Type Keyword(s) to Search
TODDLER

Balita Suka Memukul, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Balita Suka Memukul, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Menyaksikan Si Kecil memukul saudaranya atau kawannya mungkin membuat Anda mempertanyakan kemampuan parenting Anda. Anda merasa tidak pernah mengajarkannya untuk memukul, entah bagaimana Si Kecil dapat dengan entengnya memukul orang lain.

Tetapi tenang, Moms, karena sebenarnya semua anak akan melalui fase ini. Deborah Glasser Schenck, Ph. D., direktur Family Support Services di Nova Southeastern University, sering menyebut masa balita sebagai "fase memukul" karena perilaku ini umum muncul pada anak kecil, terutama yang berumur 1-2 tahun. Yang perlu Anda lakukan adalah memahami penyebabnya dan cara mengatasinya.

Bukan nakal, Ini alasan balita suka memukul

Melansir Parents, ada beberapa alasan yang bisa menyebabkan Si Kecil gemar memukul, antara lain:

1. Sedang berkomunikasi. Sebagai manusia kecil yang masih dalam tahap belajar, ia belum menguasai bahasa dengan fasih, padahal ia perlu meluapkan berbagai emosi yang ia rasakan. Maka dari itu, Si Kecil akan lebih suka menggunakan tubuhnya sebagai media komunikasi.

2. Melindungi diri. Bila Moms sadari, Si Kecil dapat menjadi lebih agresif saat playdate. Lalu, apa alasannya? Ia dikerumuni oleh anak-anak yang merebut mainannya, berteriak-teriak kepadanya, bermain dengan kasar, atau sekadar menginvasi jarak nyaman Si Kecil.

3. Mengalami hari yang buruk. Bila Si Kecil baru saja mengalami hari yang tidak menyenangkan, maka ia dapat dengan mudah memukul Anda atau orang-orang di sekitarnya. Alasannya, ia belum memiliki kemampuan untuk meredam amarah. Anak yang kalem pun akan memukul bila stres atau terlalu lelah.

4. Meniru orang lain. Bila Anda merasa tidak mengajarkan kekerasan di dalam keluarga, maka bisa jadi Si Kecil memukul karena melihat dan meniru orang lain. Tayangan di televisi, pertikaian di tengah jalan, atau melihat teman-temannya memukul satu sama lain dapat memicu keinginan Si Kecil untuk mencoba mempraktikkannya.

5. Temperamental secara alami. Ada beberapa anak yang terlahir tenang, tapi ada pula anak yang lahir dengan emosi yang meluap-luap. Maka dari itu, dengan segala kendala bahasa yang dipunya, ia lebih sering mengekspresikannya dengan memukul. Hal ini tidak berarti Si Kecil nakal, hanya saja ia butuh belajar untuk mengontrol emosi dengan baik sedini mungkin.

6. Mencoba hal baru. Masa balita adalah masa yang penuh dengan eksplorasi. Di momen-momen ini Si Kecil sedang senang untuk menguji reaksi sebab-akibat pada hal-hal di sekitarnya. "Bila aku melakukan ini, apa ya, yang akan terjadi?" Maka, mungkin tak hanya memukul, Si Kecil juga dapat menyebabkan banyak "kekacauan" lainnya selama rentang usia ini.

7. Butuh ruang privasi. Balita belum memiliki kemampuan spasial yang mumpuni. Maka dari itu, bila ia merasa terpojok atau merasa terlalu dekat dengan anak-anak lain, ia bisa saja memukul anak lain. Hal ini terjadi sebagai tindakan refleksnya.

Cara mudah mengatasi masalah balita suka memukul

Jangan bingung atau panik ketika mendapati Si Kecil mulai memukuli temannya. Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghadapi situasi seperti ini:

1. Kenali alasannya. Hal ini dapat sulit dilakukan karena keterbatasan kemampuan berkomunikasinya. Amati apa yang terjadi sebelum ia memukul dan apa yang ia pukul. Bila ia memukul segelas jus, coba tanya apa yang mau ia minum dan minta ia untuk mengatakannya daripada memukul gelas.

2. Cegah ia memukul. Kenali tanda-tanda ia akan memukul dengan memahami kondisi Si Kecil. Apakah ia berada di kerumunan? Apakah ia lapar? Apakah ia kelelahan? Pastikan ia makan dan tidur dengan cukup. Hal ini mencegah balita menjadi rewel dan memukuli orang-orang di sekitarnya.

3. Tenangkan dirinya. Jangan sampai Si Kecil melihat Anda berlaku panik ketika mendapatinya memukul benda atau temannya. Sebabnya, reaksi Anda yang berapi-api dapat menjadi sebuah insentif dan kesenangan tersendiri bagi Si Kecil. Alhasil, ia akan melakukannya lagi.

4. Tunjukkan empati. Si Kecil mungkin belum memahami perasaan yang ia alami, baik marah atau frustrasi. Maka dari itu, Anda bisa meresponsnya dengan mengidentifikasi perasaan yang mungkin ia rasakan. Di saat yang bersamaan, puji Si Kecil ketika ia berhasil menahan diri untuk tidak memukul.

5. Hubungkan aksinya dengan perasaan orang lain. Si Kecil memiliki pemahaman yang terbatas tentang dampak perilakunya pada orang lain. Maka, Moms bisa jelaskan dampak yang bisa orang lain rasakan bila ia memukulnya.

6. Ajari kemampuan menyelesaikan masalah. Latih Si Kecil untuk mengatasi situasi pelik dengan cara yang positif. Ajarkan ia untuk menggunakan kata-kata daripada memukul. Bila kata-kata tak berhasil, katakan bahwa ia bisa meminta orang dewasa untuk membantu menyelesaikan masalahnya.

7. Awasi konsumsi media. Penting untuk mengontrol apa pun yang balita tonton, bahkan kartun sekalipun. Pastikan tontonan Si Kecil aman dan layak dikonsumsi oleh anak-anak.

8. Beri contoh. Menghukum anak yang gemar memukul dengan memukul pantat bukanlah solusi dan contoh yang baik. Mawas dirilah, Moms. Jangan sampai selama ini Anda tak sadar bahwa Anda telah memberi teladan yang buruk pada anak. (M&B/Gabriela Agmassini/SW/Foto: Freepik)


Read Next

More Fromtoddler