Type Keyword(s) to Search
FAMILY & LIFESTYLE

Mengenal Sharenting dan Cara Bijak Menerapkannya Agar Privasi Anak Tetap Terlindungi

Mengenal Sharenting dan Cara Bijak Menerapkannya Agar Privasi Anak Tetap Terlindungi

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Setiap orang tua memiliki gaya pengasuhan tersendiri dalam mengasuh anak-anak mereka. Di era digital saat ini muncul istilah sharenting yaitu gaya pengasuhan di mana orang tua kerap berbagi cerita mereka tentang pengasuhan anak dalam format cerita, foto, dan video yang diunggah di media sosial. 

Sharenting ini bisa menjadi hal positif di mana orang tua bisa saling bertukar cerita dan mencari dukungan saat menghadapi berbagai fase dalam mengasuh anak. Namun di sisi lain, kebiasaan membagikan cerita pengasuhan atau kehidupan anak di ranah maya sepertinya harus menjadi pertimbangan. Pasalnya apapun yang kita unggah akan meninggalkan jejak yang melekat pada identitas anak hingga ia dewasa nanti. 

Agar tak terkesan mengikuti tren semata, MB mengajak Anda mengenal lebih dulu tentang sharenting, berbagai dampak yang mungkin timbul dari menerapkan gaya pengasuhan satu ini, hingga cara bijak menerapkan sharenting demi tetap melindungi privasi Si Kecil. 

Apa itu sharenting? 

Istilah sharenting merupakan gabungan dari dua kata bahasa Inggris, yaitu sharing (berbagi) dan parenting (pengasuhan). Kata ini merujuk pada kebiasaan orang tua yang secara rutin membagikan berita, foto, atau video anak-anak mereka di media sosial. Praktik ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup keluarga modern saat ini.

Tren sharenting ini didorong oleh orang tua milenial dan "momfluencer" yang beradaptasi dengan lingkungan digital. Fenomena ini pertama kali dicetuskan oleh The Wall Street Journal pada tahun 2012, yang menyoroti tren meningkatnya orang tua yang mendokumentasikan kehidupan anak-anak mereka secara online.

Bagi banyak orang tua, sharenting adalah cara membuat jurnal digital. Dokumentasi ini menjadi album kenangan yang mudah diakses kapan saja. Selain itu, berbagi pengalaman pengasuhan sering kali mendatangkan komentar positif dan saran bermanfaat dari sesama orang tua. Dukungan emosional dari komunitas maya ini sangat membantu menjaga kesehatan mental Moms dan Dads di tengah kesibukan sehari-hari.

Baca juga: Ini Cara Baru Mengasuh Anak Lewat New Earth Parenting

Apa dampak menerapkan sharenting bagi anak?

Niat awal dari sharenting tentu sangat baik. Di mana kita ingin berbagi dan menginspirasi sesama orang tua dalam mengasuh anak. Namun, memahami konsekuensi dari apa yang kita unggah di media sosial sangatlah penting. Berikut beberapa dampak yang mungkin dialami oleh anak akibat kebiasaan sharenting:

1. Terbentuknya jejak digital permanen

Segala sesuatu yang masuk ke internet akan sangat sulit untuk dihapus sepenuhnya. Foto anak saat sedang tantrum atau melakukan hal memalukan mungkin terlihat lucu bagi kita saat ini. Saat anak tumbuh remaja atau dewasa, jejak digital tersebut bisa membuatnya merasa malu atau tidak nyaman saat mencari pekerjaan maupun bergaul di lingkungan sosialnya.

2. Risiko pencurian identitas

Membagikan informasi seperti nama lengkap anak, tanggal lahir, dan lokasi rumah secara tidak sadar telah memberikan celah bagi pencuri identitas. Data-data ini dapat direkam dan disalahgunakan untuk membuat akun palsu atau melakukan penipuan yang mengatasnamakan identitas anak kita di masa depan.

