Type Keyword(s) to Search
FAMILY & LIFESTYLE

Penuh Makna, Ini 10 Falsafah Jawa tentang Keluarga dan Artinya

Penuh Makna, Ini 10 Falsafah Jawa tentang Keluarga dan Artinya

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Setiap orang dapat memaknai arti kehadiran keluarga dan menjalaninya dengan cara berbeda-beda. Hal ini tentu didasarkan dari pengalaman dan interaksi di dalam keluarga. Selain itu, ada cara lain untuk mendalami makna dan kehidupan berkeluarga, salah satunya dengan memahami pepatah atau falsafah Jawa.

Falsafah Jawa termasuk yang sangat populer, banyak dikenal di masyarakat, dan masih sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Bahasanya singkat namun penuh makna. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ini beberapa falsafah Jawa kuno tentang keluarga beserta artinya. Silakan disimak, Moms!

Falsafah Jawa yang perlu Anda ketahui

1. "Kacang manut lanjaran"

Anak akan mengamati, meniru, serta mengikuti perilaku orang tuanya. Karena itu, orang tua harus selalu bersikap baik guna memberi contoh budi pekerti dan sopan santun pada anaknya.

2. "Mikul dhuwur, mendhem jero"

Falsafah Jawa ini memiliki arti anak perlu menjunjung tinggi kebaikan orang tua serta mengubur dalam-dalam keburukan orang tua.

3. "Mangan ora mangan sing penting ngumpul"

Meski merantau demi mencari kehidupan yang lebih baik penting, keluarga tidak boleh begitu saja dilupakan. Tetap ingatlah keluarga kita, karena keluarga adalah elemen penting dalam hidup kita dan merupakan tempat kita berasal.

Baca juga: 8 Ide Kegiatan Quality Time Bersama Keluarga di Rumah

4. "Anak polah, bapak kepradhah"

Anak perlu menjaga perilakunya, karena apa pun yang dilakukan anak akan menimbulkan dampak yang harus ditanggung oleh orang tuanya. Ini juga bisa menjadi peringatan bagi orang tua agar bertanggung jawab terhadap kehidupan anak-anaknya.

5. "Dumadining sira iku lantaran anane bapak biyung ira"

Secara harfiah, falsafah Jawa ini berarti "Adanya dirimu itu adalah melalui bapak-ibumu". Bila diartikan, dapat bermakna seorang anak perlu bersikap baik atau hormat pada orang tua, karena tanpa bapak dan ibunya, maka ia pun tidak akan ada.

6. "Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah"

Relasi antar anggota keluarga yang rukun dan damai akan membuat hidup terasa bahagia, aman, dan sejahtera. Tapi sebaliknya, jika selalu bertikai, maka keluarga bisa terpecah belah dan penuh masalah.

7. "Mbangun kromo ingkang satuhu, boten cekap bilih ngagem sepisan roso katresnan. Hananging butuh pirang pirang katresnan lumeber ning pasangan uripmu siji kui"

Falsafah ini kurang lebih memiliki arti bahwa membangun pernikahan yang kuat dan sukses tidaklah cukup dengan sekali jatuh cinta, tetapi butuh berkali-kali jatuh cinta pada pasangan Anda.

Baca juga: Ini Tanda-Tanda Suami Masih Sangat Mencintai Istrinya

8. "Witing tresna jalaran saka kulina, witing mulya jalaran wani rekasa"

Falsafah Jawa ini mempunyai makna bahwa cinta itu tumbuh karena kebiasaan dan kemakmuran timbul karena berani hidup bersusah dahulu.

9. "Emban cindhe, emban siladan"

Secara harfiah, falsafah ini berarti "menggendong dengan selendang, menggendong dengan rautan bambu". Ungkapan ini bisa dimaknai bahwa orang tua tidak boleh membeda-bedakan perhatian kepada anak.

Baca juga: Ini Cara Efektif Mengatasi Sibling Rivalry pada Anak

10. "Abot telak karo anak"

Mengartikan situasi di mana orang lebih mementingkan dirinya daripada anaknya sendiri. Hal ini tentu menjadi sebuah peringatan bagi setiap orang tua untuk dapat membagi prioritas antara anak dan kepentingan diri sendiri.

Nah, itulah beberapa pepatah jawa tentang kehidupan dan keluarga yang perlu Anda ketahui. Banyak pelajaran atau kebijaksanaan dari pepatah terdahulu yang bisa kita petik untuk menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan bersama keluarga tercinta. Semoga bermanfaat ya, Moms.  (M&B/Gabriela Agmassini/SW/Foto: Freepik)