Type Keyword(s) to Search
FAMILY & LIFESTYLE

Mom of the Month: Pritta Tyas, M.Psi, Psikolog

Mom of the Month: Pritta Tyas, M.Psi, Psikolog

Tak hanya dikenal dengan profesinya sebagai psikolog, Pritta Tyas juga menjadi sosok yang mengenalkan positive discipline sebagai salah satu pola asuh yang bisa diterapkan orang tua pada anaknya. Hal ini pun ia bagikan dengan menghadirkan Good Enough Parents, bersama Damar Wahyu Wijayanti, sejak 2017 lalu. Selain metode positive discipline, Pritta mendalami ilmu Montessori hingga mendirikan Sekolah Bumi Nusantara Montessori.

Meski sudah mengenal dunia psikologi lebih jauh, nyatanya Pritta tetap merasa kerepotan saat menjalani perannya sebagai ibu dan mengasuh kedua anaknya, Wikan dan Kama. Banyak hal yang ia pelajari sebagai orang tua, termasuk soal mencintai diri sendiri, seiring pertambahan usia kedua anaknya. Seperti apa peran Pritta, tak hanya sebagai psikolog tetapi juga sebagai seorang ibu? Simak obrolan M&B bersama Pritta Tyas, M.Psi, Psikolog yang menjadi Mom of the Month February 2024 berikut ini, Moms.

Setiap pribadi perlu mencintai dirinya sendiri sebelum menjadi orang tua. Benarkah?

Sebenarnya salah satu faktor keberhasilan pengasuhan kita ke anak adalah seberapa jauh kita mengenal kebutuhan diri kita sendiri. Misalnya, kita lihat dari "hot button" atau hal yang membuat kita terpicu untuk marah. Kalau kita secara pribadi sudah tahu hal-hal yang bisa men-trigger emosi, maka bisa dipelajari cara mengontrolnya. Mencintai diri sendiri juga bukan hanya memberikan waktu untuk ke salon dan relaksasi, tapi membuka diri untuk mau belajar hal baru, seperti membuat resep MPASI yang enak dan bergizi untuk anak. Jadi kesimpulannya, kita jadi tahu kebutuhan, potensi, dan kelemahan yang kita punya dengan mencintai diri sendiri sebelum menjadi orang tua. Alhasil, nantinya kita bisa mencegah munculnya stres dari hal-hal yang bisa dibilang tidak penting, begitu.

Mencintai diri sendiri itu termasuk hal yang egois atau enggak, sih?

Pada praktiknya, mencintai diri sendiri memerlukan waktu, energi, dan juga ada pengorbanannya. Aku ambil contoh kalau kita mau berolahraga selama 2 jam, artinya waktu untuk bersama anak-anak sebelum mereka tidur hanya 1 jam. Tapi, kalau dalam waktu itu kita tidak main gadget dan fokus pada anak, tentu kita bisa lakukan banyak hal, seperti deep talk atau sekadar baca buku dengan mereka.

Jadi, kalau dibilang egois, sebenarnya tidak, ya. Yang penting, kita sebagai orang tua tahu prioritas dan lakukan evaluasi dalam melakukan me time yang juga termasuk sebagai cara untuk mencintai diri sendiri sesuai kebutuhan. Karena, tentu saja setiap ibu punya kebutuhan waktunya masing-masing, dan itu bukan termasuk hal yang egois.

Mencintai diri sendiri juga bukan hanya memberikan waktu untuk ke salon dan relaksasi, tapi membuka diri untuk mau belajar hal baru, seperti membuat resep MPASI yang enak dan bergizi untuk anak.

Apakah menerapkan positive discipline pada anak juga jadi satu hal yang bisa membantu orang tua serta anaknya untuk terus belajar mencintai diri sendiri?

Positive discipline itu bukan cuma bicara tentang bagaimana cara membuat anak menurut, tapi justru membantu orang tua menemukan cara untuk memahami anaknya dengan langkah yang tidak menyakitkan tapi menyenangkan.

Aku ambil contoh diriku sendiri, yang kalau orang bilang tuh, sumbu pendek. Tingkat kesabarannya minim karena ingin segala sesuatu harus cepat selesai. Kalau tidak menerapkan positive discipline, mungkin aku jadi ibu yang kejam, karena selalu menyuruh anak sampai merasa emosiku habis sendiri. Atau, aku justru membandingkan diri dengan ibu lain yang sabar atau jarang marah pada anaknya, yang pada akhirnya jadi menyiksa diriku sendiri juga.