3. Pelanggaran hak privasi anak

Anak-anak memiliki hak atas privasi mereka sendiri, meskipun mereka belum bisa mengungkapkannya. Saat kita terus-menerus membagikan setiap detail kehidupan mereka, kita secara tidak langsung mengambil hak mereka untuk menentukan cerita apa yang ingin mereka bagikan kepada dunia tentang diri mereka sendiri.

4. Rentan terhadap perundungan siber

Konten yang beredar luas di media sosial bisa menjadi bahan ejekan bagi teman-teman sebaya anak atau bahkan orang asing. Hal ini dapat memicu masalah emosional, menurunkan rasa percaya diri, dan menyebabkan trauma psikologis pada anak saat ia mulai memahami dunia pergaulan maya.

5. Bahaya predator online

Dampak paling menakutkan dari membagikan informasi terlalu detail adalah menarik perhatian predator anak. Membagikan lokasi sekolah, tempat bermain favorit, atau foto anak dengan pakaian yang minim dapat disalahgunakan oleh pihak yang memiliki niat buruk.

Bagaimana cara bijak menerapkan sharenting?

Sebagai pelindung utama anak, Moms memiliki kekuatan untuk menciptakan batasan yang aman. Berikut adalah langkah-langkah praktis dan penuh kasih yang bisa kita terapkan:

1. Atur privasi akun media sosial dengan ketat

Langkah pertama yang paling mudah adalah memastikan akun media sosial Anda terkunci atau bersifat private. Periksa kembali daftar pengikut atau teman Anda, dan pastikan Anda hanya berbagi dengan orang-orang yang benar-benar Anda kenal dan percayai di dunia nyata.

2. Biasakan meminta izin pada anak

Jika anak sudah cukup besar untuk berkomunikasi, ajak mereka berdiskusi sebelum mengunggah foto mereka. Tanyakan, "adik keberatan tidak kalau mama membagikan foto ini ke keluarga?." Kebiasaan ini mengajarkan mereka tentang otonomi tubuh, konsep persetujuan, dan cara menghargai privasi sejak dini.

Baca juga: 7 Tips Parenting yang Bisa Anda Coba untuk Anak Introvert

3. Hindari membagikan informasi pribadi dan spesifik

Pastikan foto yang diunggah tidak memperlihatkan nama sekolah pada seragam, alamat rumah, atau nomor telepon. Simpanlah detail tanggal lahir lengkap, nama lengkap, dan data penting lainnya hanya untuk dokumen resmi keluarga.

4. Matikan fitur penanda lokasi

Saat sedang berlibur atau menikmati waktu bersama di taman, nikmatilah momen tersebut sepenuhnya. Jika Anda ingin membagikan keseruannya, matikan fitur lokasi pada kamera smartphone Anda dan hindari melakukan check-in secara real-time. Anda selalu bisa mengunggah foto tersebut setelah kembali ke rumah.

5. Pikirkan perspektif masa depan anak

Sebelum menekan tombol unggah, tanyakan pada diri sendiri bagaimana perasaan anak ketika ia melihat konten tersebut sepuluh tahun dari sekarang. Jika ada keraguan bahwa foto tersebut bisa membuatnya merasa dipermalukan atau tidak nyaman, lebih baik simpan saja foto itu di galeri pribadi Anda.

6. Jaga kesopanan visual anak

Sangat penting untuk tidak pernah membagikan foto anak saat mereka sedang mandi, tidak berpakaian lengkap, atau dalam kondisi yang rentan. Hal ini adalah langkah krusial untuk melindungi mereka dari bahaya eksploitasi di dunia maya.

Berbagai cerita pengasuhan dan kehidupan anak di media sosial merupakan hal lumrah di era digital saat ini. Namun saat menerapkan sharenting, pastikan Moms melakukannya dengan kehati-hatian ekstra dan penuh kesadaran akan dampak jangka panjang dari setiap klik yang kita lakukan. (MB/Vonda Nabilla/RF/Foto: Freepik)