 10-20 menit. Anak-anak, terutama yang masih kecil, memiliki rentang fokus yang terbatas. Daripada memaksakan satu sesi panjang hingga anak lelah dan Moms ikut frustrasi, cobalah membagi waktu belajar menjadi beberapa sesi singkat dengan jeda istirahat di antaranya.

Berikan anak pilihan dalam proses belajar. Misalnya, "Mau mengerjakan soal Matematika dulu atau Bahasa Indonesia dulu?" atau "Mau belajar sambil duduk di meja atau di karpet?" Pilihan sederhana seperti ini membuat anak merasa punya kendali atas proses belajarnya, sehingga potensi penolakan atau drama bisa berkurang.

Kombinasi dua strategi ini sejalan dengan cara agar anak mau belajar tanpa drama, karena anak tidak merasa dipaksa, dan orang tua pun tidak perlu "berperang" setiap sesi belajar.

Baca juga: Begini Cara Melatih Fokus Anak 5 Tahun agar Lebih Siap Belajar

Kalimat yang sebaiknya diucapkan vs dihindari saat anak kesulitan

Pilihan kata saat anak kesulitan memahami materi sangat memengaruhi motivasinya. Penelitian dalam studi di Educational Psychology menemukan bahwa pujian atas kecerdasan ("Kamu memang pintar") memiliki konsekuensi lebih negatif terhadap motivasi anak dibandingkan pujian atas usaha ("Kamu sudah berusaha keras"). Anak yang terbiasa dipuji karena kecerdasannya cenderung lebih takut gagal, sementara anak yang dipuji karena usahanya cenderung lebih berani mencoba tantangan baru.

Berikut ini perbandingan kalimat yang bisa Moms jadikan panduan:

Saat anak salah menjawab soal

  • Sebaiknya dihindari: "Masa begini aja enggak bisa?"
  • Sebaiknya diucapkan: "Coba kita lihat lagi bagian ini bersama, ya."

Saat anak tampak frustrasi

  • Sebaiknya dihindari: "Jangan cengeng, ayo lanjut!"
  • Sebaiknya diucapkan: "Mama lihat kamu lagi kesulitan. Mau istirahat sebentar dulu?"

Saat anak berhasil mengerjakan sesuatu:

  • Sebaiknya dihindari: "Kamu memang anak pintar."
  • Sebaiknya diucapkan: "Kamu sudah berusaha keras tadi, bagus sekali."

Saat anak menolak belajar

  • Sebaiknya dihindari: "Kalau enggak mau belajar, nanti nilainya jelek!"
  • Sebaiknya diucapkan: "Mau mulai dari pelajaran yang mana dulu hari ini?"

Dengan membiasakan kalimat yang mendukung usaha, bukan menghakimi hasil, Moms sedang membangun fondasi cara mendidik anak tanpa emosi yang berkelanjutan.

Menyesuaikan cara belajar dengan gaya belajar dan usia anak

Setiap anak punya cara menyerap informasi yang berbeda. Secara umum, ada tiga gaya belajar yang sering dibahas, yaitu visual (melalui gambar dan warna), auditori (melalui suara dan penjelasan lisan), dan kinestetik (melalui gerakan dan praktik langsung). Untuk itu, Moms bisa memperlakukannya sebagai variasi pendekatan untuk membuat sesi belajar lebih menarik.

Selain gaya belajar, usia anak juga memengaruhi pendekatan yang tepat:

  • Usia prasekolah: Fokuskan pada belajar sambil bermain, seperti mengenal huruf lewat lagu atau menghitung menggunakan mainan favorit.
  • SD awal: Gunakan sesi singkat dengan instruksi sederhana, serta berikan banyak pujian atas usaha untuk membangun rasa percaya diri.
  • SD akhir atau SMP: Ajak anak menyusun jadwal belajarnya sendiri dan mulai beri tanggung jawab lebih besar atas prosesnya, sambil tetap mendampingi tanpa mengambil alih sepenuhnya.

Menyesuaikan pendekatan dengan usia dan karakter anak akan membuat cara mendampingi anak belajar tanpa emosi terasa lebih alami, karena metode yang digunakan memang sesuai dengan kebutuhan anak pada tahap perkembangannya.

Mengelola emosi saat mendampingi anak belajar bukan proses instan. Akan ada hari-hari di mana Moms tetap merasa lelah atau kesal, dan itu manusiawi. Yang penting adalah terus melatih diri menyiapkan ketenangan sebelum sesi belajar, memilih kalimat yang membangun, dan menyesuaikan cara belajar dengan kebutuhan anak.

Cobalah mulai dari satu langkah kecil dulu, misalnya menerapkan sesi belajar 15 menit dengan jeda istirahat di tengahnya atau mengganti satu kalimat yang biasa Moms ucapkan dengan alternatif yang lebih mendukung. Perubahan kecil yang konsisten ini, lama-lama, akan membentuk suasana belajar yang lebih hangat untuk Moms dan Si Kecil. (MB/SW/RF/Foto: Magnific)