Type Keyword(s) to Search

Mom of the Month: Prita Ghozie

Mom of the Month: Prita Ghozie

Menjalani karier di bidang finansial memang menjadi cita-cita dari Prita Hapsari Ghozie (41). Meski begitu, ia tak lupa membagi waktu untuk mengurus keluarga dan kedua anaknya, Muhammad Arzie Arrasyad (15) dan Nizieta Fatimah Azzahra (13), dengan segala prestasi yang bisa mereka raih secara akademis maupun non-akademis.

Sebagai seorang working mom, tantangan selama pandemi tentunya juga dirasakan oleh Prita Ghozie. Tak hanya mendampingi putra dan putrinya belajar secara daring, tetapi tuntutan pekerjaan juga tetap ia jalani dengan penuh ketekunan. Lalu, bagaimana Prita membagi perannya sebagai istri, ibu, serta perencana keuangan independen dengan baik? Simak wawancara eksklusif Mother & Beyond dengan Prita Ghozie yang menjadi Mom of the Month Oktober 2021 berikut ini.

Apa kesibukan Anda saat ini?

Pastinya menjalani tugas saya menjadi ibu dari 2 orang anak yang saat ini sekolah dengan metode online. Rasanya sangat menantang, ya. Selain itu, saya juga sebagai working mom, kesibukan utamanya adalah menjadi CEO sekaligus juga sebagai Principal Consultant di ZAP Finance, sebuah perusahaan konsultan perencanaan keuangan.

Selama setahun terakhir, saya juga lebih aktif menulis dan membuat konten-konten finansial dan juga gaya hidup, terutama untuk perempuan muda. Saat ini, ada 5 buku yang sudah terbit, yaitu Cantik, Gaya, dan Tetap KayaMake It Happen!MoneySmart ParentPension Ready, Pension Happy; dan Make It Happen, Now!.

Dan terakhir, jadwal perkuliahan mahasiswa saya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sudah dimulai untuk semester gasal. Sehingga, dua kali dalam seminggu saya pun mendedikasikan waktu untuk memberikan kuliah sebagai kewajiban dosen.

Mengapa Anda memilih berkarier sebagai financial planner?

Sejak kecil saya memang suka dengan dunia keuangan, kalau misalnya diberi pilihan mainan antara boneka atau mesin kasir, saya akan pilih mesin kasir. Setiap ikut orang tua ke supermarket, cita-cita saya ingin menjadi kasir. Ini mungkin juga dipengaruhi oleh latar belakang keluarga, di mana ibu saya seorang sarjana ekonomi dan ayah yang seorang insinyur, tapi sepanjang yang saya ingat dia bekerja di bank dan pasar modal. Hal tersebut yang membuat saya suka sekali dengan dunia keuangan.

Saya memulai karier sebagai karyawan di perusahaan teknologi multinasional asing terbesar di dunia. Setelah berkiprah selama 5,5 tahun, akhirnya saya memutuskan untuk memulai usaha sendiri yang sesuai dengan minat dan kemampuan, yaitu di bidang perencanaan keuangan. Kemampuan ini didukung oleh pendidikan akademis saya yang merupakan sarjana ekonomi jurusan akuntansi dari FEUI dan master of commerce dari University of Sydney. Saya juga memiliki gelar sarjana S2 untuk bidang financial planning yaitu Graduate Certificate in Financial Planning dari Melbourne.

Bagi saya, passion utama dalam bekerja adalah kesukaan saya dalam berbagi dan mengajar. Dan tugas seorang perencana keuangan adalah memberi pandangan kepada klien bahwa ada banyak cara untuk mengelola keuangan yang lebih baik dan efisien. Kalau dijalankan, kemungkinan besar tingkat kesejahteraan dia akan lebih tinggi. Saya punya style yang tidak suka menggurui dan menghakimi seseorang, dan tidak akan menyebut suatu cara adalah benar atau salah. Saya akan bilang bahwa ada cara lain dalam mengelola keuangan yang lebih baik dan efisien.

Urusan keuangan itu enggak sepenuhnya bicara angka, tetapi juga bicara sifat dan psikologi. Misalnya ada beberapa orang diberi uang 100 juta, mereka akan membelanjakan uang itu dengan cara yang berbeda-beda. Cara yang mereka pilih tidak bisa dibilang benar atau salah, karena setiap orang punya preferensi yang berbeda. Orang merasa dirinya kaya dan sejahtera jika poin-poin tertentu yang mereka jadikan tujuan tercapai.

Setiap orang memiliki poin yang berbeda, kan? Nah, tugas saya sebagai perencana keuangan adalah mengingatkan bahwa apa pun poin yang dia punya, dia bisa menghidupi keluarganya sampai dia meninggal dunia. Namun tidak bisa dimungkiri bahwa hal ini sulit, karena terkadang teori yang ada berbeda dengan praktiknya.

Bagaimana proses awal mencetuskan untuk menerbitkan buku “Menjadi Cantik, Gaya, & Tetap Kaya” di 2010?

Jalan saya di dunia keuangan ini seperti dibuka lebar saja oleh Allah SWT. Setelah resign dari pekerjaan tetap yang sangat menjanjikan, saya diajak untuk menjadi kolumnis di sebuah tabloid keuangan. Tak sangka, dari situ justru diajak seorang editor dari Elex Media untuk membuat buku. As simple as that… Saya pun mengambil tema tentang perempuan dan keuangan karena saya perempuan dan ilmu ini yang saya pahami beserta contoh-contohnya. Saya bukan motivator, jadi semua yang saya tulis harus ada landasan teori, referensi, dan juga contoh kasus. Dan tentu saja, hal ini menjadi langkah awal saya untuk kembali menulis dan menerbitkan beberapa buku lainnya dan berkaitan dengan finansial.

