Type Keyword(s) to Search

Menghadapi Body Shaming Setelah Melahirkan dan Punya Anak

Menghadapi Body Shaming Setelah Melahirkan dan Punya Anak

Dijawab oleh Reynitta Poerwito, Bach. Of Psych., M.Psi.

T: Dear Reynitta, Saya seorang ibu dengan anak berusia 1 tahun. Sejak melahirkan anak saya setahun lalu, saya mengalami kesulitan mengembalikan bentuk tubuh seperti sejak belum hamil. Saat tengah mengandung, berat badan saya memang melonjak drastis. Waktu itu saya pikir, toh, saya akan kurus kembali usai melahirkan. Nyatanya setelah melahirkan hingga kini, berat badan saya tidak banyak berubah.

Saya jadi seperti kehilangan kepercayaan diri. Apalagi, saya kerap mendengar celoteh atau candaan dari kerabat atau teman-teman yang merujuk ke arah body shaming, sehingga saya jadi merasa tidak nyaman dan malu dengan bentuk tubuh saya. Bagaimana belajar menerima perubahan bentuk tubuh saya setelah melahirkan dan punya anak?

J: Dear Ibu, sebelumnya saya turut prihatin dengan permasalahan yang Anda hadapi saat ini. Saya sungguh memahami bila Anda ingin sekali mengembalikan bentuk tubuh menjadi ideal setelah melahirkan, apalagi jika kita sering melihat di media sosial para wanita yang setelah melahirkan bisa mendapatkan bentuk tubuhnya kembali seperti sebelumnya.

Namun, pada kenyataannya bagi sebagian besar wanita yang baru menjadi ibu, proses menurunkan berat badan adalah hal yang sangat sulit. Apalagi kalau terdapat masalah yang signifikan seperti masalah perubahan hormon, perubahan mood pascamelahirkan atau kondisi lain yang membuat proses penurunan berat badan menjadi lebih menantang. Sehingga, banyak ibu yang menjadi lebih terbebani terutama bila menghadapi situasi seperti Anda (body shaming di lingkungan sekitar).

Oleh karena itu, penting sekali untuk bisa belajar menerima diri sendiri dan mencintai diri kita apa adanya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melihat kehamilan dan perubahan bentuk badan sebagai satu proses yang sangat normal dan alami, sehingga bagi para wanita yang pernah melahirkan sudah akan dipastikan bentuk tubuhnya berubah. Dengan demikian, Anda tidak merasa bahwa masalah ini hanya dimiliki oleh Anda, karena mayoritas ibu lainnya juga merasakan hal yang sama.

Kedua, self compassion atau kasih sayang terhadap diri sendiri merupakan komponen terpenting yang bisa membantu ibu untuk mencapai penerimaan diri. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mempraktikkan self sompassion adalah berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain, berolahraga untuk merasa lebih sehat bukan untuk lebih kurus, mendapatkan istirahat yang cukup, melakukan kegiatan yang Anda sukai dan membuat tenang, serta mengutamakan hal-hal positif yang dimiliki oleh diri Anda, misalnya, bagaimana pun bentuk badan saya saat ini, hal itu tidak akan mengubah fakta bahwa saya adalah ibu yang terbaik untuk anak saya.

Ketiga, fokus terhadap parenting daripada mengembalikan bentuk tubuh. Mengutamakan kebutuhan pengasuhan anak akan mengalihkan keinginan Anda untuk mendapatkan apa yang belum bisa terwujud saat ini. Apalagi saat ini anak Anda berusia 1 tahun, pastinya sedang dalam tahap perkembangan yang menggemaskan. Banyak-banyak bersyukur bahwa Anda diberikan kepercayaan untuk melahirkan dan mengasuh seorang anak walaupun banyak pengorbanan yang harus rela Anda lepaskan, tetapi menjadi seorang ibu, bagaimana pun bentuk tubuhnya, adalah sebuah hal yang sangat mulia.

Terakhir, treat yourself with kindness. Berbaik hatilah kepada diri Anda sendiri. Katakan hal-hal baik yang ingin Anda dengar setiap hari. Stop menilai bentuk tubuh Anda setiap kali Anda bercermin. Walau ada pikiran-pikiran yang membuat Anda merasa negatif, Anda sendiri yang dapat menentang perkataan tersebut dan mengubahnya menjadi sebuah pujian. Contohnya: "Ih, kok semakin hari semakin banyak lemaknya." Langsung bisa ditentang dengan kata-kata "Ya, enggak apa-apa karena ini adalah hal yang normal dan yang penting anakku dan diriku sehat juga happy. Aku enggak mau berat badan ideal tapi merasa tersiksa atau malah sakit."

Semoga bisa dipraktikkan di rumah ya. Penerimaan diri itu perlu latihan setiap hari karena self love dan self acceptance merupakan sebuah kebiasaan. Apabila Anda sudah terbiasa, self acceptance menjadi hal yang mudah untuk dilakukan.

(M&B/SW/Dok. Freepik)