Type Keyword(s) to Search
FAMILY & LIFESTYLE

Ini Kebiasaan Orang Tua yang bisa Mengganggu Mental Anak

Ini Kebiasaan Orang Tua yang bisa Mengganggu Mental Anak

Sebagai orang tua, Anda tentunya menginginkan Si Kecil menjadi sosok yang baik dan membanggakan. Namun, tahukah Anda? Terkadang sifat baik pada anak justru "dirusak" oleh sikap serta kebiasaan orang tua.

Pola asuh orang tua menjadi salah satu faktor utama yang membentuk mental dan karakter anak. Akan tetapi, terkadang tanpa disadari, Moms dan Dads melakukan hal-hal yang berakibat negatif pada Si Kecil. Kebiasaan apa sajakah yang dimaksud? Berikut penjelasannya.

1. Tidak mau mengerti perasaan anak

Seperti halnya orang dewasa, Si Kecil juga memiliki perasaan. Dan tentunya, ia juga berharap Anda bisa mengerti perasaannya. Sebagai orang tua, Moms dan Dads perlu memberikan kesempatan buat anak untuk menunjukkan perasaan dan emosinya. Namun, tentunya Anda juga harus memberikan pengarahan bagaimana cara mengungkapkan perasaan tersebut.

Misalnya, Si Kecil kesal karena tidak menyukai menu makanan yang Anda berikan. Alih-alih memaksanya untuk tetap makan tanpa memedulikan protesnya, Anda bisa bertanya apa menu kesukaannya? Anda juga bisa berkata kepadanya, "Besok kita masak menu kesukaanmu, ya. Tapi, hari ini makan makanan yang sudah Mama sediakan.".

Moms juga disarankan untuk tidak mengucapkan kalimat-kalimat seperti "Sudah, jangan sedih" atau "Lupakan saja masalah itu". Kata-kata semacam ini hanya akan membuat Si Kecil merasa Anda menyepelekan perasaannya. Selain menyakiti perasaannya, hal itu juga akan membuat anak merasa diabaikan atau dianggap tidak penting.

2. Selalu menjadi penyelamat

Sah-sah saja jika Moms memberi bantuan kepada anak yang tengah menghadapi kesulitan. Namun, dengan catatan: tidak setiap saat! Anda harus bisa memilah kapan Si Kecil benar-benar perlu dibantu dan kapan Anda harus membiarkannya menyelesaikan tantangan itu seorang diri. Misalnya, Si Kecil kesulitan mengerjakan PR matematikanya, Anda bisa mengajarkannya cara berhitung, tapi tidak langsung memberikan jawabannya.

Apabila Moms selalu memberikan solusi cepat kepada anak, maka ia akan menjadi sosok yang sangat bergantung kepada orang tuanya. Biarkan anak menyelesaikan masalahnya sendiri. Dengan begitu, ia akan menjadi sosok yang mandiri serta percaya diri.

3. Terlalu memanjakan

Tidak ada salahnya jika Moms sesekali membelikan mainan kepada Si Kecil. Namun, bukan berarti Anda harus selalu memberikan semua keinginan anak. Ajarkan kepada anak bahwa ia tidak selalu bisa mendapatkan semua yang diinginkannya. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang selalu mendapatkan keinginannya akan kehilangan keterampilan yang berkaitan dengan kekuatan mental, seperti disiplin diri.

Oleh sebab itu, Moms perlu mengajarkan kepada anak untuk belajar mengontrol diri dengan memberikan peraturan yang jelas ketika ia menginginkan sesuatu. Selain itu, Anda juga bisa menerapkan sistem reward kepada anak untuk bisa mendapatkan barang yang diinginkan. Misalnya, Anda akan memberikan kue kesukaannya apabila anak mau membereskan mainannya sendiri. Dengan begitu anak akan menyadari bahwa ia perlu berusaha untuk bisa menghasilkan sesuatu.

4. Mengharapkan kesempurnaan

Tidak ada seorang pun yang sempurna, termasuk anak. Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Jadi, Moms tidak perlu mematok target tinggi di semua hal yang berkaitan dengan kehidupan dan prestasi Si Kecil.

Ketika Anda memaksa anak untuk menjadi yang terbaik dalam segala hal, kondisi itu bisa menjadi beban baginya. Bukan tak mungkin anak akan merasa tertekan hingga menimbulkan stres. Pada akhirnya, standar yang terlalu tinggi akan memengaruhi mental dan kepercayaan dirinya kelak setelah dewasa.

Yang perlu Moms lakukan bukanlah memaksa anak untuk selalu bisa mencapai target yang Anda tetapkan, melainkan menguatkan mentalnya agar ia bisa memberikan usaha yang terbaik.

Saat Si Kecil gagal, pastikan Anda tetap memberikan dukungan agar ia tidak kehilangan kepercayaan diri. Tak ada salahnya jika Moms juga memberi kesempatan untuk mengeksplorasi bakat dan keinginannya sehingga ia menjadi yang terbaik di bidang tersebut.

5. Memastikan anak merasa nyaman

Tentunya Anda menginginkan anak selalu merasa bahagia. Namun, bukan berarti Anda langsung bertindak ketika Si Kecil merasa tidak nyaman dengan lingkungan sekitarnya. Misalnya, Si Kecil tidak menyukai sekolah barunya, Anda tak perlu langsung memindahkannya ke sekolah lain, melainkan menemaninya dan secara perlahan mengajak ia lebih mengenal lingkungan barunya tersebut. Bantu anak untuk memulai hal-hal baru sehingga ia bisa menyadari bahwa kondisi itu tidak sesulit yang ia bayangkan.

6. Tidak menentukan batas

Mencurahkan kasih sayang kepada anak memang sudah menjadi naluri orang tua. Namun, Anda juga harus memastikan anak mengetahui siapa yang menjadi pengambil keputusan utama di rumah. Si Kecil boleh mengungkapkan pendapat dan perasaannya dengan batasan tertentu. Pastikan ia juga mengikuti peraturan yang berlaku di rumah. Dengan begitu, ia bisa menjadi anak yang memiliki disiplin serta perilaku yang baik. (M&B/Wieta Rachmatia/SW/Foto: Freepik)