Type Keyword(s) to Search
BABY

Tips Menurunkan Berat Badan Bayi yang Berlebihan

Tips Menurunkan Berat Badan Bayi yang Berlebihan

Menjaga anak sehat dan punya berat badan ideal tentunya jadi prioritas semua orang tua ya, Moms! Kesehatan anak memang sering dinilai dari berat badannya. Banyak yang beranggapan, makin gemuk anak, makin sehatlah ia. Pastinya ini enggak benar, ya. Berat badan anak tidak menentukan kesehatannya.

Tumbuh kembang anak harus mengikuti kurva pertumbuhan WHO dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Berat dan tinggi badan anak tidak boleh di bawah kurva pertumbuhan tersebut, tapi bukan berarti boleh melebihi, lho. Berat badan anak tetap harus ideal, tidak boleh berlebih, karena lebih chubby bukan berarti lebih baik.

Berat badan berlebih pada bayi tentu tidak baik, karena bisa mengganggu tumbuh kembangnya. Untuk itu, Moms yang punya bayi dengan berat badan tergolong berlebih perlu mengatur lagi pola makan Si Kecil agar mendapat berat badan ideal sesuai kurva pertumbuhan WHO dan IDAI. Ikuti cara di bawah ini untuk menurunkan berat badan bayi ya, Moms.

1. Beri susu atau makan sesuai jadwal

Sangat penting untuk memberikan makan atau minum susu yang terjadwal. Ketika berat badan bayi Anda berlebih, Moms bisa “menurunkan” berat badannya bukan dengan diet ketat seperti orang dewasa, tapi dengan mengatur pola dan waktu makan yang lebih baik dan sesuai kebutuhan hariannya.

Untuk itu, cobalah berkonsultasi dengan dokter anak dan dokter gizi untuk membuat jadwal makan sehat dan tepat sesuai usia juga kebutuhan nutrisi anak. Ini cara yang bijak agar Moms tidak memberikan susu atau makanan berlebihan.

2. Beri ASI

Tak perlu diragukan lagi, ASI adalah satu-satunya makanan yang dibutuhkan bayi di 6 bulan pertama kehidupannya. ASI memberikan segala nutrisi yang dibutuhkan tubuh Si Kecil untuk tumbuh kembangnya. Segala kandungan baik dalam ASI akan otomatis sesuai dengan kebutuhan anak, tidak kurang dan tidak berlebih, berbeda dengan susu formula yang bisa menyebabkan obesitas jika diberikan berlebihan. Selain itu, sudah banyak penelitian yang membuktikan kalau pemberian ASI bisa mengurangi risiko obesitas pada bayi dan balita.

3. Nangis langsung disusui?

Membentuk pola makan sehat harus dilakukan sejak dini. Salah satu caranya dengan tidak membentuk kebiasaan emotional eating seperti langsung memberikan susu setiap kali anak menangis. Banyak penyebab bayi menangis, bisa karena popoknya basah, kedinginan, atau sekadar ingin dipeluk. Bayi menangis tidak selalu karena lapar lho, Moms. Karena itu, jangan buru-buru memberi Si Kecil susu setiap kali ia menangis. Ini akan membentuk kebiasaan emotional eating yang membuat anak mencari makanan sebagai bentuk pelarian dari emosi negatif yang ia rasakan.

4. Jangan berikan makanan sebagai hadiah

Makin bertambah usia Si Kecil, kemampuannya pun makin banyak. Terkadang orang tua memberikan hadiah untuk anak sebagai motivasi agar ia bisa melakukan suatu hal baru.

Sayangnya, ada saja orang tua yang memberikan camilan atau makanan tertentu sebagai hadiah. Bagi bayi yang sudah tergolong obesitas, menikmati camilan ekstra (terlebih yang tinggi lemak, gula, dan garam) tidak tepat untuk tumbuh kembangnya.

5. Berikan makanan sehat

Ketika bayi sudah berusia lebih dari 6 bulan, maka sudah waktunya ia menikmati MPASI karena pemberian ASI saja sudah tidak cukup. Berikan Si Kecil makanan tinggi nutrisi, bukan tinggi lemak. Konsultasikan dengan dokter anak agar bisa diberikan saran tepat komposisi kandungan makanan terbaik. Walau tergolong berat badan berlebih, bukan berarti anak tidak butuh lemak sama sekali. Tetap berikan lemak sehat dengan proporsi yang tepat ya, Moms.

6. Latih bayi aktif bergerak

Bayi yang sudah mulai aktif bergerak (seperti merangkak dan bermain), akan mengubah lemak di tubuhnya menjadi energi. Inilah momen lemak berlebih di tubuh Si Kecil berkurang karena diubah menjadi energi. Untuk itu, coba ajak anak lebih aktif bergerak dengan melakukan kegiatan-kegiatan seru bersamanya. Selain membiasakan Si Kecil untuk aktif, kegiatan seperti ini juga bisa menjadi momen quality time yang membuat hubungan ibu-anak lebih dekat. (M&B/Tiffany Warrantyasri/SW/Foto: Jcomp/Freepik)