Apa saja tantangan Anda menjadi financial planner sekaligus berperan sebagai ibu?

Pada dasarnya, manajemen waktu menjadi hal yang paling menantang. Karena bidang pekerjaan saya yang perlu bertemu dengan klien pada waktu yang mereka tentukan, tentu saja kadang berbenturan dengan kebutuhan waktu anak-anak, terutama saat periode ujian atau kegiatan sekolah lainnya.

Sejujurnya selama pandemi, saya lumayan terbantu karena anak juga sudah memasuki masa remaja dan mereka lebih bisa independen ketika belajar secara online. Saya pun tidak ambil pekerjaan ke luar kota, sehingga saya bisa mengawasi banyak hal dari rumah. Tapi tantangannya juga tetap ada, karena kita harus pandai-pandai membuat batasan waktu, kapan saatnya bekerja, istirahat, dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Bagaimana tips mengatur keuangan bagi keluarga baru?

Yang diutamakan adalah bagaimana membangun perencanaan keuangannya. Biasanya akan dimulai dengan melakukan financial check up untuk mengetahui kesehatan keuangan. Setelah itu, kita bisa menentukan tujuan-tujuan keuangan yang menjadi prioritas keluarga.

Berikutnya, setiap pasangan perlu menyusun anggaran bulanan untuk pengeluaran dengan konsep Living 50 - Saving 30 - Playing 20. Jangan lupa juga untuk membuat dana darurat, menentukan kebutuhan proteksi, dan investasi. Terakhir, lakukan evaluasi progress secara berkala dalam keluarga.

Apa tips mengatur keuangan keluarga di masa pandemi?

Sebaiknya, buatlah prioritas pengeluaran yang penting, seperti pos kesehatan, pos dana darurat, dan pos investasi. Apabila sumber penghasilan terdampak, maka carilah kesempatan lain dalam mencari pemasukan tersebut. Mungkin bisa juga mempertimbangkan ibu kembali bekerja atau memulai menjadi wiraswasta. Dan penting untuk tetap mengutamakan menabung, investasi, serta proteksi di masa depan.

Setiap pasangan perlu menyusun anggaran bulanan untuk pengeluaran dengan konsep Living 50 - Saving 30 - Playing 20. Jangan lupa juga untuk membuat dana darurat, menentukan kebutuhan proteksi, dan investasi.

Sejak kapan konsep keuangan diajarkan pada anak dan seperti apa cara tepat untuk memulainya?

Sedini mungkin tentu akan lebih baik, biasanya konsep dasar bisa mulai dikenalkan sejak usia PAUD. Saya pun melakukan hal tersebut pada anak-anak saya, tetapi hal ini juga perlu melihat karakter anak yang berbeda dan akan memberikan hasil yang berbeda pula.

Untuk Si Kakak Arzie, saya melihat dia sudah sangat bisa menerapkan good money habit from early age. Ia sudah dapat membuat prioritas, bahkan sudah mulai bisa menerapkan konsep membelanjakan - menabung - memberi (sedekah). Sedangkan untuk Si Adik Nizieta, masih lebih menantang karena mungkin sebagai anak perempuan, dia mudah sekali tergoda saat melihat ada sesuatu yang baru di media sosial atau hal lainnya.

Bagaimana dengan cara Anda mengenalkan konsep keuangan pada anak-anak Anda?

Saat usia PAUD, saya mengajak anak-anak untuk membuat celengan di rumah. Setelah uang yang mereka tabung sudah terkumpul 1 juta, saya ajak mereka ke bank untuk membuka rekening.

Kemudian di usia SD, saya memberikan dorongan kepada anak-anak untuk mulai melakukan keputusan saat berbelanja, ikut terlibat dalam diskusi rencana liburan, ikut serta pada business day di sekolah, serta mulai mengajarkan perbedaan antara tabungan dan investasi. Dan memasuki usia praremaja seperti saat ini, saya mulai mengenalkan kepada mereka untuk berinvestasi dalam bentuk emas.

Mengenalkan konsep keuangan pada anak sedini mungkin lebih baik. Misalnya, saat usia PAUD, saya ajak anak-anak untuk membuat celengan dan menabung. Kemudian di usia SD, saya dorong mereka untuk mulai melakukan keputusan saat berbelanja dan ikut terlibat dalam rencana liburan. Dan memasuki usia praremaja, saya mulai kenalkan kepada mereka untuk berinvestasi.

Apa yang perlu diperhatikan agar perencanaan keuangan berjalan sesuai harapan?

Seringnya, pasangan suami istri punya tujuan keuangan yang tidak sesuai dengan sumber pemasukannya. Pada akhirnya, terasa sulit mencapai hasil dari rencana keuangan keluarga yang diinginkan dan kemudian menyerah. Padahal, tidak masalah untuk melakukannya secara bertahap.

Jadi, pastikan rencana yang dibuat memang sesuai dengan kemampuan finansial. Dan yang terpenting adalah menyediakan proteksi, sehingga saat terjadi risiko kehidupan, akhirnya tidak perlu membongkar tabungan yang sudah ada. (M&B/Vonia Lucky/ND/Foto dan Digital Imaging: Insan Obi)


Read Next

More Fromfamily & lifestyle