Type Keyword(s) to Search
FAMILY & LIFESTYLE

Mengenal Rebound COVID, Kondisi yang Dialami Presiden AS Joe Biden

Mengenal Rebound COVID, Kondisi yang Dialami Presiden AS Joe Biden

Presiden AS Joe Biden mengumumkan dirinya kembali positif COVID-19, beberapa hari usai ia sembuh dari virus COVID-19. Fenomena yang dialami Biden ini dikenal dengan istilah rebound COVID. Apa itu? Kok, bisa?

Rebound COVID adalah kondisi di mana munculnya gejala atau hasil dari tes antigen maupun PCR yang kembali positif setelah pasien menyelesaikan masa pengobatannya. Joe Biden sendiri awalnya dinyatakan positif COVID-19 pada tanggal 21 Juli 2022 dengan gejala ringan termasuk pilek, kelelahan, suhu badan tinggi, dan batuk, menurut dokternya.

Biden kemudian melakukan terapi Paxlovid selama 5 hari, dan pada tanggal 26 Juli 2022 ia telah dinyatakan negatif COVID-19. Usai dinyatakan negatif, presiden AS ke-46 tersebut setiap hari melakukan rapid test. Namun pada tanggal 30 Juli 2022, rapid test menunjukkan hasil positif. Meskipun tanpa gejala, Biden kembali melakukan isolasi mandiri demi keamanan orang-orang di sekelilingnya.

Rebound COVID bisa terjadi pada setiap orang

Seperti telah disebutkan, rebound COVID merupakan munculnya gejala atau tes antigen maupun PCR yang kembali positif setelah pasien menyelesaikan masa pengobatannya. Fenomena ini sebenarnya jarang terjadi, tetapi pernah ditemukan pada beberapa orang. Fenomena ini juga bisa terjadi pada setiap orang, apa pun status vaksinasinya, baik belum vaksin, sudah divaksin, maupun sudah vaksin booster.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), rebound COVID umumnya dapat terjadi pada hari ke-2 hingga ke-8 setelah pasien dinyatakan pulih dan negatif. Gejala di masa rebound COVID-19 relatif ringan pada mereka yang sudah menyelesaikan pengobatan paxlovid.

Ada kemungkinan berhubungan dengan terapi Paxlovid

Berdasarkan data uji klinis Mayo Clinic, kurang dari 1% pasien yang menerima terapi Paxlovid selama 5 hari bisa mengalami fenomena rebound COVID. Dalam penelitian tersebut, 2/3 kasus rebound COVID terjadi pada mereka yang punya komorbid. Selain itu, setengahnya terjadi pada lansia.

Paxlovid sediri merupakan obat antivirus produksi Pfizer yang digunakan untuk mengobati COVID-19 gejala ringan sampai sedang, tetapi tidak untuk mencegah infeksi. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah memberikan izin penggunaannya untuk pasien berusia 12 tahun ke atas dan berisiko lebih tinggi mengalami gejala yang parah.

Jadi, apakah Paxlovid tidak efektif untuk mengobati COVID-19? Mengutip akun Instagram @pandemictalks, uji klinis Paxlovid telah menunjukkan penurunan yang nyata dan sangat signifikan dalam mencegah risiko rawat inap dan kematian pada pasien yang berisiko tinggi (90%). Sementara efek samping dan fenomena rebound COVID juga jarang terjadi.

Karena itu, sampai saat ini, manfaat Paxlovid dianggap lebih besar ketimbang risikonya. Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menyetujui penggunaan Paxlovid pada tanggal 16 Juli 2022 lalu. Tablet Paxlovid diminum 2 kali sehari selama 5 hari. Pengobatan harus dimulai sesegera mungkin setelah hasil tes menyatakan positif dan tidak lebih dari 5 hari setelah timbulnya gejala.

Jadi, kenapa fenomena rebound COVID ini terjadi?

Penyebabnya rebound COVID masih belum diketahui. Masih diperlukan penelitian yang mendalam akan fenomena ini. Yang sudah diketahui mengenai rebound COVID akibat Paxlovid adalah:

  • Tidak sama dengan reinfeksi (terinfeksi kembali setelah sembuh)
  • Tidak menyebabkan resistensi (obat membuat virus bermutasi dan kebal)
  • Tidak terjadi karena sistem imun pasien yang lemah
  • Gejala rebound COVID ringan dan tidak berat
  • Orang yang mengalami rebound COVID bisa jadi masih menular (infeksius).

CDC mengatakan bahwa gejala COVID-19 memang terkadang kembali. Dan mungkin begitulah cara infeksi terjadi pada sebagian orang, terlepas dari apakah mereka divaksinasi atau dirawat dengan obat-obatan seperti Paxlovid. CDC juga menyatakan bahwa sebagian besar kasus rebound melibatkan penyakit ringan dan tidak ada laporan penyakit serius.

Meskipun begitu, orang yang mengalami rebound COVID mungkin masih bisa menularkan, sehingga CDC merekomendasikan agar mereka kembali isolasi, setidaknya selama 5 hari jika penyakitnya kambuh. (M&B/SW/Foto: News.sky.com)


Read Next

More Fromfamily & lifestyle