Type Keyword(s) to Search
FAMILY & LIFESTYLE

5 Pelajaran Hidup dari The School of Good and Evil, Film tentang Calon Pahlawan dan Penjahat

5 Pelajaran Hidup dari The School of Good and Evil, Film tentang Calon Pahlawan dan Penjahat

Rilis pada 19 Oktober lalu di Netflix, film The School of Good and Evil bisa menjadi salah satu opsi tontonan untuk mengisi weekend Anda bersama Si Kecil nih, Moms. Pasalnya, film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Soman Chainani ini enggak hanya menarik, tapi juga sarat akan pelajaran hidup buat Si Kecil.

Film The School of Good and Evil menceritakan tentang persahabatan Sophie (Sophia Anne Caruso), anak perempuan berambut emas yang bermimpi menjadi putri, dan Agatha (Sofia Wylie), anak perempuan berambut hitam yang tinggal di hutan bersama ibunya yang dituduh sebagai penyihir.

Cara pandang sepasang sahabat ini sangat berbeda. Sophie adalah seorang pemimpi yang menggemari kisah dongeng. Ia percaya, suatu hari nanti hidupnya akan berubah bak putri di negeri dongeng. Sedangkan Agatha adalah seorang realis. Seumur hidupnya, ia selalu dibenci karena dianggap sebagai penyihir. Oleh karena itu, berbeda dengan Sophie, Agatha sangat sinis memandang dunia.

Meskipun begitu, keduanya sepakat untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik. Sophie pun mengetahui bahwa ada legenda tentang sekolah yang mengajarkan seseorang menjadi putri dan pahlawan. Sesuai dengan mimpinya, ia kemudian berharap bisa keluar dari desa tempat tinggalnya dan pergi ke sekolah tersebut.

Mimpi tampak menjadi kenyataan ketika seekor burung raksasa menculik dan membawa Sophie ke sekolah impiannya. Khawatir akan keselamatan Sophie, Agatha pun turut diculik saat berusaha menyelamatkan sahabatnya itu. Sayangnya, Sophie dihadapkan pada kenyataan yang berbeda dari apa yang ia harapkan.

Alih-alih bersekolah di sekolah khusus putri dan pahlawan, Sophie malah ditempatkan di sekolah khusus penyihir dan penjahat. Sebaliknya, Agatha yang skeptis ditempatkan di sekolah khusus putri dan pahlawan. Konflik semakin ruwet ketika seorang penjahat super berusaha merayu Sophie untuk membantunya mengalahkan kebaikan. Lalu, berhasilkah Agatha menyelamatkan Sophie? Tonton saja film The School of Good and Evil di Netflix, Moms!

Pelajaran hidup dari The School of Good and Evil

Pelajaran Hidup dari The School of Good and Evil, Film Tentang Calon Pahlawan dan Penjahat

Ada banyak hal yang bisa diacungi jempol dari film ini. Kostum yang menawan, karakter yang penuh kisah, dan pastinya pelajaran hidup yang bisa dipetik oleh kita semua, terutama oleh Si Kecil. Berikut ini beberapa pelajaran hidup yang bisa dipetik dari film The School of Good and Evil.

1. Don't judge a book by its cover. Meski ungkapan ini sering kita dengar, melakukannya dalam kehidupan sehari-hari bisa jadi akan penuh tantangan. Namun, petualangan Agatha dan Sophie kembali mengingatkan kita bahwa segala yang terlihat belum tentu benar. Agatha yang tampak dingin ternyata adalah sosok pelindung dan penyayang. Begitu pula dengan orang-orang lain di sekitar kita.

2. Tidak ada manusia yang sepenuhnya jahat maupun baik. Di The School of Good and Evil, manusia dibedakan menjadi dua, yaitu baik dan buruk. Padahal, manusia lebih dari sekadar penilaian hitam-putih. “Aku enggak percaya bahwa seseorang adalah orang baik atau jahat, karena setiap orang sangatlah rumit,” tutur Agatha.

Bisa dibilang, ucapan Agatha ini benar adanya. Setiap orang punya sisi baik dan buruknya masing-masing. Beberapa orang mungkin punya sisi baik yang lebih besar daripada sisi buruknya, atau sebaliknya. Namun, hal-hal inilah yang membuat kita sebagai manusia.

3. Jangan buat asumsi tentang orang lain atau melabeli orang dengan predikat tertentu. Sering kali perundungan atau bullying dimulai dengan pemberian label tertentu terhadap orang lain berdasarkan karakter tertentu. Semakin parah, label ini kemudian tak jarang meluruhkan hal-hal baik yang dimiliki seseorang. Di The School of Good and Evil, tak sedikit murid di sekolah putri dan pahlawan bersikap buruk. Mereka menganggap label putri dan pahlawan sudah cukup, sehingga mereka merasa bisa berbuat seenaknya.

4. Perjuangkan hal-hal yang kita yakini. Jika Agatha tak menjalani tekadnya untuk menyelamatkan Sophie, pastilah kekuatan jahat berhasil menguasai Sophie dan menghancurkan dunia. Oleh karena itu, mengajarkan Si Kecil untuk memiliki prinsip dan berpegang teguh pada hal-hal yang benar sangatlah penting.

5. Persahabatan adalah salah satu hal terbaik yang bisa dimiliki seseorang. Ikatan antara Sophie dan Agatha yang begitu erat menjadi kekuatan mereka untuk mengalahkan kuasa jahat. Meski film ini menggambarkannya secara fiksi, persahabatan tetaplah sesuatu yang berharga bagi manusia. Tak dimungkiri lagi, manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Kehangatan keluarga dan persahabatan kemudian memegang peranan penting dalam kebahagiaan setiap manusia.

(M&B/Gabriela Agmassini/SW/Foto: Netflix)