Type Keyword(s) to Search
BABY

Kenapa Bayi Menangis saat Tidur? Ini Penjelasannya, Moms

Kenapa Bayi Menangis saat Tidur? Ini Penjelasannya, Moms

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Melihat bayi yang tengah tertidur pulas merupakan salah satu momen paling membahagiakan bagi orang tua. Namun, kebahagiaan bisa berubah menjadi kekhawatiran saat Moms mendengar Si Kecil menangis atau merengek dalam tidurnya. Kenapa bayi menangis saat tidur? Apakah ia sedang bermimpi buruk? Apakah ia merasa tidak nyaman?

Tenang, Moms. Bayi menangis saat tidur adalah hal yang cukup umum terjadi, kok. Sering kali, ini bukanlah pertanda adanya masalah serius. Tangisan tersebut bisa jadi bagian dari proses alami siklus tidur bayi Anda yang sedang berkembang.

Lalu, Kenapa bayi menangis saat tidur? Bagaimana cara mengatasinya? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini, Moms.

Kenapa bayi menangis saat tidur?

Mendengar tangisan bayi saat ia terlelap bisa membuat hati orang tua mana pun merasa cemas. Namun, ada beberapa penjelasan logis di balik fenomena ini, Moms. Sebagian besar penyebabnya tidak berbahaya dan merupakan bagian dari perkembangan normal bayi, lho. Berikut ini alasan bayi menangis saat tidur.

1. Transisi siklus tidur

Sama seperti orang dewasa, bayi juga melewati beberapa fase tidur, yaitu tidur ringan (REM/Rapid Eye Movement) dan tidur dalam (non-REM). Namun, siklus tidur bayi jauh lebih pendek daripada orang dewasa. Bayi menghabiskan lebih banyak waktu dalam fase tidur ringan dan ia lebih mudah terbangun dalam tidurnya.

Saat berpindah dari satu fase tidur ke fase lainnya, bayi mungkin akan bergerak, membuat suara, atau bahkan menangis singkat sebelum kembali tertidur pulas. Ini adalah bagian normal dari proses pematangan pola tidur Si Kecil.

2. Lapar

Perut bayi sangat kecil, sehingga ia perlu sering menyusu, bahkan di malam hari. Rasa lapar adalah salah satu alasan paling umum bayi menangis, baik saat ia sadar maupun saat tertidur. Jika tangisannya terdengar keras dan ia sudah lama tidak menyusu, kemungkinan besar Si Kecil sedang memberi sinyal bahwa sudah waktunya untuk menyusu.

3. Popok basah atau penuh

Rasa tidak nyaman akibat popok yang basah atau penuh juga bisa mengganggu tidur Si Kecil. Meskipun ada beberapa bayi yang bisa tidur nyenyak meski popoknya basah, bayi lain yang lebih sensitif mungkin akan merengek atau menangis sebagai tanda bahwa Moms perlu mengganti popoknya.

4. Perut kembung atau bergas

Sistem pencernaan bayi masih dalam tahap perkembangan, sehingga Si Kecil rentan mengalami perut kembung. Gas yang terperangkap di perut bisa menyebabkan rasa tidak nyaman atau nyeri, yang akhirnya membuat bayi menangis dalam tidurnya. Hal ini sering terjadi jika bayi menelan banyak udara saat menyusu.

Baca juga: Cara Jitu Mengatasi Perut Kembung pada Bayi

5. Sleep terrors (teror tidur)

Meski lebih jarang terjadi pada bayi di bawah 18 bulan, teror tidur bisa menjadi penyebab tangisan yang intens saat tidur. Tidak seperti mimpi buruk, teror tidur terjadi pada fase tidur dalam. Saat mengalaminya, bayi mungkin akan menangis histeris, menjerit, atau bergerak-gerak dengan mata terbuka, tetapi sebenarnya ia masih tertidur dan tidak sadar dengan sekelilingnya.

6. Butuh rasa aman

Bayi, terutama yang baru lahir, masih beradaptasi dengan dunia di luar rahim. Kadang-kadang, tangisan saat tidur adalah caranya mencari rasa aman dan kenyamanan dari kehadiran orang tua. Sentuhan lembut atau suara yang menenangkan dari Moms atau Dads bisa menenangkan tidurnya.

Cara mengatasi bayi menangis saat tidur

Melihat bayi menangis memang tidak mengenakkan, tetapi jangan panik. Moms bisa coba beberapa cara berikut untuk menenangkannya.

1. Tunggu sejenak dan amati

Sebelum langsung mengangkatnya dari tempat tidur, cobalah Moms tunggu beberapa menit. Sering kali bayi hanya menangis singkat saat transisi tidur dan akan kembali tenang dengan sendirinya. Mengintervensi terlalu cepat justru bisa membangunkannya sepenuhnya. Amati apakah tangisannya mereda atau justru makin kencang.

2. Pastikan kebutuhan dasarnya terpenuhi

Jika tangisan berlanjut, periksa hal-hal mendasar, seperti:

  • Periksa popoknya: Apakah sudah waktunya untuk diganti?
  • Cek waktu menyusu terakhir: Jika sudah lebih dari 2-3 jam, tawarkan Si Kecil susu. Bayi yang lapar sering kali akan langsung tenang setelah menyusu.
  • Perhatikan suhu ruangan: Pastikan bayi tidak kedinginan atau kepanasan.

3. Berikan sentuhan yang menenangkan

Jika kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi, cobalah berikan bayi sentuhan lembut. Usap punggung atau kepalanya dengan perlahan tanpa perlu mengangkatnya. Suara bisikan yang lembut seperti "sssttt" atau menyanyikan lagu Nina Bobo juga bisa sangat efektif untuk menenangkan Si Kecil kembali.

4. Bantu mengeluarkan gas

Jika Moms melihat tanda Si Kecil kembung, angkat ia dengan lembut dan coba sendawakan. Anda juga bisa membaringkannya telentang dan menggerakkan kakinya seperti sedang mengayuh sepeda untuk membantu mengeluarkan gas dari perutnya.

5. Ciptakan lingkungan tidur yang nyaman

Pastikan kamar tidur bayi gelap, sepi, dan sejuk. Beberapa bayi merasa lebih tenang dengan suara white noise, seperti suara kipas angin atau aplikasi white noise di ponsel, karena suara ini meniru suara yang didengar saat masih di dalam rahim.

6. Pertimbangkan untuk membedong

Untuk bayi baru lahir, bedong bisa memberikan rasa aman dan hangat seperti di dalam rahim. Ini juga dapat mencegah refleks kaget (Moro reflex) yang terkadang bisa membangunkannya dari tidur.

Baca juga: Langkah-Langkah Membedong Bayi yang Aman dan Nyaman

Kapan harus menghubungi dokter?

Meskipun sering kali tidak berbahaya, ada beberapa kondisi di mana Moms perlu waspada. Segera hubungi dokter anak jika tangisan bayi saat tidur disertai dengan gejala lain, seperti:

  • Demam tinggi
  • Kesulitan bernapas
  • Tangisan yang terdengar sangat kesakitan dan tidak biasa
  • Perubahan pola makan atau tidur yang drastis
  • Bayi tampak lesu dan tidak responsif.

Itulah penjelasan kenapa bayi menangis saat tidur. Fase ini tidak akan berlangsung selamanya, kok, Moms. Seiring dengan perkembangan sistem saraf dan pola tidurnya, Si Kecil akan makin mampu tidur dengan lebih nyenyak. (MB/AY/GP/Foto: Freepik)