Type Keyword(s) to Search
FAMILY & LIFESTYLE

Menurut Dokter Kulit, Ini 7 Fakta Unik Seputar Cacar Ular atau Herpes Zoster

Menurut Dokter Kulit, Ini 7 Fakta Unik Seputar Cacar Ular atau Herpes Zoster

Moms pasti sudah tidak asing dengan penyakit cacar air. Tapi, sudahkah Anda mendengar cacar api atau yang sering juga disebut dengan cacar ular? Sekilas gejala cacar air dan cacar api memang mirip, tapi ternyata kedua penyakit tersebut tidak sama lho, Moms. Cara mengatasinya juga berbeda.

Lalu, benarkah cacar api atau cacar ular ini lebih berbahaya daripada cacar air? Benarkah penyakit ini lebih sering menyerang orang yang sudah pernah terkena cacar air? Untuk menjawabnya, M&B telah bertanya kepada DR. dr. Sukmawati Tansil Tan, Sp.KK, Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di Mayapada Hospital Tangerang.

Sang pakar dermatologi yang akrab disapa dokter Sukma ini juga menyebutkan kalau angka kejadian cacar ular ini sedang meningkat, Moms. “Sepanjang tahun selalu ada kejadian cacar ular. Kalau ada kasus cacar air, biasanya kasus cacar ular ini juga akan meningkat,” ujar dr. Sukma.

Nah, untuk meningkatkan kewaspadaan Anda, yuk, simak beberapa fakta unik seputar cacar ular.

1. Lanjutan dari cacar air

Banyak yang mengira, cacar ular adalah penyakit yang berbeda dengan cacar air. Padahal, cacar ular adalah semacam penyakit lanjutan dari cacar air, Moms. “Apa sih, sebenarnya herpes zoster? Penyakit ini adalah infeksi ulang atau reaktivasi dari virus herpes. Kalau pertama kali orang kena virus ini, jadinya cacar air. Sesudah kena cacar air, ternyata ada virus yang sembunyi di bagian saraf sensoris (biasanya di saraf-saraf belakang tubuh). Nanti kalau suatu saat kena infeksi virus herpes zoster lagi, maka akan keluar menjadi cacar ular,” jelas dr. Sukma.

2. Punya banyak nama panggilan

Dalam istilah medis, penyakit ini disebut dengan herpes zoster. Namun dalam istilah awam, herpes zoster ini punya banyak nama panggilan nih, Moms. Menurut dr. Sukma, penyakit ini juga sering disebut cacar ular, cacar api, dompo, karurawit, dan pururawit. Nah, sekarang sudah enggak bingung lagi membedakannya ya, karena semuanya sama saja dan mengacu pada herpes zoster.

3. Tidak cuma menyerang kulit

Berbeda dengan cacar air yang hanya menyerang kulit, cacar ular juga menyerang saraf. Inilah yang membuat penderitanya merasa sangat nyeri, bahkan lebih nyeri daripada saat terkena cacar air. “Kelihatannya ada melenting di kulit, tetapi sebenarnya yang terkena saraf di bawahnya, makanya jadi nyeri banget,” ujar dr. Sukma.

4. Berhubungan dengan COVID-19

Tak disangka, ternyata cacar ular berhubungan dengan COVID-19 lho, Moms. “Pasien-pasien COVID-19 atau yang baru sembuh dari COVID-19 itu belakangan bisa kembali lagi dengan keluhan ada cacar ular,” ujar dr. Sukma. Namun hal ini masih butuh penelitian lebih lanjut untuk mencari tahu kaitan infeksi corona dengan herpes zoster.

“Sepertinya ini karena orang yang terkena COVID-19 kan daya tahan tubuhnya menurun, jadi kalau kena virus mudah terinfeksi. Nah, virus cacar ular yang tadi sedang sembunyi itu pun mudah keluar lagi. Jadi kemungkinan ada hubungan seperti itu dengan COVID-19,” jelasnya.

Dokter Sukma juga mengaku masih penasaran dengan hubungan COVID-19 dan herpes zoster, “Apakah karena daya tahan tubuh menurun atau karena virusnya yang mirip, ada sifat-sifat virus yang mirip. Itu masih perlu data lagi,” ujarnya.

5. Lebih sering menyerang orang dewasa

Berbeda dengan cacar air yang lebih sering menyerang anak, cacar ular atau herpes zoster justru lebih sering menyerang orang dewasa. “Cacar ular sebenarnya paling banyak terjadi pada mereka yang usianya 40 tahun ke atas, tetapi tetap bisa terjadi pada siapa saja, bahkan anak kecil pun bisa cacar ular,” jelas dr. Sukma.

6. Bisa terjadi karena warisan ibu

Ternyata cacar ular tidak selalu lanjutan dari cacar air, karena dr. Sukma juga pernah menemukan kasus anak 1-2 tahun sudah terkena cacar ular, padahal sebelumnya belum cacar air. Kasus seperti ini mungkin jarang, tapi sangat mungkin terjadi. Hmm, kok bisa, ya?

“Ternyata saat ibunya hamil pernah terkena cacar air atau pada saat melahirkan, ibunya pas kena cacar air. Jadi bayinya waktu lahir sudah terpapar dengan cacar air. Tetapi karena daya tahan tubuh bayi itu masih bagus (biasanya masih ada antibodi dari ibunya), jadi mungkin enggak kelihatan cacar airnya dengan jelas, mungkin hanya ada melenting 1-2 saja. Kemudian ketika dia kena cacar air lagi, itu jadi keluarnya cacar ular,” jelasnya.

7. Sering dikira penyakit lain

Karena cacar ular juga menyerang saraf, maka umumnya pasien akan merasakan nyeri hebat di area yang sedang terserang cacar ular. Inilah yang membuat cacar ular sering dikira penyakit lain, tergantung area yang diserang. “Kalau menyerang saraf mata, sering dikira sakit mata. Menyerang saraf gigi, dikira sakit gigi. Padahal waktu diperiksa dokter gigi, ya tidak ada apa-apa. Menyerang saraf di dada kiri, dikira sakit jantung. Bisa juga menyerang area pinggang dan dikira sakit ginjal. Padahal kalau diperhatikan di area kulitnya ada bercak kemerahan dan melenting yang ukurannya sama semua dan berkelompok,” ujar dr. Sukma.

Untuk tahu lebih lengkap obrolan M&B dengan DR. dr. Sukmawati Tansil Tan, Sp.KK, Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin dari Mayapada Hospital Tangerang, simak video berikut ini yuk, Moms!

(M&B/Tiffany Warrantyasri/SW/Foto: Freepik)