Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Anak-anak Gen Z dan Alfa saat ini tumbuh besar dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat. Maka, tak heran jika mereka sudah terpapar dengan teknologi digital dan gadget sejak dini. Untuk itu, penting melatih keluarga untuk menjadi lebih peka guna memaksimalkan manfaat yang bisa didapatkan dari teknologi sekaligus meminimalkan risikonya.
Bertepatan dengan Hari Keluarga Nasional, Google dan YouTube Indonesia mengadakan acara bertajuk #KeluargaCerdasBerinternet untuk membantu para keluarga di Indonesia menetapkan batasan dan menggunakan teknologi dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan setiap keluarga.
Tak hanya sebagai sarana hiburan, anak-anak juga memanfaatkan internet sebagai sarana pendidikan. Karena itu, Google berkomitmen untuk membantu orang tua dan pendidik agar anak-anak dapat menjelajahi dunia maya dengan aman dan terkendali.
“Di Google, setiap upaya yang kami dedikasikan untuk anak-anak dibangun di atas tiga pilar utama, yaitu melindungi dari risiko dunia maya, menghormati privasi, dan memberdayakan anak-anak dan keluarga untuk masa depan,” ucap Isya Hanum Kresnadi, Government Affairs & Public Policy Manager, Google Indonesia.
Sebagian besar anak, terutama yg berusia 13 tahun, pernah menggunakan Google untuk mendapatkan informasi dan pendidikan, ada kalanya mereka bertemu dengan konten yang tidak baik. Setelan Safe Search di Google Search dirancang untuk secara otomatis memblokir gambar, video, dan situs dewasa dari hasil penelusuran untuk langsung menghindari konten yang eksplisit.
Bahkan, untuk memberikan perlindungan lebih jauh dari paparan gambar vulgar di Google Search secara tidak sengaja, Google juga meluncurkan setelan blur Safe Search. Setelan ini secara bawaan akan memfilter konten yang tidak pantas, vulgar, dan dewasa, terutama untuk pengguna di bawah 18 tahun yang login ke akun Google.
Namun, Safe Search bukanlah alat yang sempurna, dan Moms mungkin masih menemukan hasil penelusuran vulgar. Jika menemukan hal tersebut, Moms dapat melaporkannya.
Mengontrol aktivitas digital anak dengan mudah
Selain fitur Safe Search, Moms juga bisa menggunakan fitur Family Link yang dapat mengontrol aktivitas digital yang dilakukan anak.
Orang tua dapat menetapkan batas-batas yang sesuai kebutuhan keluarga dengan cara:
- Mengawasi waktu penggunaan perangkat dan membatasi akses harian
- Memuaskan rasa ingin tahu anak dengan beragam aplikasi yang direkomendasikan para guru
- Mengunci perangkat anak Anda dari jarak jauh
- Melihat aktivitas anak
- Melihat lokasi keberadaan anak
- Mengelola akun dan aplikasi yang anak gunakan.
Saskhya Aulia Prima, psikolog anak dari Tiga Generasi, menyampaikan, “Di era digital yang serba cepat ini, peran orang tua bukan sekadar mengawasi, melainkan mendampingi dan membimbing. Fitur seperti Safe Search dan Family Link adalah langkah awal yang baik. Namun, komunikasi terbuka tentang etika digital dan konsekuensi online tetap menjadi kunci utama. Anak-anak yang diajak berdiskusi akan lebih cerdas, cermat, dan lebih bijak dalam mengambil keputusan saat di dunia maya, daripada hanya dilarang dan dibatasi,” ungkapnya.
Selain itu, menurut Saskhya, orang tua perlu waspada terhadap setiap perubahan perilaku yang mungkin dialami anak. Bila anak mengalami perubahan pola makan, pola tidur, dan interaksi sosial, mungkin orang tua perlu mengevaluasi kembali aturan penggunaan gadget anak.
Sementara menurut Poetri Andayani, Co-Founder Ibu2ID, orang tua perlu melek teknologi sehingga dapat maksimal dalam mengawasi dan memberikan batasan pada anak.
“Sekarang kan tugas sekolah juga banyak yang harus pakai internet, jadi ya, pasti bakalan lebih susah buat membatasi waktu anak buka internet, tapi setidaknya kalau kita enggak gaptek kita jadi bisa tahu apa saja yang diakses anak di internet,” ucap Poetri yang ditemui dalam acara yang sama.
Membesarkan anak di era digital memang penuh tantangan, ya, Moms, tapi juga menawarkan banyak peluang. Dengan fitur yang tepat dan pendekatan yang bijak, teknologi dapat menjadi alat pembelajaran yang bermakna, bukan hambatan. (M&B/RF/Foto: Google Indonesia)