Setelah aku pelajari dan menerapkannya sendiri, positive discipline membuatku tahu karakter yang perlu aku ubah atau memang tidak perlu diubah, termasuk dalam mengasuh anak-anak. Energi tubuh juga jadi lebih hemat, karena bisa memahami kebutuhan anak tanpa menerka apa yang mereka mau, tapi bisa langsung bertanya hal yang mereka butuhkan dariku. Emosi pun jadi terkendali dan kesehatan mental tentunya jadi relatif oke.

Apa saja manfaat dari positive discipline?

Banyak Moms yang ikut belajar tentang positive discipline bersamaku dan bilang kalau metode ini justru mengubah diri mereka sendiri. Para ibu ini jadi makin mengenal dirinya sendiri, terutama dalam berkomunikasi dengan anak. "Aku orangnya enggak tegaan sama anak, jadi bikin aturan yang enggak konsisten" atau "Dulunya dibesarkan dengan hukuman, jadi ekspektasi atau tuntutan pada anak jadi tinggi". Jadi, semacam balas dendam dari apa yang dialami saat kecil, dilakukan lagi ke anak saat ini. Setelah itu, barulah perubahan anak-anak mulai terlihat. Mereka jadi lebih kooperatif, mau ngomong apa yang mereka butuh, enggak cuma merengek atau tantrum.

Tapi, positive discipline sendiri bukan berarti Moms atau Dads harus sabar atau jadi sosok yang lembut banget. Justru metode ini lebih mengajak anak untuk diskusi dengan cara yang menyenangkan, tetap tegas tanpa memaksa, melarang tanpa mengancam. Seperti itulah, kira-kira.

Sebagai working mom, pernahkan Anda mendapat komentar negatif?

Pastinya pernah banget, apalagi saat anak kedua lahir. Saat Wikan (anak pertama) lahir, aku punya waktu yang banyak untuk dihabiskan bersamanya. Tapi, aku justru punya cukup banyak kesibukaan sejak Kama (anak kedua) lahir sampai sekarang. Bahkan, dia sampai bilang kalau aku lebih sayang sama teman-temanku. Kama pernah menghapus foto-foto di hp, bahkan sampai curhat ke gurunya tentang rasa sedihnya ini. Aku pastinya jadi ikutan sedih saat tahu kalau dia merasa dicuekin saat mamanya lagi bekerja.

Nah, karena efek yang enggak bagus ini, sekarang aku mulai mencoba monotasking. Kalau ada meeting atau mau kumpul dengan teman-teman, aku tidak membawa anak-anak ikut. Jadi, tidak mencampur urusan pekerjaan sama mengasuh anak.

Dari mana Anda mendapatkan ide yang dijadikan konten di media sosial?

Konten-konten yang tayang di akunku itu sebenarnya bukan hanya untuk mengedukasi followers, ya. Aku justru membuatnya sebagai self-reminder, bahwa teori psikologi yang aku pelajari itu perlu proses saat diterapkan pada kenyataannya. Dan dalam prosesnya, Aku tentu melakukan banyak kesalahan.

Satu waktu, aku pun pernah mau berhenti memberikan workshop tentang positive discipline, karena pada hari itu aku justru membentak anak-anak sesaat setelah workshop selesai. Tapi, aku sadar bahwa sosok Pritta seorang psikolog berbeda dengan sosok Pritta sebagai orang tua. Jadi, konten itu adalah refleksiku, evaluasi, salahku, dan komitmenku untuk bisa menjalani setiap proses supaya punya mindset yang lebih baik. Tidak ada maksud untuk jadi pakar atau mengajari orang tua lain, tapi justru biar kita bisa belajar bareng-bareng.

Positive discipline bukan berarti orang tua harus selalu sabar atau jadi lembek. Justru metode ini untuk mengajak anak diskusi dengan cara yang menyenangkan, tetap tegas tanpa memaksa, melarang tanpa mengancam.

Wikan dan Kama memiliki jarak usia yang cukup dekat, ada perbedaan pola asuh antara keduanya atau enggak?

Kalau pola asuh, sih, relatif sama. Tapi dalam hal menstimulasi ada bedanya, nih. Karena aku juga pengajar Montessori bersertifikat, jadi aku coba terapkan metode ini pada Wikan secara langsung. Sedangkan pada Kama, memang butuh bantuan lainnya, karena memang kesibukanku juga bertambah. Aku pun menerapkan prinsip yang sejalan dengan teori Howard Gardner tentang multiple intelligence, bahwa di 8 tahun pertama usia anak, semua kecerdasannya perlu diasah dan harus diberi kesempatan untuk berkembang.

Nah, Wikan itu anak yang punya kemampuan lebih baik dalam bahasa, matematika, sains, segala yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan umum dan sesuatu yang terstruktur. Jadi, aku bisa terjun langsung dalam menstimulasi atau membantunya belajar sampai sekarang.

Sedangkan Kama punya ketertarikan pada kesenian, suka pemandangan, dan gross motor yang lebih baik. Jadi, dia diikutkan ke les gimnastik dan terkadang aku ajak ke tempat seni supaya dia bisa berekspresi lewat menggambar. Dan kerativitas Kama lebih out of the box, jadi sebenarnya menyulitkan aku dalam membantu tumbuh kembangnya.

Apa hal-hal yang dilakukan untuk menjaga kesehatan mental dari anak-anak Anda?

Untuk anak-anak usia dini, sebenarnya free time jadi satu hal yang perlu orang tua berikan. Saat les atau kursus, tentu ada aturan tersendiri yang perlu anak patuhi. Tapi, mereka juga perlu punya special time untuk mereka bersenang-senang tanpa aturan. Biarkan mereka melakukan hal-hal yang disukai tanpa ada larangan atau disuruh apa pun oleh orang tua. Yang penting, kita tetap mengawasi mereka supaya tetap aman dan kita juga tenang.

Dan satu lagi adalah mengenal love language anak. Seperti aku yang jadi tahu kalau bahasa cintanya Kama itu quality time dan banyak bercandanya. Sedangkan itu kelemahanku yang perlu aku improve supaya bisa dekat juga dengan Kama. Aku juga sempat takut kalau terlalu banyak bermain dengan sang adik justru membuat kakaknya kesepian. Ternyata yang aku lakukan justru terbalik, bahwa waktuku dengan anak kedua jadi kurang. Makanya, aku banyak belajar agar bisa lebih seimbang saat menghabiskan waktu bersama anak-anak tanpa mengganggu kesibukan yang lain juga.

Sekarang aku mulai mencoba monotasking. Kalau ada meeting atau mau kumpul dengan teman-teman, Aku tidak membawa anak-anak ikut.

3 hal yang menggambarkan sosok Pritta Tyas?

Presistence (gigih) dalam semua hal dalam hidup, well-planned, dan thoughtful.

Menurut Pritta sebagai psikolog, seperti apa tanda-tanda dari seorang anak yang diasuh oleh orang tua dengan kesehatan mental yang baik?

Kalau anak memiliki kesehatan mental yang kurang oke atau belum memiliki kemampuan mengelola emosi yang baik, maka itu akan berujung kepada ngambek dan tantrum. Jadi, salah satu tandanya adalah kalau anak bisa mengutarakan apa yang dia rasakan tanpa rasa takut. Dan ini biasanya saat anak sudah berusia 5 tahun ke atas, ya.

Dia bisa mengenali dan menyampaikan apa yang dia rasakan, atau yang dia mau, atau yang dia tidak sukai. Aku rasa itu adalah bagian tertinggi dari kemampuan mengelola emosi pada anak-anak, karena orang tua tidak langsung memarahi, tapi justru mengajak anak untuk berbicara dan mendengarkan mereka. Selain itu, tentu ada hal lain seperti semangatnya untuk menjalani hari atau punya minat untuk belajar hal baru.

(M&B/Vonia Lucky/SW/Fotografer: Gustama Pandu/Asisten fotografer: Supriyanto/Digital Imaging: Erlangga Namaskoro/MUA: Aksis Mipi (@aksismipi_mua)/Hairstylist: Kwee Sandy (@sandykwee)/Wardrobe Pritta Tyas: BASA (@basa.official)/Wardrobe Wikan: Heija Kidswear (@heijakidswear))